Kamis, 04 Maret 2010

RIndu Pungguk (sebuah novel)


SAMPIRAN
“Kuhantarkan cerita menjadi kisah lewat makna tersirat.Ku pendam arti dalam pertanda cerita, kusebut Pungguk”
“Bantaran cerita mewujud siluet : sebenar yang terkubur : kuharap kita sadar!”

Aku masih ingat ketika seekor pungguk menancapkan cakarnya pada dahan randu lalu kaku beku menatap bulan. Sesekali melantunkan tembang rindu.
Masih bisa kubayang sinar matanya redup saat bulan hilang di gagahi awan malam.
Bertahun-tahun pungguk melakoni rindu bisu pada tiap penggalan kelam untuk bertemu bulan dari kejauhan. Semua aku ingat tentang pungguk, tapi entahlah apakah pungguk mengenaliku yang selalu berbinar menatapnya dari jendela kamar tidur semenjak adzan maghrib selesai mengudara.

NAMUN
Sudah bermalam-malam tak lagi ku lihat pungguk itu di dahan randu. Yang tinggal hanya jejak cakar membekas lubang dalam, betapa sakitnya ia memendam rindu. Penasaran membawa pada sebuah pagi dimana aku memburu menyusuri bundaran randu yang masih berdiri kokoh. Dihantarkan waktu, air mataku menemukan jasad pungguk tergeletak tanpa sukma di balut rerumputan hijau. Aku melihat bulir-bulir air yang mengkristal di sudut-sudut matanya. dedaunan kering di sekitarnya mentahlilkan bait-bait rindu, “Pungguk ada karena cinta dan tiada karenanya”.

Malam tanpa busana, aku berdiri di pinggir makam mendongak langit mencari bulan. Aku ingin tahu apakah bulan masih sanggup bersinar setelah kehilangan nyawa pemujanya. Malam ini, bulan hanya berani mengintip dari balik awan. Ku bentak ia berkali-kali hingga semua bintang sembunyi. Aku yang berdiri berang di banjiri cucuran air mata langit, tak lagi melihat bulan yang mengintip. Hanya pekat dan lautan awan hitam yang menggumpal. Sesekali amuk semesta menerangi langkah pulangku yang gontai, gemuruhnya memuncakkan murkaku di malam karam. Aku memaki-maki angin yang tak pernah menyampaikan rindu pungguk pada bulan, namun semuanya mengelak tajam.

“Kami tak mengerti rindu bisu, seperti rindunya pungguk pada bulan. Cinta bukanlah sekedar kehadiran pungguk di dahan randu. Tiadalah cinta kan tergapai dengan berdiam diri meski mata-air air mata menggenangi jagad raya. Pungguk binatang malang, raja dari segala kepengecutan, seekor pecundang yang indah. Pernahkah ia mengepakkan sayapnya menuju rembulan? Akan lebih baik baginya jikalau mati di angkasa demi merengkuh bulan ketimbang kehilangan nyawa di dahan randu hanya karena menangisi permaisuri malam!”.

Mendidih darahku lalu membuncah di ubun-ubun. Ku remas angin-angin itu pada kebencian tangan. Berharap pembawa-pembawa berita itu akan meregang nyawa di cengkramanku. Namun tangan tetaplah hampa. Entah kemana mereka berhambus. Semenjak malam karam, ku membenci bulan. Tak sedikit pun ku ingin melihatnya, bahkan dalam mimpi sekalipun.

Ku rebahkan tubuh, memejamkan mata lalu tertidur dengan benci yang mengkarat seakan sudah ribuan abad tertanam di jiwa.

Awal Cerita
Api Di Mata Pungguk, Hilang Makna di Jasad Hilang
Pagi ku terbangun, tangan masih berlumuraan Lumpur, sisa galian makam buram tadi malam. Kubersihkan tubuhku, bergegas menuju kampus. Tak lagi bisa konsenstrasi pada diri.

Bahkan
Seperti sedang tertidur, memandang makna tiada makna. Meski mata terbelalak tetapi kosong. Pun jiwa tak jauh beda. Yakin, mewujud pada kehampaan pungguk, AKU!.

Vero, Begitu disapa. Tak ada yang mengenal pasti. Gembel, hanya itu yang mereka tahu tentang ku. Hanyut dalam ketidak pastian, Mahasiswa! Terlalu bodoh untuk bangga menyandang gelar itu. “Orang terbuang” durjana-durjana itu meneriakiku, namun bukan sebab itu aku memberontak patron. Hanya tak ingin terlalu banyak menghamba pada sesuatu yang menjadikan pengikutnya buruh meski dengan titel mewah, Hah! tak ada ubahnya seperti kerbau bermahkota!

Kutapakkan langkah kaki tanpa alas di negeri usang bisu. Sebab penghuninya calon sarjana tanpa wajah dan lidah. Patung-patung hidup dengan jantung mesin, mainan remot kontrol yang kendalinya di tangan dosen dan oknum birokrasi berkuasa. Makhluk yang mengaku manusia tapi terkadang lidahnya terjulur menjilati kaki. Makhluk yang mengaku berintelektual tetapi sering bungkam ketika penindasan di hias uang. Aku benci negeri ini, tapi tak mungkin ku tinggalkan sebab aku juga terpenjara disini. Amanah ibu yang telah melebur tanah adalah satu-satunya terali yang tak bisa kutembus, hingga aku masih tinggal di belantara dusta ini, negeri khayal bernama universitas.
Tak adalagi keheranan tertuju padaku, hanya sebahagian dari anak baru yang membelalakkan matanya. Heran? Yah, mungkin! Sebab, kumal-kurus-hitam seperti tak terawat. Aku, Gembel Kampus.

Aku menyelusup masuk kedalam ruang kelas, menghenyakkan punggung pada kursi kesayanganku di pojok belakang samping jendela. Warnanya ku cat hitam, sebab telah kupilih ia menjadi kursiku, maka ia harus berwarna hitam. Aku menyendiri saja meski semua mata menatap kearahku, mungkin mereka merasa aku tak pantas berada diruangan ini, sebab gembel. Celana jeans hitam ponggol usang dengan kaos hitam kumal adalah selimut tubuh, rambut gondrong awut-awutan, kaki “nyeker” kemana-mana ciri khasku. Meski banyak orang yang mencibir, tetapi tiada goyah yakinku. Mungkin mereka hanya memandang hidup dari penampilan saja, atau mereka memang tidak mempersiapkan diri untuk menghadapi susahnya hidup.

Falsafah gembel yang kuanut, bukanlah sebuah pesimistis akan hidup tetapi merupakan simbol perjuangan karena bagiku hidup adalah untuk belajar hidup. Sebab manusia takkan pernah bisa menjadi manusia seutuhnya sebelum ia mampu menghilangkan ke-aku-an dari dalam dirinya. Mewujudkannya, maka manusia harus bertempur dengan diri untuk menguasai diri. Melepaskan pondasi hidup dari keduniaan hingga penempatan prioritas hidup bisa di mantapkan! hidup adalah keseimbangan yang harmonis dan harta hanyalah alat bantu bukan penentu. Gembel adalah salah satu cara mengendalikan keserakahan terhadap dunia. Sebab bagiku lebih baik belajar mempersiapkan diri untuk menghadapi perihnya hidup ketimbang berkhayal mengecap kemewahan, sementara esok membawa segudang misteri ketidakpastian. Semua orang pasti sanggup menjalani kebahagiaan, tapi Yakinkah mereka bisa menjalani sebuah penderitaan? Yakinkah mereka bahwa hartalah satu-satunya pembawa kebahagiaan?

Erikson, menghampiriku yang kini telah tenggelam dalam buku “Topeng dan Keheningan”.
“Ver, ada sesuatu yang harus kita diskusikan siang ini! Kutunggu kau di pondok merdeka!”

Aku menolehkan pandangan padanya. Hanya senyum yang kuberikan sebagai jawaban. Ia pun mengerti dan kembali ke kursinya, mengoret-oret sesuatu di bukunya, mungkin puisi atau cerpen karena Erikson adalah sastrawan yang tak pernah diakui sebab tak punya nama besar meski karyanya tak kalah hebat dengan Chairil Anwar.

Ruangan hening, semua mulut terkunci tetapi ku yakin hati mereka berontak. Prof. Azman, dosen Psikologi yang menyandang gelar “Killer” sudah berdiri di depan kelas. Matanya mengkoyak-moyak keberanian orang-orang yang ada di dalam.
Ruangan hening, kurasakan seperti penjara. Mata lelaki bertubuh besar itu mengarah tajam padaku. Bibirnya melahirkan senyum caci. Aku tak mau ambil peduli, kulanjutkan saja kenikmatan membacaku.
“Ahh, lagi-lagi saya harus mengajar diruangan ini! Sebenarnya saya tidak suka! Sebab saya tak pernah suka mengajar gembel!”
Ucapannya benar-benar menyinggungku! Aku tau ia tak pernah suka denganku.
“Saya yakin kalian semua tau kalau ruangan ini adalah tempat belajar bukan tempat sampah. Jadi, saya pikir kalian harus bisa sadar diri untuk berpenampilan seperti apa jikalau ingin belajar dengan saya!”

