Jumat, 13 November 2009

Selaras Dengan Alam di Namo Landur


Alam telah memberikan yang terbaik bagi manusia, apabila kita menghargai dan menjaga keselarasannya maka hasil panen yang melimpah pun bisa didapatkan.

Udara sejuk pegunungan langsung menyambut kedatangan bila kita memasuki Desa Namo Landur kecamatan Namo Rambe. Desa yang sebahagian besar penduduknya berprofesi sebagai petani ini masih berada dalam wilayah administratifnya Kabupaten Deli Serdang.


Air pegunungan mengalir di parit-parit hingga ke petak-petak sawah, begitu segar-begitu jernihnya. Siapapun yang bertandang ke desa ini pastilah akan mengagumi kesuburan tanahnya.

Orang-orang sudah berkumpul di sawah, tangan mereka begitu cekatan mengayunkan arit di batangan padi yang sarat bulir. Hari ini saat panen tiba. ”Mantap kali panennya, padinya berisi, jadi berat kali rasanya” ujar salah seorang yang sedari tadi hilir mudik mengangkat tumpukan padi yang telah di arit.

Sekitar sepuluh orang yang ikut membantu prosesi panen tampak terheran-heran sebab bulir padi hasil panen kali ini lebih berat dan lebih banyak ketimbang yang lalu-lalu. Pak Aditya, tersenyum puas mendapati hasil panen dari lahan setengah hektarnya. Ia tak menyangka hasil panennya akan melimpah, sebab pada lahan setengah hektar yang baru ditanaminya padi itu, ia sama sekali tidak menggunakan pupuk-pupuk pabrikan layaknya sebahagian petani lainnya. Pak Aditya mengaku kalau lahan setengah hektarnya itu ia jadikan demplot percobaan untuk padi organik. Dari demplot itu kemudian ia merasakan bahwa menerapkan pola pertanian yang selaras dengan alam ternyata lebih murah dan lebih gampang, tidak seperti apa yang dibayangkannya dulu. Di sepanjang bantaran bedengan sawahnya, ia sengaja menanam rumput untuk pakan ternak lembunya. Kemudian dari kotoran lembunya, ia membuat pupuk sendiri untuk memupuk lahan pertaniannya. Untuk pembuatan pupuknya pun cukup sederhana. Pak Aditya mengungkapkan, untuk membuat pupuk bagi setengah hektar lahan pertaniannya itu, ia cukup menggunakan sepuluh kilogram kepala ikan busuk yang harganya sekitar tiga rupiah perkilogramnya kemudian ditambah dengan gula sebnayak enam kilogram, lalu ditambah dengan satu goni besar ukuran lima puluh kilogram kotoran lembu. semua bahan tersebut dimasukkan kedalam drum berukuran dua ratus liter air. Dua minggu kemudian pupuk buatan sendiri itupun siap digunakan.

”Ternyata lebih murah apabila kita menggunakan model pertanian yang selaras dengan alam. Di demplot setengah hektar saya ini, setelah saya hitung-hitung, saya hanya membutuhkan sekitar delapan puluh delapan ribu saja untuk membuat pupuk sendiri”

Pak Aditya kemudian menghitung-hitung jika seandainya ia menggunakan pupuk kimia pabrikan seperti kebanyakan petani lainnya, maka untuk pemupukan setengah hektar lahannya, ia harus menyediakan seratus kilogram pupuk SP 36 yang harganya mencapai tiga ribu rupiah perkilogram, kemudian ia harus pula membeli seratus limapuluh kilogram urea yang saat ini mencapai seribu lima ratus rupiah perbulannya. Selain itu, ia juga harus membeli lima puluh kilogram pupuk KCL yang harganya mencapai dua belas ribu rupiah perkilogramnya. Setelah ditotal maka ia harus mengeluarkan uang sebanyak satu juta seratus dua puluh lima ribu rupiah. Coba dibandingkan dengan membuat pupuk sendiri yang hanya menghabiskan sekitar delapan puluh delapan ribu seperti yang telah dilakukan oleh pak Aditya.


Kembali Pada Kearifan Lokal

Sebelum beralih pada pola pertanian yang selaras dengan alam, Pak Aditya mengaku sering kesusahan untuk mencukupi pasokan pupuk bagi lahan pertaniannya. Ia dan beberapa petani lainnya pernah diminta untuk membuat RDKK (Rencana Defenitif Kebutuhan Kelompok) oleh pemerintah tetapi kemudian jumlah pupuk yang didapatkan juga tidak sesuai dengan jumlah pupuk yang dibutuhkannya. Maka untuk memenuhi kebutuhan pupuknya, ia kemudian harus membeli lagi. Pupuk yang terkadang langka di pasaran dan semakin tingginya harga pupuk membuat petani seperti pak Aditya harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk mengolah lahan pertaniannya.

Melihat persoalan itu, kemudian pak Aditya berpikir keras untuk menemukan cara bagaimana ia bisa mengolah lahan pertaniannya tanpa harus mengeluarkan biaya yang tinggi. Kemudian berbekal pengalaman dan pelatihan yang didapatkannya dari Yayasan Bitra Indonesia, pak Aditya kemudian memutuskan untuk kembali pada kearifan lokal yang memang telah disediakan oleh alam

”Orang tua saya petani dan saya semenjak kelas satu sekolah dasar sudah ikut orang tua saya bertani, memang ketersediaan pupuk sering menjadi masalah utama bagi petani sekarang ini, makanya saya mencoba untuk membuat pupuk saya sendiri. Selain jauh lebih murah, bahan-bahan pembuatannya pun tersedia di alam ini.”

Dengan menggunakan pola pertanian selaras alam ini, selain bisa melepaskan pak Aditya dari jeratan pupuk kimia pabrikan yang hanya membuat petani merugi, ia juga bisa meningkatkan hasil jual panennya. Sebab harga beli padi organik selaras alam lebih tinggi ketimbang harga padi yang menggunakan pupuk kimia pabrikan. Dari lahan setengah hektarnya, pak Aditya berhasil memperoleh hasil panen 3 ton 478 kg yang kemudian dijualnya dengan harga Rp. 3500 perkilogramnya. Sementara, berdasarkan pengalamannya ketika masih menggunakan pupuk kimia, dengan hasil panen yang tidak jauh berbeda, ia hanya mampu menjual hasil panennya dengan harga Rp. 2700 perkilogramnya. Selain Pak Aditya, Pak Mardi, petani di Sudirejopun telah merasakan manfaat dari model pertanian selaras alam ini. Dengan menggunakan pupuk buatan sendiri, ia berhasil memperoleh hasil panen sebesar 3 ton 700 kg dari lahan yang juga setengah hektar.

Tidak hanya di Namo landur, kelompok petani di Desa Lubuk Bayas Dusun II kecamatan Perbaungan Kabupaten Serdang Bedagaipun telah beralih ke model pertanian selaras alam. Selain karena biaya produksi yang lebih murah, petani di desa ini mulai menyadari pentingnya faktor kesehatan dalam bertani dan hasil produksi pertanian mereka. Residu kimia dari pupuk dan racun yang mereka semprotkan tiap harinya menyebabkan kesehatan mereka terancam. Itulah kemudian yang membuat kelompok petani di Dusun II Lubuk Bayas ini lebih memilih model pertanian yang tidak menggunakan pupuk dan racun kimia pabrikan.

”Kami sudah tidak lagi menggunakan pupuk dan racun kimia, soalnya tidak baik bagi kesehatan kami dan orang-orang yang mengkonsumsi padi kami nantinya. Lagipula kami bisa buat sendiri pupuk dan racun yang bahan-bahannya bia didapatkan di alam ini” ungakp Susi, salah seorang petani di Dusun II Lubuk Bayas. Untuk membuat pupuk, kelompok petani di dusun II lubuk bayas ini memanfaatkan kotoran lembu. Lembu yang dipunyai kelompok ini mencapai 800 ekor. Untuk hama jeni ulat gulung, mereka menggunakan abu kayu bakaran batu. Sedangkan untuk ulat penggerek daun, kelompok petani di Lubuk Bayas ini menggunakan ramuan tembakau dan daun sirih yang direndam dengan dua liter air selama dua kali dua puluh empat jam lalu di semprotkan ke tanaman.

Model pertanian selaras alam yang diterapkan oleh kelompok-kelompok dampingan Bitra telah mampu membebaskan petani dari jeratan kapitalisme global yang memperdaya petani lewat praktek instan pupuk yang harganya semakin membuat petani jauh dari kesejahteraan dan keberdayaan. Pertanian selaras alam ini lebih menitik beratkan pada upaya bagaimana petani bisa menyelesaikan persoalan pertaniannya dengan menggunakan kearifan dan potensi lokal yang ada dengan tetap menjaga keseimbangan dan kelestarian alam guna peningkatan ketahanan pangan dimasa mendatang. (Teddy)


Baca selengkapnya...

Pulau Gambar; Perseteruan Sunyi Model Pertanian


Revolusi hijau telah memperkenalkan model pertanian modern yang serba instant dan sarat dengan produk kimia yang pada akhrinya memenjarakan petani kedalam sebuah bentuk ketergantungan dan biaya produksi yang melangit, sementara semenjak dulu nenek moyang kita telah belajar dari alam tentang model pertanian yang menghargai dan selaras dengan alam.


Bertandanglah kepulau gambar. Nama dari sebuah desa yang terletak di wilayah administratif Kabupaten Serdang Bedagai. Lintasilah ruas jalan desanya yang kecil dan belum beraspal. Di kedua sisi jalan itu, ada lautan sawah yang sebahagian padinya mulai menguning dan rumah-rumah bersahaja di jaga pepohonan. Menegaskan secara kasat mata bahwa desa ini adalah desa yang masih berdamai dengan alam.
Sekilas memang desa ini tampak biasa; Petani yang kebanyakan lelaki menjerang keringat di ladang dan persawahan, truk hilir mudik mengangkat hasil panen dan anak-anak sibuk dengan sekolahnya. Tetapi jika diamati lebih dalam, akan terlihat nuansa perseteruan antara kearifan lokal model pertanian tradisional yang kini semakin memudar dengan menjamurnya modernitas pola pertanian akibat dari gempuran revolusi hijau.

“saya sudah hampir sepuluh tahun menanam cabai. Dan kendala yang paling saya rasakan kalau pupuk lagi langka di pasaran, apalagi sekarang pupuk makin mahal dan susah untuk mendapatkan yang bersubsidi.” Ungkap Ponijo, salah seorang petani di desa itu yang menggantungkan hidupnya dari hasil panen setengah hektar ladang cabainya.
Langka dan mahalnya pupuk di pasaran membuat para petani kalang kabut memikirkan nasib sawah ladangnya yang (menurut sebahagian besar petani) takkan mungkin bisa menuai panen apabila tanaman dan tanah mereka tak diberi makan pupuk pabrikan. Ini merupakan salah satu gambaran nyata akibat dari pola pertanian modern yang pada akhirnya membuat petani kehilangan kemampuannya untuk mengatasi persoalan pertaniannya dengan menggunakan potensi lokal yang ada. Akibatnya, biaya selama proses tanam yang harus dikeluarkan petani semakin besar dan meningkat setiap tahunnya. Seperti yang dialami oleh Ponijo
“Sekarang ini semakin sulit, untuk setengah hektar ladang cabe saya itu modalnya kalau lima juta saja masih kurang; untuk beli bibit unggulnya, buat bedengannya. Belum lagi untuk plastik pembungkusnya. Tapi yang paling banyak makan biaya itu ya beli pupuk untuk perawatannya semisal HCL, P 36, CSP, NPK nya.”

Persoalan lain yang kemudian mencuat adalah mengenai jatuhnya harga jual hasil panen, sehingga tak jarang petani mengalami kerugian. Salah satu faktor yang menyebabkan hal ini terjadi adalah pola pertanian modern yang menerapkan model kawasan monokultur, dimana petani-petani di musim yang sama menanam jenis tanaman yang sama sehingga ketika musim panen-yang biasa disebut dengan panen raya komoditas, jumlah produk hasil panen melimpah. Akhirnya harga jualnya pun terjun bebas.

Nenek Yang Masih Bertahan
Diantara hiruk pikuk keluh kesah mahalnya pupuk pabrikan, Nek Sarkinem, begitu biasanya perempuan usia 54 tahun ini disapa. Tanpa beban mengayunkan cangkul di bedengan tanaman ubi jalarnya. Nek Sarkinem mengaku semenjak kecil ia sudah tinggal di desa ini bersama dengan neneknya. Menurut pemaparan Nek Sarkinem, dulu di desa ini petaninya tidak kenal sama yang namanya pupuk-pupuk pabrikan. soalnya-masih menurut nek Sarkinem, tanah di desa ini dulu sangat subur sekali. Nek sarkinem semenjak kecil ikut kakek neneknya bercocok tanam di desa ini dan mereka tidak memakai “pupuk beli” istilah nek Sarkinem untuk pupuk kimia pabrikan. tetapi menurutnya, hasil panennya tak kalah bagusnya dengan hasil panen sekarang yang kebanyakan sudah memakai pupuk beli itu tadi.

“Dulu waktu baru pertama kali pindah ke kampung ini, tanahnya masih sangat subur sekali . kakek nenek saya dulu nggak pernah pakai pupuk-pupuk beli kayak sekarang. Hasil panennya bagus-bagus. Malah lebih bagus dari yang sekarang ini. dulu sawah kami itu nggak pakai di semprot-semprot racun kayak sekarang ini, tapi hasil panennya tetap bagus-bagus dan segar” tutur nek Sarkinem sambil sesekali menyeka keringat di keningnya yang berkerut.

Meski tubuhnya telah ditaklukkan usia, tetapi semangat bercocok tanam tak pernah hilang dari kehidupannya. Di usia senjanya ini ia menyulap lahan sempit perkarangan rumahnya menjadi kebun-kebun padat tanaman. Di halaman depan rumahnya ada tiga bedengan ubi jalar yang masing-masing panjang bedengannya sekitar tiga meter.

Beberapa senti dari bedengannya, pohon-pohon terung mulai tumbuh. Belum lagi jajaran pohon pisang banten sebagai batas halamannya dengan parit. Disamping rumahnya, Nek sarkinem membangun apotik hidup; temulawak hidup makmur dilahan sempit itu. Di belakang rumahnya, ia menanam ratusan batang bayam. Nek sarkinem mengaku ia tak pernah memakai pupuk beli untuk merawat tetanamannya itu. Ia bisa membuat pupuknya sendiri. Nek sarkinem menggunakan Sisa jerami padi yang diendapkannya di kolong kandang kambingnya. Jerami-jerami padi itu kemudian menyatu dengan kotoran kambing. Setelah beberapa hari campuran itu kembali berbentuk seperti tanah.

Nah inilah asupan nutrisi yang di suguhkan Nek Sarkinem untuk tanamannya. Hasilnya, tanamannya tumbuh subur. Pengetahuan tentang membuat kompos ini didapat nek Sarkinem dari kakek neneknya dulu. Menurut nek Sarkinem, petani dulu tidak membakar jerami padinya seperti yang sering dilakukan petani jaman sekarang. Mereka mengolah jerami padi itu menjadi kompos untuk meningkatkan kesuburan tanah mereka. Selain itu nek Sarkinem juga menerangkan kalau kebiasaan menanam beberapa jenis tanaman di satu lahan juga didapatnya dari kebiasaan kakek-neneknya dulu.

Orang-orang dulu sering menyebutnya dengan nama tumpang sari. Selain itu, ia bercerita kalau petani-petani dulu tidak menanam jenis tanaman secara seragam. Masing-masing petani menanam jenis tanaman yang berbeda sesuai dengan hasil musyawarah para petani di kampung itu. Sehingga setiap panen, jenis tanamannya beragam, jadi harganya tidak turun karena persaingan harga. Dan hasil panenpun tidak semuanya dijual, sebahagian disimpan di dalam lumbung untuk kebutuhan sehari-hari. Dan para petani dulu masih sering bertukar hasil panen.

Tapi kini semuanya berubah, ketika panen tiba para petani mulai dijalari rasa khawatir kalau-kalau hasil panennya tidak habis terjual sebab hasil panen sekarang ini lebih cepat busuk kalau tidak diberi pengawet. Akibatnya banyak petani yang hasil panennya seragam pasrah dengan harga yang ditentukan oleh para pemborong dan tengkulak.

Meskipun tak lagi bercocok tanam di lahan yang luas seperti dulu, Nek Sarkinem tetap saja menumpahkan hasrat bercocok tanamnya di lahan sempit perkarangan rumah dan tetap menjaga tatacara bertani yang diajarkan kakek-neneknya dulu. Sebab ia meyakini bahwa cara bertani model dulu lebih mudah, murah dan menghargai alam.
(Teddy)

Baca selengkapnya...