Tampilkan postingan dengan label Pelatihan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pelatihan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 02 Desember 2009

Pendidikan dan Pelatihan Resolusi Konflik


Pasca reformasi tahun 1998, perjalanan kehidupan bernegara dan bermasyarakat di Indonesia memasuki tahapan baru yaitu tidak pernah terlepasnya warga negara dari carut marut konflik sosial. Melihat catatan perjalanan bangsa ini, Indonesia bisa dikatakan sebagai negara yang sarat dengan konflik sosial

Segala Bentuk benturan sosial yang berlangsung akibat dari konflik sosial, akan selalu berdampak sama yaitu; kekalahan masyarakat lemah yang berimplikasi pada stress sosial, kepedihan dan kehancuran asset-aset material dan non material yang ditandai dengan hilangnya kepercayaan diantara pihak yang bertikai, rusaknya hubungan jaringan sosial dan hilangnya kepatuhan pada tata aturan norma dan tatanan sosial yang berlaku.

Di Sumatera Utara sendiri, konflik yang cukup tinggi intensitasnya adalah konflik agraria dan konflik industri yang merupakan gambaran konflik antar ruang. Bisa konflik antar komunitas dengan pemerintah, Pihak Swasta atau Badan Usaha yang berorientasi profit. Contohnya konflik agraria yang terjadi di Desa Pergulaan, Bangun Purba dan konflik lainnya di daerah Tapanuli Selatan, Madina, Paluta serta daerah lainnya. Melihat tingginya intensitas konflik agraria di sumatera utara ini, selama tiga hari mulai dari tanggal 08 hingga 10 Agustus 2009 yang lalu, Yayasan Bitra Indonesia menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan reolusi konflik. Peserta yang hadir didalam pelatihan ini berasal dari kelompok petani dampingan Bitra yang tengah mengalami konflik agrarian dan yang memiliki potensi akan mengalami konflik agrarian di lahan pertaniannya.

“Kita harapkan peserta dapat melakukan identifikasi terhadap gejala konflik kemudian mampu melakukan manajemen konflik sehingga dampak negatif dari konflik bisa dihindari dan kelompok-kelompok rakyat kedepannya bisa menyusun strategi untuk bisa menangani kasus-kasus ketidak adilan khususnya yang berkaitan dengan sektor agraria ”ungkap Hawari, staff divisi Advokasi Yayasan Bitra Indonesia.

Pendidikan dan pelatihan yang diadakan selama tiga hari ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman peserta mengenai resolusi konflik sehingga kedepannya peserta akan mampu memahami tahapan dalam proses penyelesaian konflik yang dihadapi serta mampu menyusun strategi penyelesaian konflik berdasarkan analisis kasuistik yang pada akhirnya akan menumbuhkan kemampuan kelompok rakyat untuk melakukan penyelesaian konflik secara mandiri. (Tedy)

Baca selengkapnya...

Pelatihan Peningkatan Mutu Biji Kakao


Sekitar delapan belas orang perwakilan dari tiap kelomppok petani kakao dampingan Yayasan Bitra Indonesia berkumpul di aula Training Center Sayum Sabah pada tanggal 23 Februrai 2009 yang lalu. Para petani coklat ini mengikuti pelatihan peningkatan mutu biji kakao yang di selenggarakan oleh Yayasan Bitra Indonesia. Pelatihan ini juga di hadiri oleh pengurus Koperasi Pemasaran Bersama Usaha Tani (KPBUT) yang telah beberapa kali melakukan lelang kakao. Kualitas biji kakao merupakan salah satu syarat mutlak yang harus dipenuhi para petani kakao agar hasil produksinya bisa bernilai tinggi. Selain itu, kualitas biji kakao ini pun menentukan posisi tawar petani kakao di dalam persaingan pasar.

“Sering kali petani kakao merasa tidak begitu penting untuk memenuhi standart mutu biji kakao sebab mulai dari standart mutu yang jelek sampai yang bagus, biji kakao tetap laku dipasaran. Padahal dengan memenuhi standart mutu biji kakao maka petani akan memiliki posisi tawar untuk menentukan harga” Ujar Anta, salah seorang staff divisi community development Yayasan Bitra Indonesia.

Pelatihan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada peserta tentang bagaimana tata cara meningkatkan mutu biji kakao. Selain itu peserta juga diberikan pemahaman mengenai bagaimana cara mengetahui biji kakao yang memiliki standard ekspor. Sehingga kedepannya diharapkan para peserta mampu memproduksi biji kakao dengan kualitas ekspor kemudian menjualnya secara bersama agar bisa mendapatkan harga jual yang sesuai dengan standart ekspor internasional.

Mutu biji kakao ini menjadi begitu penting. berdasarkan pengalaman, Koperasi Pemasaran Bersama Usaha Tani pernah mengalami kerugian akibat kualitas biji kakao yang dilelang tidak memenuhi standart mutu ekspor sehingga eksportir membelil biji kakao dibawah harga standard ekspor.

“Kalau kita mau meningkatkan kualitas biji kakao, maka bukan hanya panennya saja yang perlu diperhatikan, tetapi kita harus memberikan perhatian pada manajemen lahan kakao itu sendiri. Yang pertama, kualitas mutu biji kakao ditentukan oleh bahan tanamannya (klon). Setelah itu Pemeliharaannya. Pada pemeliharaan dua hal yang perlu diperhatikan adalah pemangkasan dan pemupukannya. Faktor selanjutnya yang juga menentukan kualitas biji kakao adalah faktor pengendalian hama penyakit. Ketiga faktor inilah yang disebut dengan manajemen lahan kakao itu tadi. selain manajemen lahan, perilaku pada saat panen dan paska panen pun juga menjadi penting guna peningkatan mutu biji kakao”. Ungakp Alam salah pemateri yang membagi pengalaman mengenai tekhnik dan cara peningkatan kualitas mutu biji kakao.

Selain membicarakan mengenai tatacara peningkatan kualitas biji kakao, pada pelatihan ini juga dibahas mengenai pentingnya koperasi untuk meningkatkan kesejahteraan petani kakao. Banyak keuntungan yang akan didapat petani kakao apabaila ia berkelompok kemudian membentuk koperasinya sendiri, selain untuk peningkatan kapaitas diri, koperasi juga merupakan salah satu wadah perjuangan yang efektif bagi petani kakao untuk bisa merebut peluang dan harga yang adil di pasaran. Sehingga harga tidak lagi ditentukan oleh pedagang. Dengan menjual hasil panen secara bersama melalui lelang kakao yang sudah beberapa kali dilakukan oleh SPBUT maka para petani kakao memiliki posisi tawar yang tinggi dalam menentukan harga. Apalagi jika dibarengi dengan kualitas biji kakao yang memenuhi standard ekspor, maka petani kakao pun secara berama-sama akan bisa menembus harga jual yang sesuai dengan standard ekspor pula.(Tedy)

Baca selengkapnya...