Aku tetap tak menggubrisnya. Ia menjadi semakin gusar! Kemudian mulai mengabsensi kami satu-satu dan dengan sengaja melewatkan namaku. Emosiku semakin tak tertahankan! Aku menutup bukuku, meletakkannya di atas meja lalu mengangkat tanganku tinggi-tinggi. Tetapi ia tak menggubrisku. Aku menjadi semakain berang.
“Saya pikir mata bapak cukup sehat untuk bisa melafalkan nama saya! Itupun kalau seandainya bapak tidak buta huruf!”
Sontak ia menjadi berang, meninju meja sekuat tenaga. Matanya menyala tajam seperti parang yang siap mencincangku.
Darahku berdesir hebat, emosiku menari di ubun-ubun, aku berdiri tegak menantang matanya. Dendam lama antara aku dan dia kembali berdarah. Suasana menegang, wajah-wajah di ruangan itu pucat pasi.
“Dasar manusia tak tau diuntung!”
“Maaf, sebagai seorang dosen, seharusnya anda tidak mencampur adukkan antara urusan pribadi kedalam pekerjaan anda! Tak perlu susah-payah mengusir saya dari kelas, sebab saya pun tak mau diajari oleh binatang”
Dengan kalap ia menyerangku, untungnya aku sudah siap, tendanganku menghempaskan tubuhnya kebelakang, ia jatuh terjungkal. Dengan rakus aku memburunya. Ingin ku hempaskan Vas bunga yang kini ada digenggamanku ke tengkorak kepalanya, tetapi Erikson dengan sigap menghalangiku. Wajahnya pucat pasi.
“Hey Vero! Sadar, Hentikan! Apa kau sudah gila!”
Penuh emosi, kulempar vas bunga itu ke arah jendela. “Praang” pecahan kaca menyebar kemana-mana. Suasana kampus menjadi riuh, sebentar lagi petugas keamanan pastilah datang. Kutitipkan tinjuku di bangir hidung doesn killer itu, darah segar mengucur deras, ia mengerang kesakitan tetapi sudah tak mampu lagi melawan. Bersegera kutinggalkan ruangan kelas itu sebelum hasrat membunuh menguasaiku lagi.
Kubaringkan tubuhku di pondok merdeka. Dinding-dinding kardusnya melindungiku dari sengatan matahari dan debu jalanan. Riuh suara kendaraan dan ramai orang berseliweran di telingaku. Ruangan kecil di bawah jembatan layang itu adalah tempat untuk melepaskan segala resah. Tempat segala ketenangan dan arti hidup ku temui, tempat yang ku bangun bersama kawan-kawan seperjuangan untuk menempa kepedulian. Tempat yang kami jadikan sebagai sekolah alaternatif bagi anak-anak jalanan dan orang-orang pinggiran yang tak diakui keberadaannya dan selalu saja dianggap sebagai makhluk rongsokan yang tak ada harganya sebab miskin!

Tirai kusam pintu ruangan tersingkap, perempuan berambut panjang tergerai lembut melemparkan senyum sintalnya padaku. Kulitnya putih bersih menebar harum ke setiap sudut ruangan. Sinar matanya bening membasahkan gejolak api dalam dada. Aku hanya bisa menarik nafas dalam-dalam untuk meredam gemuruh jantung yang berdebar syahdu. Entah kenapa setiap kali melihat wajahnya atau mendengar suaranya aku merasakan kedamaian yang meraja. Nadrah orang-orang memanggilnya, Cinta jiwaku menyebutnya.
“Ver, aku dapat kabar dari Erikson kalau kau….”
“Ya…, dia pantas untuk diberdarahkan”
“Tapi, dia itu kan..”
“Aku pikir sudah ribuan kali kita membahas masalah itu Nad! Hanya membuang-buang waktu untuk membahasnya kembali.”
“Kau ini memang keras kepala, Ver! Egois! Itu yang tak pernah aku suka darimu!”

Aku diam, tetapi entah kenapa seperti ada yang luka di dalam hati. Aku bisa tahan menghadapi setiap penderitaan, tetapi aku tak pernah bisa tahan melihat mata Nadrah basah.
“Nad, Maafkan aku!”
Suasana hening! Aku melihat titik-titik air itu merembes di pipinya. Nadrah memang type perempuaan yang mudah larut dalam suasana. Ku hapus dengan lembut air mata itu. pipinya yang merona merah membuatku tak bisa berhenti untuk menatapnya. Aku merasakan getaran hebat di dalam jantungku ketika matanya menembus mataku. Tetapi kenapa hari ini wajahnya kelihatan lebih pucat? Ku sentuh keningnya, Panas! Nadrah demam, aku menjadi begitu gugup, cemas menjalariku hingga aku tak mampu berpikir jernih.
“Kau demam Nad!”
Nadrah hanya mengangguk. Aku jadi semakin cemas, ku obrak-abrik isi tasku, tetapi tak kutemukan. lalu ku buru kotak P3K di dalam lemari kardus. Pun, tak kutemukan obat penurun demam itu!
Nadrah tertawa kecil melihat ku uring-uringan mencari obat!
“Sudahlah Ver, aku nggak apa-apa kok”
“Nggak apa-apa bagaimana? Tubuhmu begitu panas, kau demam! Berbaringlah! Aku akan segera kembali!”
Nadrah hanya tersenyum, Aku begitu panik untuk bisa mengerti arti senyumnya. Bergegas ku keluar dari rumah kardus itu. Mencari sesuatu yang bisa menurunkan panasnya. Jujur ku akui aku sangat menyayanginya namun ku tak pernah punya keberanian untuk mengungkapkannya. Aku takut tak mampu buatnya bahagia.

Aku kembali dengan seember kecil air hangat untuk mengompresnya. Mata Nadrah terpejam, mungkin ia terlalu letih hingga demam. Aku tak tega membangunkannya. Ku buka baju kaosku karena aku tak punya kain untuk mengompres. Dengan perlahan ku tempelkan dikeningnya. Ku pijit kepalanya dengan lembut, mungkin bisa sedikit meringankan peningnya. Perlahan Nadrah membuka mata.
“Ver, kenapa kau begitu baik padaku?”
“Aku hanya berusaha baik pada siapa saja, karena kebersamaan adalah arti dari hidup lagipula kau kan sahabatku semenjak kecil Nad”
Aku mencoba mengalihkan pembicaraan sebab aku tak mau ia tahu kalau aku sangat mencintainya, bahkan semenjak kebersamaan kami di waktu kecil. Aku siap menghadapi regu tembak, tetapi aku benar-benar tidak siap jika Nadrah menolakku nantinya. Aku menjadi lelaki pengcecut jika berhadapan dengan cinta.
“Hmm, Kalau kau suka jadi pahlawan, kuperintahkan kau untuk menjadi pahlawanku saat ini! Ayo teruskan pijatanmu di kepalaku”
Tak kuasa ku menolak permintaannya.
“Ver, kau masih ingat masa-masa kecil kita dulu? kita begitu bahagia di punggung kerbau! Kau selalu menguntai daun nangka menjadi mahkota untukku, lalu menghiburku dengan tiupan serulingmu! Masihkah kau memainkannya Ver?”
“Aku tak lagi pernah memainkannya, sebab sawah tak lagi ada dan kerbau binatang punah! Semua akibat keserakahan metropolitan hingga manusia tak lagi menghargai alam! Ketika kesederhanaan dikesampingkan maka bumi akan semakin menua! Sebab itulah pemberontakan kita ada! Reformasi gagal karena dahaga politik kekuasaan ada dibelakangnya! maka mimpi Revolusi kita tak boleh disentuh oleh haus kekuasaan! Perjuangan kita adalah penyadaran! Kita harus meniadakan diri jika perjuangan itu berhasil, sebab massa rakyatlah yang harus menentukan nasibnya bukan kita! impian kita hanyalah satu: sawah hadir kembali di kornea mata dan kerbau mengunyah rumput dengan bebasnya, Cukup! ”
“Stop Ver! kepalaku terlalu sakit untuk membicarakan tentang gerakan kita saat ini! Aku jenuh!”
“Jenuh? Artinya kau khianati sumpahmu, artinya kau tidak bersungguh-sungguh untuk melakukan perjuangan ini! Lalu kenapa kau masih berada dalam lingkaran gerakan kita?”
“Karena kau!”
Nadrah bangkit dari tidurnya lalu bersila tepat dihadapanku, wajahnya hanya beberapa senti dari mataku
“Karena kau Ver! Aku tak bisa membiarkanmu berjuang sendiri sebab aku sangat……”
Kembali tirai lusuh itu tersingkap. Kali ini kepala Erikson yang menyembul dari baliknya. Roman wajahnya berubah masam melihat aku dan Nadrah tanpa jarak!
“Ehm.., ku harap aku tidak sedang mengganggu kemesraan kalian!”
“Nadrah demam, aku hanya mengompres dan sedikit memijati kepalanya! Kuharap kau tidak berpikir yang bukan-bukan Son!”
Erikson duduk dengan asal, kecemburuan tergambar jelas di roman mukanya. Aku tahu Erikson sangat mencintai Nadrah, itulah alasan lain kenapa aku tak mengungkapkan perasaanku pada Nadrah.
“Demam? Seharusnya kau tak kemari Nad! Istirahat sajalah di rumah! Atau kau memang tak bisa menahan rindu”
“Ya! aku memang rindu! rindu dengan anak-anak itu! aku ada pertemuan dengan mereka sore ini, kami akan belajar bersama untuk membuat lukisan timbul dari puntung rokok! seharusnya sebagai kepala bidang Pembinaan Anggota kau tahu jadwal kegiatan tiap divisi!”
Nadrah murka, Erikson semakin emosi, nafasnya memburu cemburu. Harus segera dihentikan pertengkaran kekanak-kanakan ini.
“Cukup Nadrah! Kau istirahat sajalah, biar aku atau Erikson yang menggantikanmu!”
“Tidak! aku masih sanggup untuk menjalankan tanggung jawabku, kalian harus menghormati hakku! Aku perempuan dan tak beda dari kalian!”
Suara Nadrah sedikit meninggi. Erikson masih dibalut kecemburuannya. Terkadang cinta bisa membuat orang tidak dewasa!
“Ver, kau mencintai Nadrah! Iya kan?”
“Erikson Sudahlah! Jangan memancing pertengkaran!”
“Tak kusangka akhirnya kau juga mengkhianati peraturan yang kita tetapkan Bersama! Ver, aku tak ingin gerakan ini jadi cacat dikarenakan subjektivitas perasaan!”
“Cukup Son! Kutegaskan padamu tak ada perasaan lain selain sahabat antara aku dan Nadrah! Jangan pernah tanya tentang cinta sebab aku tak pernah punya!”
Terpaksa ku ucapkan kalimat itu meskipun perih menghujam jantungku. Aku tak ingin kecemburuan Erikson menghancurkan segalanya. Kulihat mata Nadrah merah basah, bibirnya bergetar, tatapan kebenciannya mengarah padaku.
“Dengar! Sudah terlalu muak aku dengan gerakan gila ini! Apakah kalian tidak menganggap aku sebagai perempuan biasa yang punya perasaan HAH!”
Nadrah bangkit, tatapan bencinya masih dihujamkan kearahku
“Aku bisa mengatur diriku sendiri! Peraturan organisasi gila ini takkan pernah bisa mengekangku! Aku manusia bebas!”
Nadrah melempar kain kompres basah kewajahku, kemudian ia lari meninggalkan ruangan itu dengan cucuran air mata di pipinya. Aku tak mampu berkata-kata, hatiku benar-benar terluka, sementara Erikson tersenyum penuh kemenangan.
“Huh, dasar perempuan! Taunya Cuma menangis!”
Erikson mencibir Nadrah, aku berusaha tetap tenang
“Tak ada beda antara lelaki dan perempuan! Ia punya perasaan dan hak yang sama dengan kita”
“Kau benar Ver, tetapi ia telah dirasuki cinta! Dan itu bisa mengganggu objektifitas gerakan kita!”
“Kau hanya berprasangka saja Son! Nadrah tidak mencintaiku. ia menyayangiku sebagai sahabatnya, begitu juga perasaannya terhadap kau. Dan sikapmu tadi membuat hatinya terluka!”

Perasaan cinta antara sesama pengurus tidak diperbolehkan. Ini adalah ketentuan organisasi meskipun Nadrah selalu mengungkapkan ketidaksetujuannya akan peraturan ini. Terlalu getir hatiku untk membahas tentang cinta, sebab ku benar-benar tak yakin apakah Nadrah memiliki perasaaan yang sama sepertiku? Ah.. ku benar-benar tak berani menebaknya. Segera kupecah kesunyian. mengganti topik pembicaraan.
“Son, apa yang ingin kau diskusikan denganku!”
“Tentang masa depan gerakan kita Ver!”
“Maksudmu?”
“Kita punya kekuatan yang cukup besar di tataran akar rumput! Kekuatan massa rakyat yang kita punya memungkinkan kita untuk merebut kursi di kepemerintahan lewat pemilu nanti! Memperbaiki sistem dari dalam sistem! Aku yakin kau paham dengan maksudku Ver!”
“Son! Haus pada kekuasaan hanya akan membutakan mata terhadap penderitaan! Cukuplah orang-orang menjadikan kemiskinan dan penderitaan rakyat sebagai barang dagangan. Aku tak ingin kita ikut dalam tarian orang-orang yang menjadikan massa rakyat sebagai mainan untuk mencapai kekuasaan!”
“Tapi Ver, Kita perlu untuk memasukkan orang-orang kita berada di tataran pengambil kebijakan! Kita harus punya utusan yang duduk di kepemerintahan!”
“ Tidak son! Kita ada bukan untuk kita, tetapi kita ada untuk menjadikan masyarakat madani itu ada!”
“Dan salah satu bentuknya adalah mendudukkan orang-orang kita di tataran kepemerintahan! Sudah saatnya kita terjun kedalam arus perebutan kekuasaan, biar kita bisa dengan mudah mewujudkan keadilan sosial itu Ver!”
“Aku tak ingin kita terikut arus! Banyak orang yang mati idealisme perjuangannya setelah ia memegang kekuasaan! Banyak pejuang yang menjadi penindas setelah ia masuk kedalam dunia kekuasaan itu sebab sistemnya sudah korup! Aku pikir kita belum siap untuk itu!”
“Kau harus percaya pada kemampuan kita Ver! Lagipula sampai kapan kita harus menunggu?”
“Kita harus menunggu sampai masyarakat bisa memperjuangkan haknya sendiri! Sampai masyarakat benar-benar bisa mandiri! Kita harus benar-benar bisa meninggalkan gemerlapnya dunia sebelum memiliki sebuah kekuasaan! Sudahkah kita?”
“Aku pikir kita sudah Ver! sudah saatnya kita melakukan uji coba!”
“Kalau kau bersikeras, maka calon yang diusulkan harus berasal dari kelompok rakyat kita, bukan dari tataran pengurus organisasi kita!”
“Tidak mungkin Ver, sebab…..”
“Sebab orang-orang yang ada di kelompok rakyat kita tidak ada yang sarjana, mereka hanya tamatan SMU bahkan sebahagian besar dari mereka tidak sekolah, begitu maksudmu kan!”
“Ver, aku pikir latar belakang pendidikan harus menjadi syarat prioritas untuk menduduki sebuah jabatan”
“Keparat kau Son! Kau harus buang jauh-jauh pikiran seperti itu jika kau masih menganggap dirimu sebagai anggota BASMI! Titel bukanlah penentu untuk menjadi sebenar-benarnya manusia! Dan sekolah bukanlah satu-satunya tempat belajar! Tak sadarkah kau siapa yang melakukan penindasan di negara ini? Orang-orang yang bertitel!”
“Tetapi ver…”
“Akhh, sudahlah! Aku tetap tidak setuju jika kita harus bermain di tataran politik perebutan kekuasaan, sebelum kita benar-benar menjadi manusia seutuhnya!”
Aku lihat kekecewaan besar tergambar di wajah Erikson! Aku sedih melihat orientasi gerakan yang cenderung berubah akhir-akhir ini! Potensi massa yang besar membuat sebahagian pengurus menjadi tergila-gila pada kekuasaan! Tak ada lagi kerelawanan! Yang ada hanya ambisi pribadi! Aku tak tahu sampai kapan pengabdian murni ini akan bisa bertahan.
“Ver, Pertimbangkanlah sekali lagi! jangan sia-siakan potensi kawan-kawan! Dan jangan halang-halangi keinginan pengurus yang ingin merebut posisi-posisi strategis di kepemerintahan. Aku juga ingin menjadi doesn Ver! Aku sudah menjumpai rektor dan dia setuju asal aku mau mendukungnya menjadi gubernur di pemilihan nanti!”
Erikson mengatakannya dengan lantang! Matanya penuh ambisi! Kekuasaan sudah membutakan mata hatinya. Erikson melangkah pergi meninggalkan pondok merdeka itu.
Kini aku benar-benar resah akan perubahan drastis pada kawan-kawan seperjuanganku. Kulangkahkan kakiku dengan gontai menuju rumah kostku. Hari ini cukup membuat pikiranku lelah!

Perlahan matahari menarik sinarnya dari permukaan bumi. Malam merangkak pelan melahap rona senja. Gulita dimuntahkannya. Aku membuka jendela kamarku, angin menyeruak masuk, bermain dengan helai rambut lalu membisik desingan di telingaku! Dunia indah ini menjadi runyam akibat dahaga ambisi manusia yang tak pernah mengenal kata puas. Kembali kulabuhkan pandanganku pada pohon randu itu seperti malam-malam sebelumnya. Ia tetap berdiri kokoh meski tak lagi ditemani pungguk! Ia tetap berdiri. Menjulang menunjuk langit meski hanya sendirian saja! Lalu apakah aku harus kehilangan semangatku hanya karena ditinggal oleh kawan-kawan seperjuangan? Tidak! Itu tidak boleh terjadi! Kupandang bulan, ia tetap bersinar bersama bintang meski pungguk tiada! Apakah aku harus tetap larut dalam kepunggukanku? Juga Tidak! Aku harus mengepakkan sayapku merengkuh bulan membisikkan padanya bahwa banyak yang sedang merindukan kedamaian di bumi. Membisikkan padanya bahwa aku ingin dia memiliki sinarnya sendiri! Bahwa aku ingin dia berhenti untuk terus di sinari mentari! Larut lamunan terpecah oleh desingan handpone! Kuangkat, lalu telingaku ditampar suara parau.
“Malam Ver, mungkin kau sudah berdialog dengan Erikson! Ku harap kau mau menuruti keinginan kami demi keselamatanmu sendiri! Aku masih punya rasa kasihan saja padamu! Aku tak meminta banyak, hanya formalitas dukunganmu sebagai ketua saja! Hahahahaha.. ku harap kau sadar kalau kau tak punya kekuatan apa-apa sekarang, sebab sebahagian besar anggota sudah berpihak padaku! Tinggal kau dan sejumlah kecil kelompokmu saja! Kalau kau tak ingin mereka mati maka kau harus turuti keinginanku!
“Bagiku hidup adalah untuk mencapai mati! Hanya orang-orang yang haus akan kekuasaan sepertimulah yang takut pada mati! Lagipula apakah kau bisa menjamin esok hari kau masih bisa hidup? Dengar! Mati itu pasti! Tetapi mati “sebagai apa” yang harus kau pertimbangkan! Pengkhianat tak kan pernah bisa mati dengan tenang!”
“Keparat kau Ver! Kau pikir kau bisa menakut-nakuti aku HAH! Dasar Manusia Sombong!”
“Kenapa suara mu bergetar seperti itu? Sebegitu takutnyakah kau? Tak perlu kujelaskan lagi padamu tentang siapa aku! Sudah lama tangan ini tak berlumuran darah! Kau yang memulai tentang cerita mati itu! Maka sebagai sahabat yang baik akan kupersembahkan kematianmu malam ini juga!”
“Anjing! Aku tak takut dengan ancamanmu itu Ver, Bangsat kau!”
“Aku bisa melihat dengan jelas wajahmu yang pucat pasi itu pengkhianat! Aku berada tak jauh darimu! Sudah dari tadi kau kuperhatikan! Aku sedang menimbang-nimbang bagian tubuhmu yang mana yang harus kucincang terlebih dahulu! Sudahlah, lebih baik kau tutup saja handponemu, mungkin orangtuamu perlu pulsa untuk menelpon ambulans! Lagipula kau mengganggu konsentrasi membunuhku saja!”

Kugenggam sebilah belati lalu kuasah, kudekatkan handphoneku biar suara belati tajam itu didengar olehnya.
“Shring…shring…shring…”
Suara pengkhianat itu menjadi semakin ketakutan.
“Halo…., halo….. Keparat kau Ver! Dimana kau? Ku bunuh kau!”
“Selamat mati pengkhianat!”
Ku putus percakapan! Kembali berdering, ternyata nomor pengkhianat itu. kubiarkan saja, biar ia menjadi semakin ketakutan. Aku bermain dengan psikologinya! Biar dia tahu tak semua orang yang bisa di ancamnya dengan kata “mati”.

Kembali kulabuhkan pandanganku pada awan hitam pekat yang menggulung angkasa! Sesekali sambaran kilat menghantam malam, mengejutkan binatang-binatang yang sedang berburu mangsa. Akhh, aku benar-benar kehilangan makna perjuangan. Aku benar-benar merindukan perubahan, namun tak ubahnya aku seperti pungguk yang merindukan bulan. Tak ada lagi yang bisa dipercaya. Kembali mahasiswa mengkhianati eksistensi jati dirinya! Aku benci mahasiswa! Aku enggan jadi mahasiswa!
Kembali handphone berdering, kali ini dari Nadrah.
“Halo Ver, segera kerumah sakit umum diruang melati! Sekarang!”
Nadrah tak memberi kesempatan untukku bertanya!
Mungkinkah ia juga mengkhianatiku? Mungkinkah kebenciannya padaku membutakan akalnya? Aku terlalu mencintainya hingga tak mampu curiga padanya. Kuselipkan belati di pinggangku untuk berjaga-jaga.

Angin malam menampar-nampar tubuhku yang memacu sepeda motor dengan kecepatan tinggi. Kubuka pintu ruang melati yang berwarna putih! Nadrah menyambutku dengan air mata. Kulihat laki-laki yang teramat sangat kubenci tengah terbaring kaku. Kedua matanya tertutup. Tubuhnya tak bergerak. Laki-laki itu sudah tak bernyawa lagi!
“Ver! Sakit jantungnya kambuh, ayahku yang membawanya kemari. Tapi terlambat, ia sudah tiada Ver!”
“Sayangnya Ia tak mati ditanganku!”
“Ver…. Kau kejam!” Plak…
Nadrah menamparku sekuat tenaga, darah segar menetes dari bibirku. Aku tak sanggup membalasnya. Aku terpaku bisu. Kenapa Nadrah selalu saja membela lelaki bejat itu? Nadrah berlari meninggalkanku dan menangis sesenggukan di pelukan ibunya yang duduk di ruang tunggu. Pak Alifuddin, Ayah Nadrah menghampiriku.
“Ver, Bapak tau kalau kau sangat membenci Prof Azman. Tetapi bapak mohon kau mau memaafkannya! Sebab darahnya mengalir di tubuhmu. Bagaimanapun kau membencinya, dia tetap ayah kandungmu Ver!”
“Tidak! Aku tidak punya ayah seperti bajingan itu! Aku tidak pernah punya ayah! Pak Alifuddin, jangan hancurkan rasa hormatku pada bapak! Jangan ikut campur dalam masalah pribadiku!”
“Hey anak muda, tahan emosimu! Prof Azman adalah sahabat karibku sejak kecil! Aku lebih mengenalnya ketimbang kau! Kau tidak tahu apa-apa! Kau terlalu angkuh untuk bisa menerima kenyataan!”
“Aku tidak tahu apa-apa hah! Aku yakin ketika itu aku cukup besar untuk bisa mengetahui bahwa bajingan itu mengkhianati ibuku! Bajingan itu menikah lagi dengan janda kaya hingga ibu tertekan bathin sampai sakit mengantarkannya pada kematian! Semua itu dikarenakan laki-laki keparat itu! Kucabik-cabik kau!”

Aku kalap, aku dilahap dendam berkarat yang sudah semenjak lama terkubur, kuambil belati yang menyelip dipinggangku lalu kuburu rakus jasad kaku itu.
Dengan sigap pak Alifuddin menangkap tanganku, tinjunya bersarang dibibirku. “Cros” darah segar mebuncah, pandanganku kunang-kunang. Belati jatuh dari tanganku. Lalu aku mengepal tinju, siap melabuhkannya di wajah pak Alifuddin yang berdiri marah dihadapanku.
“Ayo pukul! luapkan semua emosimu, semua bencimu, semua dendammu anak muda, biar kau bisa berpikir dengan jernih!”
Aku berjalan terhuyung, air mata membanjiri pipiku. Aku tak pernah merasa sedih dan frustasi seperti ini! Tinjuku bersarang di tubuh kekar pak Alifuddin, tapi tak sedikitpun ia bergeming, sebab seluruh kekuatan telah hancur ditelan kesedihan bathinku yang membara, aku hanyalah anak yang merindukan kasih sayang seorang ayah!

Pak Alifuddin mendorongku kebelakang hingga tubuhku jatuh membentur tembok. Nadrah yang mendengar keributan itu memburu masuk kedalam ruangan! Spontan ia memelukku yang terkulai bersimbah darah.
“Ayah cukup! Jangan pukul Vero lagi yah.”
“Nad! Lebih baik kau nasehati anak mudamu itu! Katakan padanya bahwa kebenaran takkan dapat terlihat jelas jika mata ditutupi oleh perasaan dendam dan benci!”

Pak Alifuddin pergi meninggalkan ruangan. Nadrah menyeka darah yang menetes dari bibirku dengan sapu tangannya. Aku tak lagi bisa berpikir! Kesedihan mengguncang danau mata hingga airnya menetes di pipiku. Nadrah memelukku dengan erat. Ia membisikkan kata “sabar” berulang-ulang di telingaku! Aku bisa merasakan sedikit ketenangan. Ahhh, aku benar-benar mencintai perempuan ini. Aku menatap lekat mata Nadrah, air mataku serasa tak bisa berhenti mengalir meski tak ada sesengguk yang keluar dari mulutku!
“Nad, aku benci dengan diriku! Aku benci dengan hidupku! Nad, aku seperti orang gila! di satu sisi aku sangat merindukan kasih sayang seorang ayah, di sisi lain aku sangat membenci ayahku sebab ia yang menyebabkan kematian ibu! Nadrah, aku bosan dengan kehidupan ini!”
“Psssssttt, seorang Vero tak boleh berkata seperti itu! Kau juga manusia biasa ver, kau pastilah punya perasaan! Hanya saja terkadang kau enggan jujur terhadap perasaanmu sendiri! Kau harus tegar menghadapi kenyataan! Benar kau sangat membenci Prof Azman, tetapi juga benar kalau dia itu ayah kandung yang sangat menyayangimu!”
“Maksudmu?”
“Tenangkan dirimu dulu! Setelah itu temuilah ayahku! Dia tahu cerita yang sesungguhnya tentang ayah dan ibumu!”
Aku menarik nafas dalam-dalam, berusaha sekuat tenaga meredam marah dan sedih yang melebur menjadi jiwaku. Nadrah menatapku dengan lekat, kedamaian menjalar keseluruh amuk jiwaku.
Kuhampiri pak Alifuddin lalu aku duduk bisu di sampingnya. Ia mengeluarkan rokok dari saku baju lalu menghisapnya. Ia menawarkannya padaku, kuambil satu lalu kupenuhi paru-paruku dengan asapnya.
“Sudah tenang anak muda?”
Aku tak menjawab.
“Sebelum Wafat, Azman sangat ingin bertemu dengan kau! Berulang kali ia menyebut namamu bahkan disaat ajal sudah di tenggorokannya! Aku hanya ingin menyampaikan permintaan maafnya padamu! Aku takkan cerita banyak, sebab buku diary Azman ini akan mengungkapkan kebenaran itu padamu!”
Kubuka lembaran buku usang itu!

27 Juli 1997
Penyakit Adellia semakin parah! Leukimia keparat itu benar-benar menyengsarakan istri tercintaku! Aku sudah tak punya uang lagi untuk tranfusi darahnya!
Adellia sayang, Aku tak sanggup untuk mengabulkan permintaanmu! Kenapa kau memintaku untuk menikahi Salsabila? Aku tak kan pernah bisa membagi cintaku pada wanita lain Adel! Meskipun nantinya kau tiada, aku takkan pernah mau untuk mencari penggantimu! Cinta itu hanya ada untukmu Adel……………

Air menetes dari mataku. ternyata ayah sangat mencintai ibu, tapi kenapa akhirnya ia menikahi perempuan lain disaat ibu sedang sakit parah? Segera kubuka lembar demi lembar diary usang itu.

17 Agustus 1997

Adellia kritis! Aku membawanya kerumah sakit, namun seluruh tabunganku sudah habis. rumah beserta tanahpun sudah terjual, aku tak punya cukup uang untuk transfusi darah kali ini. Mau tidak mau kembali aku harus menerima pinjaman yang diberikan oleh Salsabila, sahabatku semenjak kecil. Ia cukup banyak membantu, merawat Adel dan menjaga Vero. Aku benar-benar hutang budi padanya. Tetapi tetap aku masih belum bisa mengabulkan permintaan Adel untuk mau menikahi Salsabila. Adel, kuharap kau tak lagi memaksaku! Aku benar-benar tak bisa mencintai perempuan selain engkau. Mengertilah!
19 Agustus 1997
Kondisi Adellia semakin parah! Dokter bilang usianya tinggal tiga minggu lagi. Dan hari ini kembali Adel memaksaku untuk segera menikahi Salsabila! “Vero tetap membutuhkan kasih sayang seorang ibu” Adellia mencoba merasionalkanku. Aku sangat ingin mengatakan tidak padanya, tetapi itu akan berakibat fatal bagi kesehatannya. Jadi, dengan sangat terpaksa aku mengabulkan permintaannya! Aku tidak mengerti dengan jalan pikiran Adel saat ini. Ia memintaku melangsungkan pernikahan itu lusa sebab ia takut, kelak kalau ia tiada aku akan memutuskan untuk tidak menikah lagi! Ini benar-benar Gila, kenapa Adel begitu bersikeras memaksa aku untuk menikahi Salsabila! Adel memutuskan untuk mogok makan sebelum aku benar-benar mengabulkan permintaannya! Aku luruh! Aku terpaksa menikahi Salsabila untuk mengabulkan keinginan gilanya itu!

21 Agustus 1997
Aku melihat senyum bahagia di wajah Adel, akhirnya keinginannya terkabul, aku menikahi Salsabila meski dengan berat hati. Aku jadi frustasi dengan hidupku! Kalau seandainya saja tak memikirkan Vero buah cintaku dengan adel, mungkin aku akan memutuskan untuk ikut Adel kealam Baka!
01 September 1997
Cintaku pergi selama-lamanya. Tuhan kenapa bukan aku yang kau ambil, kenapa harus Adel. Aku tak sanggup menghadapi cobaanmu ini Tuhan……

Tak lagi sanggup aku meneruskan kalimat demi kalimat yang bersemayam dilembaran tua itu. Aku merasa begitu berdosa pada ayah. Aku tak bisa membayangkan betapa perih dan hancur bathinnya saat aku tak mau mengakuinya sebagai Ayah! Aku tak bisa membayangkan bagaimana perih dan hancur bathinnya saat aku memaki dan meninjunya di ruangan kelas waktu itu. Aku merasa sangat bersalah. Aku marah pada diriku sendiri. Aku tak bisa memaafkan diriku. Air mata mengucur deras. Aku bangkit memburu jasad Prof. Azman, ayah kandungku. Aku memeluknya dengan kerinduan yang mendalam, ku cium telapak kakinya, ku ucapkan ribuan kali kata maaf ditelinganya namun sia-sia sebab beliau telah tiada. Air mataku menetes di tubuhnya yang kini kaku, beku, dingin membiru.
“Ayah bangun yah….. bangun… yah…, Ayah, maafkan aku yah… maafkan aku yah.. Ayah bangun…”
Aku mengguncang-guncangkan tubuh ayahku, aku kehilangan akal sehatku. Aku hanya berharap ia kembali hidup hingga ku bisa bersimpuh, mencuci kakinya dan meminum air cuciannya sebagai permintaan maaf yang mendalam padanya. Sungguh hatiku benar-benar hancur!
“Ayaaaaah……………………………………….”

Sebulan telah berlalu, aku telah bisa menjalani hari-hariku seperti biasa meskipun perasaan bersalah itu terus menghantuiku, tetapi aku tak mau membiarkan diriku larut dalam perasaan itu, sebab aku tak mau mengecewakan mendiang ayah dan ibuku lagi. Aku harus benar-benar kuat, kembali menata ulang gerakan yang sudah lama kutinggal, aku benar-benar harus mengembalikan gerakan pada ruh perjuangannya sebab arah gerakan BASMI sudah berubah total, anarkis diluar batas kewajaran dan cenderung politis!
Dan tentang cintaku pada Nadrah, sepertinya dia memang benar-benar menganggapku sebagai sahabatnya saja! Perlahan aku berusaha untuk menghapuskan perasaan cinta yang berlebih itu darinya. Mungkin aku perlu mencari wanita lain yang mau menerimaku. Entahlah, mungkin aku adalah seorang pecundang yang tak berani untuk mengungkapkan dengan jujur perasaanku pada Nadrah.
Hari ini
Kantin tak begitu ramai, sebahagian besar kursinya mengerling nakal mencari perhatian mahasiswa yang lalu lalang tuk segera mendudukinya. Ku hempaskan punggungku pada kursi yang menyendiri di pojok. Kaki-kakinya berderit manja meski sesekali gemetar menopang 45 kg berat dan 170 cm tubuhku. Pertanda kayu-kayunya sudah tua dan mulai lapuk. Kuyakin kursi ini sudah banyak makan asam garam menopang tubuh-tubuh manusia.
“Kopi pahit segelas, Mak”
Perempuan tua yang kupanggil omak itu sudah berpuluh-puluh tahun menjadi pengelola kantin kampus. Aku cukup dekat dengannya, sebab aku merelakan diri menjadi guru privat bahasa inggris gratis untuk putrinya, Purnama, yang baru saja menamatkan sekolah menengah atas. Perempuan dengan keriput di wajahnya itu menatap dengan heran, seolah ia tahu amuk jiwaku.
“Loh, Ver, biasanya jam segini masih di kelas, lagi ada masalah ya”
“Tidak mak, hanya sedikit meriang saja kok”
“Makanya, jangan lupa istirahat, jangan terlalu banyak mikir!”.
Purnama menatapku dengan risau.
“Oh ya ver, ambil tuh di kresek hitam. Purnama membuatkannya khusus untukmu. Pagi-pagi sekali ia memasaknya”
“Wah, Purnama memang adik yang baik. hampir setiap hari memasakkan makan siang untukku. Terimakasih siluman melati! Kali ini kau masak apa?”
Siluman melati, pujianku untuknya sebab diam seperti siluman dan harum seperti melati. Purnama dan omaknya tak marah kupanggil begitu.
Purnama hanya tersipu-sipu malu di balik ember cucian piring. Roman wajahnya yang cantik memerah. Tak sedikitpun kata yang terlahir dari bibirnya yang berkerut indah.
“Makanan kesukaanmu, terung bakar lengkap dengan sambal dan lalapannya”
Omak berkata dengan senyumnya, ia melihat kearah anaknya yang berkutat dengan piring-piring kotor menumpuk. Masih, wajah purnama memerah seperti terbakar, senyum ranum menari-nari di bibirnya.
Akupun tanpa buang waktu, segera melahap santapan surga itu dengan sepiring nasi putih sambil sesekali menyeruput kopi kental hitamku. Ribuan kali Purnama melirik senang kearahku, aku menjadi kikuk. Perlahan ia menghampiriku. Rupanya semua piring telah selesai dimandikannya. Ia meletakkan semangkuk air cuci tangan di meja. Lalu duduk terpaku memandangku. Aku bertambah kikuk.
“Masakanmu enak Pur!” berusaha ku tutupi kecanggunganku. Purnama tetap tersenyum bisu. Aku melanjutkan makanku. Suasana menghening. Omak memandang kami dengan riang.
“Bagaimana Purnama menurut kau Vero?”
Ku tersentak kaget. Apa pula maksud pertanyaan omak ini? Aku menjadi gelisah. Kuletakkan sebatang rokok di bibirku yang hitam lalu kumerahkan ujungnya dengan api. Asap memburu keluar dari mulut dan hidungku. Susah payah aku mengalihkan pandanganku dari tatapan Purnama yang menyandraku. Untungnya rambut panjangku yang kumal bisa menyembunyikan roman mukaku yang berubah merah. Mahasiswa-mahasiswi yang sedang berada di kantin itu melahirkan senyum dibibir-bibir mereka. Aku tahu, pastilah mereka menertawaiku. Ku tatap mereka satu-satu, ku hujamkan pandangan marahku hingga semua senyum sirna. Semua menunduk takut kecuali Purnama yang semakin lebar senyumnya. Aku pasti selalu kikuk setiap kali Purnama menatapku seperti ini. Aku sendiri heran kenapa.
“Heh… siluman melati, Seram kali tatapanmu! apa ada hutang yang belum kubayar?”
Aku coba untuk menormalkan suasana dengan bercanda. Purnama tertawa pelan, lesung pipinya tergambar jelas di halus kulit wajahnya.
“Abang belum menjawab pertanyaan omak, Bagaimana aku menurut abang?”
Aduh, ada apa ini, kenapa tiba-tiba omak dan purnama bersikap aneh. Aku lebih senang menghadapi ribuan aparat di garis depan ketika demonstrasi ketimbang berada dalam situasi seperti ini.
“Menurutku kau….., kau……, ya …. Seperti kaulah!” aku menjawab lepas. Tawa meledak di ruangan kantin itu. rupanya sedari tadi mereka semua masih memperhatikan kami. Aku berdiri. Ku kepalkan tangan kurusku. Mereka terdiam. Suasana kembali hening, pelan-pelan satu-satu meninggalkan ruangan kantin itu, enggan menolehku, si gembel kampus.
“Hey, tenanglah Vero, bisa-bisa omak kehilangan pelanggan nanti!”
“Aku tak senang ditertawai, Mak! Sebenarnya ada apa?”
Omak hanya tersenyum! Ia maklum dengan perangaiku sebab ia tahu sejarah hidupku, itulah sebabnya ia kuanggap sebagai pengganti ibu ku yang telah menjadi tanah.
“Kau tanya sendirilah sama Purnama mu itu!”
“Ada apa Pur?”
Purnama menunduk, wajahnya kembali memerah
“Hari ini….”
Belum sempat ia selesai berbicara aku sudah meletakkan sebuah gelang dari akar beringin yang kujalin sendiri.
“Selamat ulang tahun!”
Aku ingin menyulam puisi untuknya. Tetapi entahlah, aku tak bisa. Mungkin aku bukan lelaki romantis. Purnama mengambil gelang itu dengan gemetar lalu memakainya, bulu-bulu halus tangannya tersibak.
Kini giliran omak yang bertempur dengan tumpukan piringan kotor dihadapannya. Sepertinya omak dengan sengaja memberikan waktu untuk kami berdua. Aku yakin Pastilah ini permasalahan serius.
“Sebenarnya ada apa Pur? Apa ada yang bisa kubantu untuk gadis manis siluman melatiku?”
Purnama masih saja tersipu malu, tapi kali ini rona merah di wajahnya semakim terlihat. Lesung pipinya pun membekas jelas. Semua lelaki pastilah akan mengagumi kecantikan gadis peranakan bidadari ini.
“Bang, Purnama sudah meminta restu dari ibu! Beliau setuju. Seandainya ayah masih hidup pasti beliau pun akan menyetujui keputusan Purnama ini, sekarang Purnama minta restu dari abang.”
“Kau masih berniat menjadi TKW ke Malaysia itu Pur?
“Bukan bang, ini bukan masalah keinginan ku untuk menjadi TKW, tetapi Purnama ingin menikah bang!”
Aku kaget mendengarnya. Soalnya ia masih begitu muda. Tetapi segera aku memakluminya. Purnama adalah wanita yang lumayan taat agamanya, dia sering mengajariku tentang aturan-aturan agama, itulah yang perlahan bisa menenangkan kebrutalanku. Baginya menikah adalah satu hal yang mulia. Untuk menghindarkan diri dari zinah.
“Wah, bagus itu! abang dukung seratus persen! Siapa lelaki beruntung itu Pur!”
Aku sangat menyayangi Purnama. Ia mirip adik perempuanku yang sudah lama tiada. Purnama menunduk.
“Kalau abang merestuinya, izinkan aku untuk selalu bisa menyiapkan makan siang buat abang sampai takdirNYA jatuh padaku. Izinkanlah aku berjihad disisimu. Insya Allah bahagia kan kurengkuh!”
“Maksudmu Pur?”
“Tiadalah jalan terbaik bagi cinta selain menikah! Aku mencintaimu bang!”
Jantungku tiba-tiba serasa berhenti. Tubuhku panas dingin seperti meriang. Berkali-kali kugali matanya dengan tatapanku, mencari-cari kemungkinan kalau dia sedang bercanda. Tetapi aku dihujamnya dengan tatapan yakinnya. Tak pernah ia menatap ku serius seperti ini. Roman mukanya bimbang, harap-harap cemas menunggu putusan dariku. Aku masih tidak percaya!
“Hahahahaahaha, jangan bercanda Pur! Kau sedang bercanda kan?”
“Sama sekali tidak! Tetapi aku tidak bisa memaksa abang kalau seandainya abang tidak berkenan! Mungkin belum jodoh! Setidaknya aku sudah berikhtiar!”
Purnama kembali menundukkan kepalanya. Aku tahu ia berusaha sekuat tenaga untuk menahan air matanya agar tidak jatuh. Aku menjadi benar-benar bingung. Aku menyayangi Purnama hanya sebagai adik saja tak lebih dari itu. tetapi aku tak tega mengecewakannya. Sebenarnya aku telah memendam cinta untuk gadis lain. Perempuan yang selalu mendampingiku untuk mewujudkan mimpi revolusi humanisku. Perempuan yang mengabdikan diri sebagai pegiat sosial sepertiku. Susah payah aku memikirkan kata-kata bagaimana mengelakkan permintaan Purnama tanpa membuatnya kecewa, namun tak kutemukan sepatah pun. Tiba-iba omak menghampiri kami. Ia duduk disamping Purnama lalu membelai lembut kepala putrinya yang dilindungi jilbab biru.
“Ver, Omak sudah tua. Omak tidak pernah meminta apapun dari kau, tetapi kali ini omak berharap kau mau menjaga Purnama.”
Aku bungkam seribu bahasa, keadaannya menjadi lebih sulit! Aku tak sanggup menolak permintaan Omak.
“Pur, apa kau benar-benar sudah memikirkan keputusanmu ini matang-matang? Kau tidak tahu siapa sebenarnya aku. Aku Cuma gembel kampus, pengangguran! Apa kau nggak malu punya suami yang kemana-mana jalan. Kaki ayam lagi! Dan aku bukan orang yang taat agama seperti kau! Aku tak mau mengecewakan kau! Kau pantas mendapatkan lelaki yang lebih baik dari aku!”
Purnama mengangkat kepalanya membenamkan tatapannya pada wajahku, kemudian ia tersenyum!
“Aku sudah Istiqarah. Dan aku kenal betul siapa abang sebenarnya. Itulah kenapa aku memilih abang. Uang bukanlah penentu segalanya, lagipula aku tahu kalau abang ikut aktif dalam gerakan pendidikan alternatif dibeberapa wilayah bahkan abang menggunakan hasil keringat abang untuk pengembangan sekolah alternatif sederhana itu. Ku akui abang memang tidak tahu banyak tentang agama, tetapi aku juga tahu kalau abang masih menyisihkan waktu abang untuk mempelajarinya, Ustadz Ikhsan kirim salam untuk abang. Purnama juga sudah meminta pandangannya tentang putusan ini semalam, malah dia menawarkan diri untuk menyampaikan perihal ini pada abang tetapi Purnama merasa harus menyampaikannya langsung!. Agama mengajarkan kita untuk bisa menjadi manusia yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain! Islam mengajarkan kita untuk menjadi Rahmat bagi sekalian alam. Dan menurutku itulah yang sedang abang usahakan lewat gerakan yang abang bangun tanpa abang sadari. Semenjak enam bulan yang lalu Purnama sudah menginvestigasi abang habis-habisan. Banyak lagi pertimbangan yang menyebabkan Purnama memilih abang. Tak perlu Purnama menyebutkannya satu-satu, nanti malah mengotori hati abang. Tetapi sekali lagi, Purnama hanya berikhtiar! Purnama tidak mau memaksa abang!”
Aku hanya terperangah mendengar paparan Purnama. Begitu seriusnya ia. Tak sanggup lagi aku berpikir. Tetapi aku tak mau gegabah mengambil keputusan. Aku harus benar-benar mempertimbangkannya!
“Hmmmm, kalau begitu izinkan aku mempertimbangkannya dulu. aku akan bertukar pikiran dengan ustadz Ikhsan, sekalian belajar bagaimana melakukan Istiqarah! Insya Allah minggu depan aku akan memberikan jawabannya”
Aku berusaha menjawabnya setenang mungkin. Untungnya Purnama dan Omak mau memahaminya. Sepertinya Purnama mengerti akan kegelisahanku, jadi ia memutuskan untuk pulang lebih dahulu. Omak kembali bertempur dengan piring-piring kotornya. Memberikan kesempatan bagiku untuk berpikir.
Aku bertambah risau! Aku belum bisa mencintai wanita lain selain Nadrah. Lagipula Purnama tidak mengetahui kalau sebenarnya aku sedang mencita-citakan sebuah revolusi. Revolusi perubahan sistem lewat penguatan akar rumput! Dan itu menyita seluruh perhatianku hingga tak pernah terpikirkan olehku untuk cepat-cepat menikah! Revolusi butuh pengorbanan besar, meski kini gerakan itu sudah berubah haluan sebab keserakahan pengurus-pengurusnya, cenderung dimanfaatkan untuk kepentingan politik praktis.
Handphoneku berdering, sms masuk. Ternyata dari Nadrah.
Ver, Kau dimana? Kok nggak masuk kuliah? Kau masih sakit? Ada yang ingin kukatakan, tapi kalau kita tidak ketemu hari ini mungkin akan kukabarkan lewat sms saja.
Aduh, aku kehabisan pulsa jadi aku tak bisa membalasnya. Berita apa yang akan disampaikan Nadrah? Emosiku masih belum stabil jadi Nadrah terus saja mendampingiku, ia selalu saja menjadi peredam amarahku yang kadang datang dengan tiba-tiba.
Dari kejauhan aku melihat Erikson dengan kulit sawo matang dan mancung hidungnya. Ia berlari tergopoh-gopoh menghamapiriku. Napasnya memburu jalang. Meskipun secara organisatoris aku kecewa padanya sebab ia termakan arus keserakahan itu tetapi tetap aku tak mampu membencinya sebab ia adalah sahabat terbaikku.
“hah…hah.., ga…,ga.., gawat Ver!”
“Hey kenapa kau Son? berapa banyak rupanya tukang kredit yang mengejar kau?”
“Sialan kau, daong boi hutang mi (Tak ada hutangku). Ini Penting, jangan bercanda dulu! kau… kau.. harus tahu Ver .. hah..hah”
“Ehh, tenangkan dirimu, duduk dulu baru cerita, tak tahan aku mencium bau napas kau yang ngos-ngosan itu.”
Wajah Erikson berubah masam, sedikit tersinggung ia rupanya dengan leluconku. Berarti kabar serius yang akan disampaikannya. Erikson menghenyakkan tubuhnya yang kekar pada kursi di sebelahku. Kursi itu menjerit keras, hampir-hampir saja patah kedua kakinya. Pastilah kursi itu merasakan sakit yang teramat. Lupa permisi, Erikson menenggak kopiku hingga serbuk-serbuk hitamnya pun lenyap tanpa sisa. Erikson belum juga menyampaikan kabar yang dibawanya padaku, sepertinya ia sudah terlupa karena terlalu sibuk menghabiskan makan siangku. Kusingkirkan piring itu dari jangkauannya.
“Aku yakin pasti kau sudah kenyang Son, sekarang katakanlah apa yang ingin kau sampaikan”
Erikson menarik nafas dalam-dalam. Roman mukanya mencerminkan ketakutannya yang mendalam. Ia menoleh ke kiri dan kanan, sepertinya ingin memastikan kalau-kalau ada yang mendengar pembicaraan kami. Aku menjadi semakin penasaran. Dengan nada sedikit tinggi aku memaksanya untuk segera menyampaikan kabar itu padaku. Kembali Erikson menarik nafasnya. Kali ini lebih dalam. Aku tahu ia sedang berusaha untuk menenangkan diri setenang-tenangnya. Kemudian dengan sedikit berbisik ia mulai memberitahuku
“Ver, kau tahu, 15 menit yang lalu, saudara-saudara kita dari kelompok pedagang kaki lima di bongkar paksa oleh kelompok massa tak dikenal. mereka melawan, dan akhirnya bentrok. Dua orang di larikan ke unit gawat darurat. Pondok merdeka kita juga di porak-porandakan, sebahagian dari anak-anak jalanan juga ikut dalam pertempuran melawan kelompok tak dikenal itu, mungkin dari kumpulan preman bayaran. Malangnya beberapa anak-anak jalanan itu di bawa mereka entah kemana setelah dipukuli terlebih dahulu, terus…..”
“Anjing..”
Emosiku meledak, Erikson terjatuh dari kursinya, terkejut dengan makian ku yang melengking. Omak terkejut, ia menatap cemas kearahku yang sudah lepas kendali. Aku merasa api berkobar di mataku. Amarah telah mencapai titik klimaksnya. Aku tak lagi memperdulikan Omak dan Erikson, Aku lari kesetanan menuju lokasi penggusuran. Omak memanggil-manggilku tetapi aku sudah benar-benar lupa diri ditelan amarah. Erikson mencoba mengejarku tetapi ia tertinggal jauh dibelakangnku. Sudah tak sabar rasanya untuk segera melumuri tanganku dengan darah anjing-anjing biadab yang sudah keterlaluan itu. Dilokasi kejadian, aku hanya mendapatkan puing-puing penggusuran dan berpuluh inang-inang1 yang meraung-raung sambil menggendong bayi meratapi porak-porandanya kedai mereka, satu-satunya mata pencaharian yang menghidupi mereka sekeluarga. Sementara tak seorangpun kelompok preman bayaran yang ku temui, mungkin mereka sedang berpesta pora merayakan kebringasan mereka yang berhasil mutlak. Sudah tak mampu lagi aku melukiskan emosiku dengan kata-kata. Aku mengirimkan sms untuk Purnama. Kutuliskan permintaan maafku. Ia langsung menelponku, tetapi tak kuangkat. Aku takut luluh mendengar suaranya. Hari ini darah harus dibalas dengan darah, aku sudah siap mati. Aku mengambil sebatang balok lalu menggenggamnya dengan marah di tangan kananku. Tanpa membuang waktu aku langsung menyetop angkutan umum kemudian duduk kaku di dalamnya dengan balok yang tergenggam pasti di tangan. Mataku menatap lurus, penuh dendam. Sementara penumpang lainnya menggeser duduknya menjauhiku. Mereka memandang dengan takut. Beberapa kali supir angkot itu melirik dari spionnya, namun ia tak berani menegurku. Aku sudah tidak perduli lagi dengan sekeliling ku, yang ada hanyalah dendam, dendam dan dendam. Darah harus di balas dengan darah. Di depan sebuah gedung perkantoran aku turun, ku berikan Rp.5000,- pada supir angkot yang menerimanya dengan tangan gemetar. Aku tak mengambil kembaliannya. Segera saja ku menerobos masuk ke gedung putih megah itu. aku tahu perusakan paksa ini pasti ada hubungannya dengan pengkhianat yang ada di dalam gedung itu!. Perusakan ini adalah salah satu strategi untuk menghancurkan gerakan yang sedang aku bangun lalu mengambil alih dan memanfaatkannya untuk kepentingan pribadi. Aku tak lagi menimbang-nimbang resiko yang bakal kuterima karena emosi yang membuncah dan kekecewaan akibat pengkhianatan ini, aku kehilangan makna perjuangan. Di halamannya, aku dicegah oleh dua orang penjaga keamanan. Perkelahianpun terjadi. Untung saja aku tak menghabisi mereka dengan balokku. Keduanya roboh setelah tinjuku menghantam tepat di jakun mereka. Aku berlari membabi buta masuk kedalam istana megah itu. hanya untuk satu tujuan. Meminta pertanggung jawabannya. Atau kalau ia mengelak maka balok perkasa ku akan bicara di kepalanya. Namun niatku tak tersampaikan, sebab aku telah di robohkan oleh seorang algojo berbadan kekar yang berjaga di lantai satu. Pintu masuk menjadi saksi atas ceceran darah yang mengalir dari kepalaku akibat hantaman pentungannya. Aku terhuyung-huyung, tiba-tiba entah dari mana ramai orang ikut mengeroyokku. Pukulan bertubi-tubi menghantam kepalaku yang sudah hampir remuk, perut dan dadaku dipenuhi puluhaan tendangan, aku merasakan balok yang tadi ku bawa kini menghajar tengkukku. Aku jatuh, aku merasakan sakit teramat sangat di sekujur tubuhku. Tiba-tiba pandanganku menjadi nanar. Aku merasaakan pusing yang teramat sangat. Seluruh kepalaku dingin seperti membeku. Wajah Nadrah yang sangat kucintai hadir dalam pandanganku, lalu kuteringat pada pungguk. Kini kusadari tak ada bedanya aku dengan pungguk itu. aku hanya bisa merindukan perempuan yang kucintai dalam bisu. Aku tak pernah mengungkapkan perasaan yang sudah kupendam menahun padanya, aku hilang makna. Kini sebentar lagi ku kan tiada, ku kan hilang jasad.
Aku masih bisa merasakan handphoneku bergetar disaku celana, sms masuk. Aku merasakan ada tangan kasar yang merogoh kedalam saku celana lalu mengambil paksa handphoneku dan membacanya dengan keras, sayup-sayup aku masih bisa mendengar, ternyata sms dari Nadrah.
“Wahai lelaki dengan darah juang, sungguh aku sangat mencintaimu! Aku mencintaimu semenjak kita berdua ada di punggung kerbau, aku mencintaimu semenjak lantunan serulingmu menghias telingaku bahkan mungkin aku sudah mencintaimu semenjak aku belum dilahirkan. Ver, kumohon, jangan pernah surut semangat hidupmu sebab aku selalu berdoa untuk bisa menjadi ibu bagi anak-anakmu kelak!”
Perlahan air mataku menetes, kenapa aku harus mati disaat aku mengetahui bahwa Nadrah ternyata mencintaiku. Maafkan aku Nad, aku tak bisa mempertahankan hidup.
“Bangsat! Kenapa harus kau yang dicintainya! Kau memang pantas mati!”
Lelaki itu menjadi berang, seperti kesurupan ia mengambil balok yang tergeletak dilantai lalu dengan rakus memukulkannya bertubi-tubi ke tubuhku. Aku merasakan sakit yang teramat sangat.
Perlahan sekelilingku menjadi lebih gelap, gelap dan akhirnya hitam sama sekali. Suara-suara gaduh, caci maki dan cemooh pun perlahan menjadi sayup-sayup di telingaku. Aku merasa seperti melayang. Tubuhku terasa sangat lemah dan sakit menjalari seluruh persendian tulangku, bertambah sakit dan akhirnya aku tak lagi merasaakan apa-apa. Semuanya hitam tanpa batas, Aku menghilang. Hilang makna di jasad hilang.

Sebuah Kisah
Malam Karam, Suram Haram

Erikson seperti menunggu cemas di dalam ruangan kelas. Satu kursi di pojok kanan tepat di samping jendela terdiam cemburu, sebab kursi-kursi lainnya sudah berderit ceria. Erikson semakin cemas, tak lepas matanya mengunci pintu masuk di sebelah kanannya. Berharap hari ini adalah hari biasa, dimana ia selalu mendapati Vero menerobos masuk kedalam kelas ketika pelajaran sedang dimulai, membantingkan punggung di kursi kesayangannya lalu mematung dalam imajinasi pikiran sampai pelajaran usai. Sempat terlintas juga di benak Erikson peristiwa yang cukup menggemparkan seluruh universitas tentang Perkelahian yang terjadi di dalam ruangan antara Vero dengan Dosen agama yang menjadi berang lalu langsung menyerang dengan brutal ketika Vero menjawab tuduhan Atheis dan Komunis yang dilemparkan kepadanya dengan tawa yang menggelegar.
“Hahahahahahaaaahaha…, Terimakasih, ternyata bapak cukup berani untuk menunjukkan kebodohan bapak di depan kelas. Saya yakin komunis dan atheis yang ada di kepala bapak adalah cerita-cerita mati yang bapak lahap mentah-mentah tanpa analisis fakta dan perbandingan terlebih dahulu. Lebih baik membeli buku daripada memelihara ayam di kampus Pak!”. Selama beberapa menit Erikson terus mengingat-ingat peristiwa seru yang membuatnya tersenyum sendiri itu, ia membayangkan wajah dosen agama yang memerah saga sebab diungkap belangnya yang sudah menjadi rahasia umum. Erikson masih mengunci matanya pada pintu masuk yang terbuka dengan lebarnya, sehingga ia tidak menyadari kehadiran dosen filsafat yang kini telah berdiri di samping kirinya. “Prof. Kayu Laut”, memang aneh seperti itu namanya tapi dosen itu selalu mengatakan bahwa namanya adalah landasan filsafat hidupnya. Pria tua jangkung berkulit legam dengan keriput berserak di wajahnya itu membungkukkan badannya lalu mendekatkaan mulutnya pada telinga Erikson.
“Pintu itu takkan bergerak sedikitpun walau kau pandang dengan birahi, dan tubuhmu yang cukup berseni ini takkan bisa berpindah keluar kalau kau tak menggerakkannya. Sungguh, Aku tak membutuhkan bangkai di kelas filsafat ku, pintu itu sengaja ku buka lebar untuk jasad-jasad tanpa jiwa yang membangkai. Ku sarankan kau keluar, lalu cari dulu jiwamu sebelum kau bersama kami untuk memfilsafati jagad raya ini.”
Tawa menggelegar di dalam kelas, wajah Erikson kontan berubah abu-abu. Ia tahu Prof. Kayu Laut tidak pernah main-main dengan ucapannya. Kalau dosen sinting itu menyarankan seseorang untuk keluar dari kelasnya, maka itu berarti benar-benar harus keluar kalau tidak mau menjadi bulan-bulanan selama pelajaran berlangsung. Erikson mengangkat ranselnya dari lantai, tanpa memandang ke arah Prof. Kayu Laut, ia bergegas keluar dari ruangan kelas yang masih dipenuhi tawa cemooh.
Pohon beringin itu sudah sangat tua, dengan diameter batang sebesar kerbau dan rimbun daun seperti payung raksasa membuat Erikson tergoda untuk duduk dibawahnya. Kembali ia mencoba menduga-duga dimanakah sebenarnya keberadaan Vero. Galau hatinya tak lagi mampu membuatnya konsentrasi untuk berpikir. Rasa lapar menyusup kedalam lambungnya, bergegas Ia menuju kantin. Harap harap cemas menemukan Vero disana.
“Hallo Nad, ini aku Erikson. Temui aku di kantin, ada yang ingin ku ceritakan padamu. Lima belas menit kau harus sudah sampai di sini ya. Ini gawat darurat, mengenai Vero!”
Eriskon menutup telepon genggamnya
“Eh, Son, Mana Vero, dari pagi tadi kok tidak kelihatan? Dia baik-baik saja kan? Kenapa ia berlari seperti orang kesurupan semalam!
“Aku juga sedang mencari dia mak, aku juga mengkhwatirkannya. Jangan jangan…”
“Ah…, jangan kau berpikir yang bukan-bukan, sama saja kau mendoakannya celaka. kalau kau bertemu dia, tolong kabarkan padanya kalau Purnama sakit”

Wajah omak menggambarkan kekecewaan, tetapi Erikson tak mau menanyakannya. Erikson hanya bisa terdiam, wajahnya tertunduk menatap meja yang membisu kosong. Tiba-tiba saja selera makannya hilang. Erikson gelisah. Berulang kali terdengar jeritan derit kursi tua menahan sakit karena badan Erikson yang tak mau diam. Kreeetaak kaki kursi itu patah. Sekali lagi Erikson jatuh ke lantai. Tiba-tiba emosi Erikson memuncak, ia mengambil patahan kursi itu lalu membanting-bantingkannya kelantai hingga pecah-pecah. Mahasiswi yang sedari tadi asyik bergosip tak jauh dari tempat Erikson, menjerit kaget lalu berhamburan ketakutan. Sementara mahasiswa lainnya tak ada yang berani menenangkan Erikson. Mereka tahu yang sedang mengamuk itu bukanlah mahasiswa sembarangan, ia adalah seroang demonstran yang terkenal anarkis dan tak takut mati. Tetapi tidak ada yang tahu tentang jati dirinya yang sebenarnya. Tidak ada seoranag pun yang mengetahui bahwa ia adalah wakil ketua dari Gerakan Revolusi bawah tanah “BASMI” (Barisan Mahasiswa Siap Mati) yang selalu melakukan aksi brutal untuk melawan setiap bentuk penindasan yang di lakukan baik oleh kelompok birokrasi universitas maupun birokrasi Pemerintah. Sudah beberapa kali Erikson di ancam pecat dari universitas, namun ia tak perduli. Mungkin sudah puluhan kali ia keluar masuk sel karena tuduhan provokator, tapi selalu saja di bebaskan kurang dari tiga hari sebab bukti tak lengkap. Aksi terakhir yang mereka lakukan adalah aksi massal tolak penggusuran dan usut tuntas kasus korupsi, mengerahkan ratusan mahasiswa dari simpul BASMI yang ada di setiap Universitas dan ratusan masyarakat biasa yang terdiri dari pedagang kaki lima dan anak-anak jalanan yang kesemuanya merupakan kelompok dampingan. Aksi itu berakhir bentrok dengan preman-preman sewaan yang mengakibatkan terjadinya kerusuhan massal. Erikson sempat di culik oleh oknum tak di kenal setelah aksi tersebut. Untung saja Ketua BASMI segera mengusut dan melakukan Sweeping ke daerah-daerah kekuasaan Preman, akhinya Erikson di temukan kritis di salah satu rumah kosong tak jauh dari lokasi kampus. Satu hari setelah Erikson di ketemukan, posko preman di sekitar daerah tersebut hancur di bumi hanguskan massa BASMI. Nama BASMI sudah cukup membuat orang-orang bermasalah menjadi gentar. BASMI juga sudah menjadi daftar utama investigasi di kantor kepolisian bahkan beberapa intelejen juga sudah mulai wara-wiri mencari informasi sebab gerakan ini mendapat dukungan dari jaringan internasaional. Gerakannya yang radikal terkadang anarkis membuat setiap kegiatan kelompok ini menjadi headline di surat kabar.

Erikson terduduk lemas di lantai, Omak hanya memandanginya dengan pucat pasi. Mungkin terlalu shock hingga ia pun ikut-ikutan takut dengan Erikson. sepuluh orang satpam kampus menghampirinya dan menggiringnya ke posko, namun tak seorangpun yang berani membentaknya atau memukulnya. Kalau saja yang di giring itu bukanlah seorang Erikson maka ceritanya akan menjadi lain.
“Son, Apa lagi ini, tak cukupkah kau membuat keributan? Janganlah kau persulit pekerjaan abang di kampus ini. Kau hargailah sedikit abangmu ini. Kalau abang sampai dipecat mau makan apa keluarga abang.”
Kepala satpam berbicara empat mata dengan Erikson di ruang kerjanya. Pak Asram kenal betul dengan Erikson, kebetulan pak Asram adalah alumni dari organisasi ekstra kampus yang pernah mengkader Erikson. Pun sempat beberapa kali Erikson berdiskusi mengenai nilai dasar perjuangan organisasi dengan pak Asram ketika Erikson baru beberapa hari lulus training latihan kader I tingkat cabang. Namun Erikson memutuskan keluar dari organisasi tersebut karena ia menganggap bahwa sistem aplikasi di organisasi tersebut sudah korup dan tak bisa di perbaiki lagi. Akhirnya ia bergabung bersama BASMI yang ternyata merupakan kumpulan orang-orang yang kecewa dengan payung organisasi yang dianutnya. Erikson bungkam seribu bahasa. Matanya menyala garang menembus dua bola hitam mata pak Asram yang sontak terdiam lalu berkeringat. Tatapan tajam Erikson melumat-lumat habis keberanian pak Asram. Erikson berdiri dengan tiba-tiba hingga kursi yang di dudukinya terlempar. Pak Asram lompat kebelakang mengambil kuda-kuda tempur, tetapi kedua lututnya terlihat bergetar. Erikson masih memainkan tatapannya yang tajam. Dengan sedikit mendesis Erikson melemparkan kata-kata senjatanya.
“Jika ada lagi perlawanan terhadap keinginan kami di kampus ini, maka anda akan merindukan matahari pagi selama-lamanya!”
Erikson berjalan tenang menuju pintu meninggalkan pak Asram yang masih terpaku dengan kuda-kuda semunya. Mulutnya menganga tak sanggup mengeluarkan sepatah katapun. Erikson bergegas kembali ke kantin setelah ia bisa mengendalikan emosinya. Di lihtanya aktivitas kantin sudah normal kembali, tetapi hanya untuk beberapa saat saja. Kantin menjadi hening ketika ia melangkah masuk kedalamnya. Semua mata tertunduk tak berani menatapnya, beberapa mencuri-curi pandang. Tak ada yang berani berbisik-bisik. Erikson tahu pastilah ia telah di hujat habis-habisan di forum-forum diskusi oleh mahasiswa-mahasiswa pengecut yang beraninya hanya main tikam dari belakang. Erikson melangkah menuju omak yang sedang sibuk membuat gado-gado pesanan.
“Purnama, Tolong kau ambilkan dulu omak air segayung”
Erikson bergegas mengambil gayung dari tangan purnama yang terlihat pucat karena sakit, Erikson mengisinya dengan air lalu menyerahkannya kepada omak yang raut wajahnya berubah ketakutan.
“Mak, maafkaan Erikson mak! Bukan maksud Erikson menakuti Omak, atau membuat keributan di kantin Omak , Erikson lepas kendali Mak!”
Erikson meraih tangan Omak lalu menciumnya dengan penuh perasan bersalah. Erikson membelakangi seluruh pengunjung kantin untuk menutupi matanya yang mulai berkaca-kaca.
Nadrah memburu Erikson dari belakang lalu dengan keras menjitak kepalanya, Plak!
“Dasar anjing! Tega-teganya kau mengamuk di warung Omak, Dimana otak mu hah! