![]() |
Baca selengkapnya...

Radio yang dikelola langsung oleh mayarakat ternyata mampu memberi dampak poitif perubahan yang begitu luas bagi pengembangan kapasitas dan kebersamaan kelompok mayarakat itu sendiri.
Siang cukup panas, debu mengangkasa dari jalan yang sebahagian belum selesai di aspal. Para petani yang sudah selesai mengurus sawah ladangnya kemudian melanjutkan tugas mencari rumput untuk pakan ternak. Tetapi berbeda dengan pak Yatimin yang biasa dipanggil Iwan. Pria berusia 47 tahun ini memacu sepeda motornya menuju sebuah rumah dipinggir jalan. Rumah asri dengan halaman yang cukup luas. Didepannya berdiri Tiang yang cukup tinggi, Tiang Pemancar Radio rupanya.
“Saya mau siaran dulu, nanti sore setelah selesai siaran baru cari rumputnya” ujar Pak Iwan dengan senyumnya yang khas.
Di dusun Tanjung Anom, Desa Tandem Hilir II Kecamatan Hamparan Perak Kabupaten Deli Serdang inilah tempat stasiun radio Mitra didirikan. Sebuah radio komunitas yang telah aktif mengudara semenjak tahun 2006 yang lalu. Radio ini berdiri atas prakarsa masyarakat bersama dengan Yayasan Bitra Indonesia yang melihat komunikasi antar warga yang sebahagian besarnya petani sebagai sebuah media perubahan yang baik sekaligus media efektif penyalur informasi mengenai hal-hal perkembangan dan isu-isu terkini pertanian.
Sarana Pengembangan Diri
Lir ilir tandure wes semilir, Ijo royo royo tak sengguh penganten anyar (lir ilir tanamannya sudah mulai hidup, warnanya hijau menghampar). Lagu Ilir dan Shalawat Badar yang dinyanyikan dalam bahasa jawa langsung mengudara sampai ke radio-radio ketika Pak Iwan dengan piawai memulai aksinya sebagai penyiar. Ia terlihat tidak canggung lagi membawakan acara campur sari yang sudah tiga tahun lebih dibawakannya. Meskipun tidak memiliki latar belakang pendidikan penyiaran, tetapi Pak Iwan dan dua puluh lima orang penyiar aktif lainnya tak kalah piawainya jika dibandingkan dengan penyiar kawakan lainnya. Pengalaman memang guru yang paling baik.
“Tiga bulan setelah radio jalan, saya dipanggil kawan-kawan untuk ikut jadi penyiar di radio ini. Awalnya saya gugup tapi lama kelamaan saya terbiasa dan sangat menyenangi kegiatan ini”
Pak Iwan mengakui sangat bersyukur dengan kehadiran radio ini. Semenjak bergabung, ia merasakan perubahan positif dan kemajuan dalam dirinya. Tetapi yang lebih membuat dirinya mencintai kegiatan sebagai penyiar di radio komunitas ini adalah dirinya bisa ikut terlibat aktif dalam hal menyampaikan informasi-informasi yang berguna bagi petani. Pak Iwan mengaku sering mendengar dan menyampaikan keluhan petani mengenai pupuk yang semakin susah didapat dan harganya yang semakin tinggi lalu menjadikannya sebagai topik pembahasan untuk menemukan solusinya.
Bagi pak Iwan, menjadi penyiar di Radio bukanlah untuk mencari penghasilan tetapi lebih kepada bentuk pengabdiannya bagi perubahan masyarakat.
“Saya sehari-harinya bekerja sebagai buruh tani. Jadi untuk memenuhi kebutuhan dasar saya dan keluarga saya ya dari hasil sebagai buruh tani itu. Di radio Mitra ini, saya Cuma dapat pengganti transport saja yang uang nya berasal dari pembelian kupon. Tetapi saya tetap mencintai kegiatan saya sebagai penyiar radio di sini karena di Mitra ini saya dapat lebih mengembangkan diri saya selain saya jadi punya banyak kawan dan saudara serta bisa ikut menyebarkan informasi-informasi yang berguna bagi masyarakat” tutur pak Iwan, roman bahagia terpancar di wajahnya.
hal senada juga di utarakan Arum, salah seorang penyiar wanita yang ada di radio itu. Meskipun baru tiga bulan menjadi penyiar, Arum mengaku sangat senang dan telah merasakan manfaat positif atas kehadiran radio ini.
“Jadi penyiar itu gak ada sedihnya, senang terus. Semenjak jadi penyiar teman saya jadi makin banyak” ujar Arum yang semenjak menjadi penyiar di Mitra langsung di percaya untuk membawakan siaran di radio Pemda Stabat.
Radio Untuk bersama
Sambutan baik akan kehadiran radio ini tidak hanya datang dari penyiar saja, tetapi juga dari masyarakat pendengar. Hal ini terbukti dengan terus bertambahnya jumlah anggota dan fans yang tersebar di tujuh wilayah; langkat, stabat, secanggang, labuhan deli, wampu, hinai dan binjai utara. Saat ini jumlah anggota radio yang disebut dengan foker sudah mencapai tiga ratus orang lebih. Foker ini bukan saja sekedar anggota tetapi juga merupakan pemegang saham radio.
Menjadi anggota foker sekaligus pemegang saham radio ini pun tidak sulit, kita tinggal menggabungkan diri kedalam kelompok-kelompok foker yang sudah ada atau jika belum ada kelompok foker di daerah kita, kita bisa membentuknya lalu mendaftarkannya ke radio. Tabungan saham perbulannya yang menjadi kewajiban anggota foker pun tidak mahal, hanya seribu rupiah setiap bulannya.
Selain menjadi pemegang saham sekaligus pemilik radio, keuntungan lain yang didapat oleh anggota foker adalah pelatihan-pelatihan peningkatan kapasitas diri yang sering diselenggarakan oleh radio maupun Yayasan Bitra Indonesiapun bisa diikuti.
Pertemuan bulanan antara anggota foker dan fans lainnya yang sering disebut dengan kopi darat juga menjadi sebuah momen tersendiri. Pertemuan ini di adakan satu bulan sekali. pada kesempatan inilah antar anggota dan fans yang biasanya bertegur sapa lewat udara bisa bertatap muka langsung. Pada pertemuan ini juga dilakukan muyawarah untuk membahas perkembangan dan perencanaan mengenai radio kedepannya.
Saling Peduli Saling Berbagi
Berpadu dalam kata, bersatu dalam kerja bersama meraih cita. Kalimat yang terpampang di ruang siaran itu menggambarkan bahwa kehadiran radio komunitas ini tidak hanya untuk saling bertegur sapa dan bertukar informasi, tetapi juga untuk meningkatkan solidaritas terhadap persoalan-persoalan sosial di ruang lingkup masyarakat pendengarnya.
“Kita tidak hanya fokus pada penyiaran saja, tetapi kita juga aktif dalam kegiatan-kegiatan sosial. Misalnya, waktu itu ada salah seorang fans kita yang rumahnya terbakar, kita langsung siarkan di radio dan langsung semua pendengar dan anggota foker menggalang bantuan dan datang membantu. Pernah juga ada kejadian angin ribut yang menghancurkan rumah fans, kita juga respon dengan cepat ” ungkap Tohir seorang pengurus radio.
Kini, Radio Komunitas Mitra telah memiliki program dompet peduli yang aktif untuk ikut terlibat dalam kegiatan-kegiatan sosial. Penggalangan dompet peduli ini dilakukan setiap satu bulan sekali saat pertemuan bulanan seluruh masyarakat pendengar dilakukan. Dompet peduli ini kemudian dibagi kedalam lima peruntukan yaitu; bencana alam, sumbangan anak yatim, pembangunan rumah ibadah, tabungan kas dan untuk membantu swadaya pertemuan yang dikeluarkan oleh tuan rumah penyelenggara pertemuan. Tetapi biasanya menurut Tohir, Tuan rumah penyelenggara mengembalikan kembali uang itu untuk ditabung di kas, guna sumbangan sosial apabila ada anggota yang mendapat kemalangan, sakit maupun melahirkan.
Tidak hanya berhenti pada kegiatan-kegiatan sosial yang sudah rutin dilakukan, anggota kelompok radio ini juga aktif dalam kegiatan-kegiatan yang menitik beratkan pada perubahan pola pikir untuk ikut mencintai dan menjaga lingkungan. Berbekal pengalaman dan ilmu yang didapat dari pelatihan-pelatihan yang sering diadakan oleh Pengurus Radio maupun Yayasan Bitra Indonesia, anggota kelompok juga aktif dalam melakukan kampanye pengolahan lahan pertanian yang selaras dengan alam dan kesehatan alternatif yang menggunakan ramuan-ramuan tanaman obat tradisional.
Dalam waktu dekat ini, pengurus radio juga merencanaklan akan melakukan aksi penghijauan dengan menanam dua puluh ribu pohon mahoni dan tanaman obat. Untuk itu seluruh anggota dan masyarakat pendengar yang ikut berpartiipasi sudah mulai melakukan pembibitan yang kemudian akan disumbangkan untuk acara penghijauan nantinya.
Berpadu dalam kata, bersatu dalam kerja bersama meraih cita. semangat untuk menuju perubahan kearah yang lebih baik dari segala sisi menjadi deru nafas aktivitas radio yang dikelola langsung oleh kelompok mayarakat ini. Pengalaman memberikan mereka keahlian tersendiri untuk bisa mengembangkan sebuah radio sehingga bisa menghasilkan perubahan positif yang nyata. Tak hanya di desa Tandem Hilir II ini saja Yayasan Bitra Indonesia terlibat aktif dalam memberikan ruang dan kesempatan bagi kelompok masyarakat untuk bisa mengembangkan radio komunitas. Di beberapa desa lainpun Yayasan Bitra Indonesia telah berhasil menciptakan hal serupa.
Sore menjelang, Pak Iwan keluar dari ruang siaran. Dengan senyum bahagia ia langsung menuju sepeda motornya; “Saya mau ngarit rumput untuk pakan ternak dulu” ujarnya, suka cita tergambar jelas di raut wajahnya. Tak ada waktu yang terbuang sia-sia. Lantunan lagu masih terdengar dari dalam ruang siaran, mbak Arum melanjutkan siaran sambil membacakan pesan-pean yang masuk lewat kertas kupon dan isi pesan di ponselnya. Lir ilir tandure wes semilir, Ijo royo royo tak sengguh penganten anyar (lir ilir tanamannya sudah mulai hidup, warnanya hijau menghampar) lagu lir Ilir dan shalawat badar kembali mengudara di sore yang cerah itu. (Tedy)

Pasca reformasi tahun 1998, perjalanan kehidupan bernegara dan bermasyarakat di Indonesia memasuki tahapan baru yaitu tidak pernah terlepasnya warga negara dari carut marut konflik sosial. Melihat catatan perjalanan bangsa ini, Indonesia bisa dikatakan sebagai negara yang sarat dengan konflik sosial
Segala Bentuk benturan sosial yang berlangsung akibat dari konflik sosial, akan selalu berdampak sama yaitu; kekalahan masyarakat lemah yang berimplikasi pada stress sosial, kepedihan dan kehancuran asset-aset material dan non material yang ditandai dengan hilangnya kepercayaan diantara pihak yang bertikai, rusaknya hubungan jaringan sosial dan hilangnya kepatuhan pada tata aturan norma dan tatanan sosial yang berlaku.
Di Sumatera Utara sendiri, konflik yang cukup tinggi intensitasnya adalah konflik agraria dan konflik industri yang merupakan gambaran konflik antar ruang. Bisa konflik antar komunitas dengan pemerintah, Pihak Swasta atau Badan Usaha yang berorientasi profit. Contohnya konflik agraria yang terjadi di Desa Pergulaan, Bangun Purba dan konflik lainnya di daerah Tapanuli Selatan, Madina, Paluta serta daerah lainnya. Melihat tingginya intensitas konflik agraria di sumatera utara ini, selama tiga hari mulai dari tanggal 08 hingga 10 Agustus 2009 yang lalu, Yayasan Bitra Indonesia menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan reolusi konflik. Peserta yang hadir didalam pelatihan ini berasal dari kelompok petani dampingan Bitra yang tengah mengalami konflik agrarian dan yang memiliki potensi akan mengalami konflik agrarian di lahan pertaniannya.
“Kita harapkan peserta dapat melakukan identifikasi terhadap gejala konflik kemudian mampu melakukan manajemen konflik sehingga dampak negatif dari konflik bisa dihindari dan kelompok-kelompok rakyat kedepannya bisa menyusun strategi untuk bisa menangani kasus-kasus ketidak adilan khususnya yang berkaitan dengan sektor agraria ”ungkap Hawari, staff divisi Advokasi Yayasan Bitra Indonesia.
Pendidikan dan pelatihan yang diadakan selama tiga hari ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman peserta mengenai resolusi konflik sehingga kedepannya peserta akan mampu memahami tahapan dalam proses penyelesaian konflik yang dihadapi serta mampu menyusun strategi penyelesaian konflik berdasarkan analisis kasuistik yang pada akhirnya akan menumbuhkan kemampuan kelompok rakyat untuk melakukan penyelesaian konflik secara mandiri. (Tedy)

Sekitar delapan belas orang perwakilan dari tiap kelomppok petani kakao dampingan Yayasan Bitra Indonesia berkumpul di aula Training Center Sayum Sabah pada tanggal 23 Februrai 2009 yang lalu. Para petani coklat ini mengikuti pelatihan peningkatan mutu biji kakao yang di selenggarakan oleh Yayasan Bitra Indonesia. Pelatihan ini juga di hadiri oleh pengurus Koperasi Pemasaran Bersama Usaha Tani (KPBUT) yang telah beberapa kali melakukan lelang kakao. Kualitas biji kakao merupakan salah satu syarat mutlak yang harus dipenuhi para petani kakao agar hasil produksinya bisa bernilai tinggi. Selain itu, kualitas biji kakao ini pun menentukan posisi tawar petani kakao di dalam persaingan pasar.
“Sering kali petani kakao merasa tidak begitu penting untuk memenuhi standart mutu biji kakao sebab mulai dari standart mutu yang jelek sampai yang bagus, biji kakao tetap laku dipasaran. Padahal dengan memenuhi standart mutu biji kakao maka petani akan memiliki posisi tawar untuk menentukan harga” Ujar Anta, salah seorang staff divisi community development Yayasan Bitra Indonesia.
Pelatihan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada peserta tentang bagaimana tata cara meningkatkan mutu biji kakao. Selain itu peserta juga diberikan pemahaman mengenai bagaimana cara mengetahui biji kakao yang memiliki standard ekspor. Sehingga kedepannya diharapkan para peserta mampu memproduksi biji kakao dengan kualitas ekspor kemudian menjualnya secara bersama agar bisa mendapatkan harga jual yang sesuai dengan standart ekspor internasional.
Mutu biji kakao ini menjadi begitu penting. berdasarkan pengalaman, Koperasi Pemasaran Bersama Usaha Tani pernah mengalami kerugian akibat kualitas biji kakao yang dilelang tidak memenuhi standart mutu ekspor sehingga eksportir membelil biji kakao dibawah harga standard ekspor.
“Kalau kita mau meningkatkan kualitas biji kakao, maka bukan hanya panennya saja yang perlu diperhatikan, tetapi kita harus memberikan perhatian pada manajemen lahan kakao itu sendiri. Yang pertama, kualitas mutu biji kakao ditentukan oleh bahan tanamannya (klon). Setelah itu Pemeliharaannya. Pada pemeliharaan dua hal yang perlu diperhatikan adalah pemangkasan dan pemupukannya. Faktor selanjutnya yang juga menentukan kualitas biji kakao adalah faktor pengendalian hama penyakit. Ketiga faktor inilah yang disebut dengan manajemen lahan kakao itu tadi. selain manajemen lahan, perilaku pada saat panen dan paska panen pun juga menjadi penting guna peningkatan mutu biji kakao”. Ungakp Alam salah pemateri yang membagi pengalaman mengenai tekhnik dan cara peningkatan kualitas mutu biji kakao.
Selain membicarakan mengenai tatacara peningkatan kualitas biji kakao, pada pelatihan ini juga dibahas mengenai pentingnya koperasi untuk meningkatkan kesejahteraan petani kakao. Banyak keuntungan yang akan didapat petani kakao apabaila ia berkelompok kemudian membentuk koperasinya sendiri, selain untuk peningkatan kapaitas diri, koperasi juga merupakan salah satu wadah perjuangan yang efektif bagi petani kakao untuk bisa merebut peluang dan harga yang adil di pasaran. Sehingga harga tidak lagi ditentukan oleh pedagang. Dengan menjual hasil panen secara bersama melalui lelang kakao yang sudah beberapa kali dilakukan oleh SPBUT maka para petani kakao memiliki posisi tawar yang tinggi dalam menentukan harga. Apalagi jika dibarengi dengan kualitas biji kakao yang memenuhi standard ekspor, maka petani kakao pun secara berama-sama akan bisa menembus harga jual yang sesuai dengan standard ekspor pula.(Tedy)

Krisis pangan yang melanda dunia paska perang dunia kedua ternyata berdampak pada kenaikan harga pangan yang diperkirakan akan terus berlangsung sampai tahun 2015 . kenaikan harga pangan tersebut menyebabkan lebih dari 100 juta manusia dari setiap benua mengalami kelaparan. Peristiwa yang kemudian dikenal dengan silent Tsunami ini telah membawa perubahan besar pada pola pertanian di dunia termasuk Indonesia.
Perubahan pola pertanian ini kemudian dikampanyekan lewat gerakan revolusi hijau, sebuah gerakan percepatan produksi pertanian dengan menggunakan banyak senyawa kimia untuk merangsang tanaman. Untuk hasil jangka pendek gerakan revolusi hijau mungkin dinilai mampu mengurangi krisis pangan tersebut, tetapi dampaknya sangat negatif bagi ketahanan pangan dimasa mendatang sebab senyawa kimia yang dipakai akan tinggal ditanah dan membunuh biodiversity dalam tanah sehingga kesuburan tanah akan hilang dan tanah menjadi keras sehingga tanaman tidak dapat bertahan hidup. Revolusi hijau tidak hanya menyebabkan petani menjadi ketergantungan terhadap pemakaian bahan-bahan kimia tetapi juga telah menggerus kearifan lokal turun temurun petani mengenai pola tanam para petani Indonesia yang menghargai ekosistem, kesehatan, kelestarian alam dan keanekaragaman hayati.
Demi peningkatan produktivitas jangka pendek, banyak petani kemudian menerapkan pola tanam monokultur yang pada akhirnya membuat petani kehilangan posisi tawar di pasaran, sebab jika musim panen tiba maka petani akan menghasilkan produk yang sama sehingga hasil panen yang sama akan membanjiri pasaran, jika sudah demikian maka harga jualnyapun menjadi anjlok. Model Monokultur pada pertanian sebenarnya telah menghilangkan keanekaragaman hayati dilahan pertanian dan menggantikannya pada satu jenis tanaman saja. Tentu saja hal ini akan berakibat pada hilangnya keaneka ragaman hayati yang di miliki Indonesia di tahun-tahun kemudian. Selain itu model pertanian monokultur juga pada akhirnya akan memberi beban lebih pada para petani ditiap musim tanamnya sebab model pertanian monokultur ini dalam pengelolaannya sangat bergantung sekali pada input dari luar seperti pupupk dan racun kimi sintetik, permukaan lahan pertanian monokultur yang harus selalu datar, menyebabkan pola pertanian ini juga angat bergantung pada mesin-mesin pertanian. Semua ketergantungan terhadap barang luar tersebut pada akhirnya menyebabkan petani terbebani biaya besar selama proses tanamnya dan harus urut dada sebab ketika panen tiba kemungkinan besar harga jualnya akan anjlok dikarenakan hasil panen yang sama membanjiri pasaran. Dengan segala ketergantungan di dalam model pertanian monokultur tentunya akan menjauhkan petani dari kesejahteraan meskipun harga beli pangan di konsumen terus saja naik. Petani kini harus bisa berpikir bijak untuk menata kesejahteraannya dengan memilih model pertanian yang bisa selaras dengan alam dan berkelanjutan di masa mendatangnya.
Menata masa depan dengan Polikultur
Polikultur berasal dari kata poli yang artinya banyak dan kultur artinya budaya, dalam konteks pertanian polikultur dapat diartikan sebagai pola pertanian dengan banyak jenis tanaman pada satu bidang lahan. polikultur bukan berarti pola pertanian gado-gado yang tidak terencana. Tetapi melainkan pola pertanian yang terusun dan terencana dengan menerapkan aspek lingkungan yang lebih baik. Keanekaragaman di dalam polikultur tidak hanya semata dari jenis tanaman (hayati) tetapi keanekaragaman polikultur juga mengkaitkan hewan ternak sebagai satu bagian rantai kehidupan did alam pertanian. Pola pertanian polikultur ini tidaklah sama dengan pola pertanian tumpang sari. Tumpang sari hanya menggunakan tanaman semusim. Sedangkan polikultur dalam hal ini lebih sebagai kombinasi antara tanaman semusim dan tanaman tahunan untuk jangka panjangnya. Pertanian polikultur yang berhasil akan mampu memperbaiki kondisi ekosistem lingkungan. Tanaman yang dikembangkan mempunyai hubungan simbiosis dan sinergis sehingga dapat membangun ekosistem yang sempurna dan stabil. Oleh karena itu sistem pertanian polikultur dapat pula didefinisikan sebagai sebuah metode pertanian yang memadukan lebih dari empat jenis tanaman lokal bernilai ekonomis pada sebuah ekosistem lahan secara terpadu. sebuah upaya pemadatan areal dengan berbagai tanaman untuk perbaikan kondisi tanah (konservasi) sekaligus menciptakan nilai tambah ekonomi. Hal ini menjadi mungkin dalam pola pertanian polikultur karena dalam pertanian polikultur, segala asupan dari luar seperti pupuk pabrikan dan racun kimia bukan menjadi hal penentu keberhasilan pertanian sehingga pola pertanian polikultur dapat menekan biaya yang harus dikeluarkan petani untuk mengelola lahannya. Bentuk perawatan seperti pemupukan dan pengurangan serangan hama dalam pola pertanian polikultur menggunakan potensi lokal yang ada dengan cara membentuk siklus kehidupan dan rantai makanan alami. Untuk Pupuk misalnya, maka petani yang menerapkan pola pertanian polikultur akan menggunakan potensi dari olahan kotoran ternak yang merupakan bagian dari pertanian polikulturnya. Kemudian untuk pengurangan tingkat serangan hama petani akan menciptakan sebuah siklus rantai makanan yang didalamnya terdapat musuh alami dari hama tersebut selain menggunakan ramuan alami. Sehingga reduksi racun kimia yang dapat menghancurkan kesuburan tanah dapat dihindari. Pertanian polikultur juga memberi peluang yang cukup signifikan bagi peningkatan ekonomi petani lewat usaha tambahan yang sinergis dengan siklus kehidupan di lahan pertanian polikultur semisal budidaya ternak, penggemukan sapi, dll. Jadi dengan menerapkan model pertanian polikultur, selain bisa menekan besaran angka biaya produksi dan menambah pendapatan dengan keragaman hasil panen yang bisa dipasarkan ditambah lagi dengan budidaya ternak, model polikutur juga menjamin kesuburan lahan pertanian sehingga hasil panen yang baik akan tetap bisa dirasakan kedepannya. Dengan demikian persoalan peningkatan ekonomi dan krisis pangan akan bisa diatasi tanpa harus memeras dan menyiksa bumi dengan segala bentuk racun sintetis dan penghilangan keanekaragaman hayati yang telah dilahirkannya.(Tedy)

Medan - Penganugerahan terhadap 30 film dan insan perfilman yang berkompetisi dalam Festival Film Anak (FFA) 2009 yang diselenggarakan Pusat Kajian dan Perlindungan Anak (PKPA) berkolaborasi dengan komunitas film Sumatera Utara berlangsung meriah.
Ketua Panitia Pengarah Ahmad Sofian mengatakan, Festival Film Anak (FFA) Medan 2009 merupakan ajang kreatifitas yang bertujuan mendorong anak-anak untuk berkreasi dalam rangka implementasi hak partisipasi anak, termasuk di dalamnya mengemukakan pendapat, berkumpul dan berekspresi.
“Ini merupakan FFA tahun kedua dengan menghadirkan 30 film karya partisipasi anak dari Sumatera Utara, Jawa Timur, Jawa Tengah dan Nanggro Aceh Darussalam (NAD), tingkat partisipasi anak meningkat lebih dari seratus persen dibanding FFA 2008 yang menghadirkan 17 film dari Sumatera Utara, NAD, Jawa Barat dan Jawa Timur,” kata Sofian kepada wartawan Senin Malam (30/11) di Medan.
Selain dihadiri oleh aktor kawakan Didi Petet dan aktifis perlindungan anak Arist Merdeka Sirait sebagai Dewan Juri, malam penganugerahan FFA Medan 2009 juga dihadiri tamu istimewa Seto Mulyadi atau yang akrabnya disapa Kak Seto.
Turut hadir, Wakil Gubernur Sumatera Utara Gatot Pujonugroho, ST, wakil Bupati Serdang Bedagai Ir. H. Soekirman dan Puteri Sumut Fatimah Syahnur Lubis.
Didi Petet dalam sambutannya mengatakan, FFA adalah festival film anak pertama di Indonesia yang diharapkan dapat memajukan dunia perfilman nasional.
“Medan harus mampu menjadi kiblat perfilman anak, dan pemerintah harus melihat ini sebagai aset budaya, semua pihak harus mendukung sehingga gaung FFA tidak saja secara nasional tetapi bisa internasional,” cetus Didi.
Ketua KOMNAS Perlindungan Anak, Seto Mulyadi dalam sambutannya mengatakan, pada dasarnya anak adalah kreatif, lingkungan dan sistem pendidikan yang membuat kreatifitas anak menjadi mati.
“Melalui media FFA ini kami harapkan dapat memicu semangat anak-anak untuk berkreasi,” kata Kak Seto.
Wakil Gubernur Sumatera Utara Gatot Pujonugroho menerangkan, pemerintah Sumatera Utara menyambut baik dilaksanakannya Festival Film Anak sebagai kegiatan tahunan yang mampu memajukan kebudayaan dan pariwisata di Sumut.
“Potensi anak-anak Sumatera Utara beberapa propinsi di Indonesia yang luar biasa ini harus untuk didukung oleh semua pihak sehingga dapat menjadi aset pembangunan di masa depan,” katanya.
Selain memutar trailer 30 film peserta FFA 2009, hiburan di malam penganugerahan yang dihadiri 800 pasang mata ini juga menampilkan seniman anak dari pertukaran pelajar Jepang-Indonesia dan Flowrens Band binaan SKA PKPA.
Dalam pembacaan penganugerahan yang dibacakan sponsor, komunitas film, dewan juri dan panitia, diumumkan pemenang film kategori fiksi dan dokumenter, serta insan perfilman anak kategori fiksi dan dokumenter.
Film pemenang untuk kategori dokumenter adalah Juara 1 Kami Kelas 2 A, produksi Lapas Anak Medan, Sumut; Juara 2 Peluh Sang Iwan produksi SMA Sri Mersing Tanjung Pura Langkat Sumut, Juara III Info Sekolah Produksi SMA 4 Lhokseumawe NAD, juara favorit Ari Electric produksi SMK Telkom Sandhy Putra Medan.
Sedangkan untuk produksi film fiksi pemenangnya adalah Juara I Baju Buat Kakek produksi Sawah Artha Film/ SMP Satu Atap Karangmoncol Purbalingga Jatim; Juara II Melompat Sejauh Mimpi produksi Inside production, Malang; Juara III Tetap Semangat produksi Abah Production Medan, Sumut, juara Favorit Hadiah Terindah produksi Q-can production Gunungsitoli, Nias Sumut.
Untuk insan perfilman berpersfektif anak penghargaan terbaik untuk kategori dokumenter diberikan kepada Ardi Syahputra sebagai Sutradara terbaik dalam film Kami Kelas II A, Danu sebagai editor terbaik dalam film Info Sekolah, Wandi sebagai ide cerita terbaik dalam film Peluh Sang Iwan dan Berty Nainggolan sebagai narator terbaik dalam film Annai Velangkali.
Insan perfilman berpersfektif anak penghargaan terbaik untuk kategori fiksi diberikan kepada Andhika Thelambanua dalam film Impian Anakku, aktris terbaik Narti dalam film Baju Buat Kakek, editor terbaik M Taufik Pradana dalam film Gulungan Uang, Rizkan Jania MN sebagai ide cerita terbaik dalam film Hadiah Terindah, Jenthro sebagai penata suara terbaik dalam film Melompat Sejauh Mimpi, dan Fachri Anziar sebagai setter/ artistik terbaik dalam film Aku Nak Merantau.
Film-film dan sineas muda terbaik ini diperoleh berdasarkan hasil sidang penjurian yang berlangsung di Royal Perintis Hotel, Jalan Parintis Kemerdekaan Medan, Minggu (29/11) dengan Dewan juri terdiri dari Didi Widiatmoko (Didi Petet/ aktor), Arist Merdeka Sirait (Sekjen Komnas PA), Onny Kresnawan (Sutradara), Marhamah (Biro PP Anak dan KB Sekdaprovsu) dan Siti Fatima Syahnur Lubis (Putri Sumut). (Jufri Bulian Ababil)

Alam telah memberikan yang terbaik bagi manusia, apabila kita menghargai dan menjaga keselarasannya maka hasil panen yang melimpah pun bisa didapatkan.
Udara sejuk pegunungan langsung menyambut kedatangan bila kita memasuki Desa Namo Landur kecamatan Namo Rambe. Desa yang sebahagian besar penduduknya berprofesi sebagai petani ini masih berada dalam wilayah administratifnya Kabupaten Deli Serdang.
Air pegunungan mengalir di parit-parit hingga ke petak-petak sawah, begitu segar-begitu jernihnya. Siapapun yang bertandang ke desa ini pastilah akan mengagumi kesuburan tanahnya.
Orang-orang sudah berkumpul di sawah, tangan mereka begitu cekatan mengayunkan arit di batangan padi yang sarat bulir. Hari ini saat panen tiba. ”Mantap kali panennya, padinya berisi, jadi berat kali rasanya” ujar salah seorang yang sedari tadi hilir mudik mengangkat tumpukan padi yang telah di arit.
Sekitar sepuluh orang yang ikut membantu prosesi panen tampak terheran-heran sebab bulir padi hasil panen kali ini lebih berat dan lebih banyak ketimbang yang lalu-lalu. Pak Aditya, tersenyum puas mendapati hasil panen dari lahan setengah hektarnya. Ia tak menyangka hasil panennya akan melimpah, sebab pada lahan setengah hektar yang baru ditanaminya padi itu, ia sama sekali tidak menggunakan pupuk-pupuk pabrikan layaknya sebahagian petani lainnya. Pak Aditya mengaku kalau lahan setengah hektarnya itu ia jadikan demplot percobaan untuk padi organik. Dari demplot itu kemudian ia merasakan bahwa menerapkan pola pertanian yang selaras dengan alam ternyata lebih murah dan lebih gampang, tidak seperti apa yang dibayangkannya dulu. Di sepanjang bantaran bedengan sawahnya, ia sengaja menanam rumput untuk pakan ternak lembunya. Kemudian dari kotoran lembunya, ia membuat pupuk sendiri untuk memupuk lahan pertaniannya. Untuk pembuatan pupuknya pun cukup sederhana. Pak Aditya mengungkapkan, untuk membuat pupuk bagi setengah hektar lahan pertaniannya itu, ia cukup menggunakan sepuluh kilogram kepala ikan busuk yang harganya sekitar tiga rupiah perkilogramnya kemudian ditambah dengan gula sebnayak enam kilogram, lalu ditambah dengan satu goni besar ukuran lima puluh kilogram kotoran lembu. semua bahan tersebut dimasukkan kedalam drum berukuran dua ratus liter air. Dua minggu kemudian pupuk buatan sendiri itupun siap digunakan.
”Ternyata lebih murah apabila kita menggunakan model pertanian yang selaras dengan alam. Di demplot setengah hektar saya ini, setelah saya hitung-hitung, saya hanya membutuhkan sekitar delapan puluh delapan ribu saja untuk membuat pupuk sendiri”
Pak Aditya kemudian menghitung-hitung jika seandainya ia menggunakan pupuk kimia pabrikan seperti kebanyakan petani lainnya, maka untuk pemupukan setengah hektar lahannya, ia harus menyediakan seratus kilogram pupuk SP 36 yang harganya mencapai tiga ribu rupiah perkilogram, kemudian ia harus pula membeli seratus limapuluh kilogram urea yang saat ini mencapai seribu lima ratus rupiah perbulannya. Selain itu, ia juga harus membeli lima puluh kilogram pupuk KCL yang harganya mencapai dua belas ribu rupiah perkilogramnya. Setelah ditotal maka ia harus mengeluarkan uang sebanyak satu juta seratus dua puluh lima ribu rupiah. Coba dibandingkan dengan membuat pupuk sendiri yang hanya menghabiskan sekitar delapan puluh delapan ribu seperti yang telah dilakukan oleh pak Aditya.
Kembali Pada Kearifan Lokal
Sebelum beralih pada pola pertanian yang selaras dengan alam, Pak Aditya mengaku sering kesusahan untuk mencukupi pasokan pupuk bagi lahan pertaniannya. Ia dan beberapa petani lainnya pernah diminta untuk membuat RDKK (Rencana Defenitif Kebutuhan Kelompok) oleh pemerintah tetapi kemudian jumlah pupuk yang didapatkan juga tidak sesuai dengan jumlah pupuk yang dibutuhkannya. Maka untuk memenuhi kebutuhan pupuknya, ia kemudian harus membeli lagi. Pupuk yang terkadang langka di pasaran dan semakin tingginya harga pupuk membuat petani seperti pak Aditya harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk mengolah lahan pertaniannya.
Melihat persoalan itu, kemudian pak Aditya berpikir keras untuk menemukan cara bagaimana ia bisa mengolah lahan pertaniannya tanpa harus mengeluarkan biaya yang tinggi. Kemudian berbekal pengalaman dan pelatihan yang didapatkannya dari Yayasan Bitra Indonesia, pak Aditya kemudian memutuskan untuk kembali pada kearifan lokal yang memang telah disediakan oleh alam
”Orang tua saya petani dan saya semenjak kelas satu sekolah dasar sudah ikut orang tua saya bertani, memang ketersediaan pupuk sering menjadi masalah utama bagi petani sekarang ini, makanya saya mencoba untuk membuat pupuk saya sendiri. Selain jauh lebih murah, bahan-bahan pembuatannya pun tersedia di alam ini.”
Dengan menggunakan pola pertanian selaras alam ini, selain bisa melepaskan pak Aditya dari jeratan pupuk kimia pabrikan yang hanya membuat petani merugi, ia juga bisa meningkatkan hasil jual panennya. Sebab harga beli padi organik selaras alam lebih tinggi ketimbang harga padi yang menggunakan pupuk kimia pabrikan. Dari lahan setengah hektarnya, pak Aditya berhasil memperoleh hasil panen 3 ton 478 kg yang kemudian dijualnya dengan harga Rp. 3500 perkilogramnya. Sementara, berdasarkan pengalamannya ketika masih menggunakan pupuk kimia, dengan hasil panen yang tidak jauh berbeda, ia hanya mampu menjual hasil panennya dengan harga Rp. 2700 perkilogramnya. Selain Pak Aditya, Pak Mardi, petani di Sudirejopun telah merasakan manfaat dari model pertanian selaras alam ini. Dengan menggunakan pupuk buatan sendiri, ia berhasil memperoleh hasil panen sebesar 3 ton 700 kg dari lahan yang juga setengah hektar.
Tidak hanya di Namo landur, kelompok petani di Desa Lubuk Bayas Dusun II kecamatan Perbaungan Kabupaten Serdang Bedagaipun telah beralih ke model pertanian selaras alam. Selain karena biaya produksi yang lebih murah, petani di desa ini mulai menyadari pentingnya faktor kesehatan dalam bertani dan hasil produksi pertanian mereka. Residu kimia dari pupuk dan racun yang mereka semprotkan tiap harinya menyebabkan kesehatan mereka terancam. Itulah kemudian yang membuat kelompok petani di Dusun II Lubuk Bayas ini lebih memilih model pertanian yang tidak menggunakan pupuk dan racun kimia pabrikan.
”Kami sudah tidak lagi menggunakan pupuk dan racun kimia, soalnya tidak baik bagi kesehatan kami dan orang-orang yang mengkonsumsi padi kami nantinya. Lagipula kami bisa buat sendiri pupuk dan racun yang bahan-bahannya bia didapatkan di alam ini” ungakp Susi, salah seorang petani di Dusun II Lubuk Bayas. Untuk membuat pupuk, kelompok petani di dusun II lubuk bayas ini memanfaatkan kotoran lembu. Lembu yang dipunyai kelompok ini mencapai 800 ekor. Untuk hama jeni ulat gulung, mereka menggunakan abu kayu bakaran batu. Sedangkan untuk ulat penggerek daun, kelompok petani di Lubuk Bayas ini menggunakan ramuan tembakau dan daun sirih yang direndam dengan dua liter air selama dua kali dua puluh empat jam lalu di semprotkan ke tanaman.
Model pertanian selaras alam yang diterapkan oleh kelompok-kelompok dampingan Bitra telah mampu membebaskan petani dari jeratan kapitalisme global yang memperdaya petani lewat praktek instan pupuk yang harganya semakin membuat petani jauh dari kesejahteraan dan keberdayaan. Pertanian selaras alam ini lebih menitik beratkan pada upaya bagaimana petani bisa menyelesaikan persoalan pertaniannya dengan menggunakan kearifan dan potensi lokal yang ada dengan tetap menjaga keseimbangan dan kelestarian alam guna peningkatan ketahanan pangan dimasa mendatang. (Teddy)

Revolusi hijau telah memperkenalkan model pertanian modern yang serba instant dan sarat dengan produk kimia yang pada akhrinya memenjarakan petani kedalam sebuah bentuk ketergantungan dan biaya produksi yang melangit, sementara semenjak dulu nenek moyang kita telah belajar dari alam tentang model pertanian yang menghargai dan selaras dengan alam.
Bertandanglah kepulau gambar. Nama dari sebuah desa yang terletak di wilayah administratif Kabupaten Serdang Bedagai. Lintasilah ruas jalan desanya yang kecil dan belum beraspal. Di kedua sisi jalan itu, ada lautan sawah yang sebahagian padinya mulai menguning dan rumah-rumah bersahaja di jaga pepohonan. Menegaskan secara kasat mata bahwa desa ini adalah desa yang masih berdamai dengan alam.
Sekilas memang desa ini tampak biasa; Petani yang kebanyakan lelaki menjerang keringat di ladang dan persawahan, truk hilir mudik mengangkat hasil panen dan anak-anak sibuk dengan sekolahnya. Tetapi jika diamati lebih dalam, akan terlihat nuansa perseteruan antara kearifan lokal model pertanian tradisional yang kini semakin memudar dengan menjamurnya modernitas pola pertanian akibat dari gempuran revolusi hijau.
“saya sudah hampir sepuluh tahun menanam cabai. Dan kendala yang paling saya rasakan kalau pupuk lagi langka di pasaran, apalagi sekarang pupuk makin mahal dan susah untuk mendapatkan yang bersubsidi.” Ungkap Ponijo, salah seorang petani di desa itu yang menggantungkan hidupnya dari hasil panen setengah hektar ladang cabainya.
Langka dan mahalnya pupuk di pasaran membuat para petani kalang kabut memikirkan nasib sawah ladangnya yang (menurut sebahagian besar petani) takkan mungkin bisa menuai panen apabila tanaman dan tanah mereka tak diberi makan pupuk pabrikan. Ini merupakan salah satu gambaran nyata akibat dari pola pertanian modern yang pada akhirnya membuat petani kehilangan kemampuannya untuk mengatasi persoalan pertaniannya dengan menggunakan potensi lokal yang ada. Akibatnya, biaya selama proses tanam yang harus dikeluarkan petani semakin besar dan meningkat setiap tahunnya. Seperti yang dialami oleh Ponijo
“Sekarang ini semakin sulit, untuk setengah hektar ladang cabe saya itu modalnya kalau lima juta saja masih kurang; untuk beli bibit unggulnya, buat bedengannya. Belum lagi untuk plastik pembungkusnya. Tapi yang paling banyak makan biaya itu ya beli pupuk untuk perawatannya semisal HCL, P 36, CSP, NPK nya.”
Persoalan lain yang kemudian mencuat adalah mengenai jatuhnya harga jual hasil panen, sehingga tak jarang petani mengalami kerugian. Salah satu faktor yang menyebabkan hal ini terjadi adalah pola pertanian modern yang menerapkan model kawasan monokultur, dimana petani-petani di musim yang sama menanam jenis tanaman yang sama sehingga ketika musim panen-yang biasa disebut dengan panen raya komoditas, jumlah produk hasil panen melimpah. Akhirnya harga jualnya pun terjun bebas.
Nenek Yang Masih Bertahan
Diantara hiruk pikuk keluh kesah mahalnya pupuk pabrikan, Nek Sarkinem, begitu biasanya perempuan usia 54 tahun ini disapa. Tanpa beban mengayunkan cangkul di bedengan tanaman ubi jalarnya. Nek Sarkinem mengaku semenjak kecil ia sudah tinggal di desa ini bersama dengan neneknya. Menurut pemaparan Nek Sarkinem, dulu di desa ini petaninya tidak kenal sama yang namanya pupuk-pupuk pabrikan. soalnya-masih menurut nek Sarkinem, tanah di desa ini dulu sangat subur sekali. Nek sarkinem semenjak kecil ikut kakek neneknya bercocok tanam di desa ini dan mereka tidak memakai “pupuk beli” istilah nek Sarkinem untuk pupuk kimia pabrikan. tetapi menurutnya, hasil panennya tak kalah bagusnya dengan hasil panen sekarang yang kebanyakan sudah memakai pupuk beli itu tadi.
“Dulu waktu baru pertama kali pindah ke kampung ini, tanahnya masih sangat subur sekali . kakek nenek saya dulu nggak pernah pakai pupuk-pupuk beli kayak sekarang. Hasil panennya bagus-bagus. Malah lebih bagus dari yang sekarang ini. dulu sawah kami itu nggak pakai di semprot-semprot racun kayak sekarang ini, tapi hasil panennya tetap bagus-bagus dan segar” tutur nek Sarkinem sambil sesekali menyeka keringat di keningnya yang berkerut.
Meski tubuhnya telah ditaklukkan usia, tetapi semangat bercocok tanam tak pernah hilang dari kehidupannya. Di usia senjanya ini ia menyulap lahan sempit perkarangan rumahnya menjadi kebun-kebun padat tanaman. Di halaman depan rumahnya ada tiga bedengan ubi jalar yang masing-masing panjang bedengannya sekitar tiga meter.
Beberapa senti dari bedengannya, pohon-pohon terung mulai tumbuh. Belum lagi jajaran pohon pisang banten sebagai batas halamannya dengan parit. Disamping rumahnya, Nek sarkinem membangun apotik hidup; temulawak hidup makmur dilahan sempit itu. Di belakang rumahnya, ia menanam ratusan batang bayam. Nek sarkinem mengaku ia tak pernah memakai pupuk beli untuk merawat tetanamannya itu. Ia bisa membuat pupuknya sendiri. Nek sarkinem menggunakan Sisa jerami padi yang diendapkannya di kolong kandang kambingnya. Jerami-jerami padi itu kemudian menyatu dengan kotoran kambing. Setelah beberapa hari campuran itu kembali berbentuk seperti tanah.
Nah inilah asupan nutrisi yang di suguhkan Nek Sarkinem untuk tanamannya. Hasilnya, tanamannya tumbuh subur. Pengetahuan tentang membuat kompos ini didapat nek Sarkinem dari kakek neneknya dulu. Menurut nek Sarkinem, petani dulu tidak membakar jerami padinya seperti yang sering dilakukan petani jaman sekarang. Mereka mengolah jerami padi itu menjadi kompos untuk meningkatkan kesuburan tanah mereka. Selain itu nek Sarkinem juga menerangkan kalau kebiasaan menanam beberapa jenis tanaman di satu lahan juga didapatnya dari kebiasaan kakek-neneknya dulu.
Orang-orang dulu sering menyebutnya dengan nama tumpang sari. Selain itu, ia bercerita kalau petani-petani dulu tidak menanam jenis tanaman secara seragam. Masing-masing petani menanam jenis tanaman yang berbeda sesuai dengan hasil musyawarah para petani di kampung itu. Sehingga setiap panen, jenis tanamannya beragam, jadi harganya tidak turun karena persaingan harga. Dan hasil panenpun tidak semuanya dijual, sebahagian disimpan di dalam lumbung untuk kebutuhan sehari-hari. Dan para petani dulu masih sering bertukar hasil panen.
Tapi kini semuanya berubah, ketika panen tiba para petani mulai dijalari rasa khawatir kalau-kalau hasil panennya tidak habis terjual sebab hasil panen sekarang ini lebih cepat busuk kalau tidak diberi pengawet. Akibatnya banyak petani yang hasil panennya seragam pasrah dengan harga yang ditentukan oleh para pemborong dan tengkulak.
Meskipun tak lagi bercocok tanam di lahan yang luas seperti dulu, Nek Sarkinem tetap saja menumpahkan hasrat bercocok tanamnya di lahan sempit perkarangan rumah dan tetap menjaga tatacara bertani yang diajarkan kakek-neneknya dulu. Sebab ia meyakini bahwa cara bertani model dulu lebih mudah, murah dan menghargai alam.
(Teddy)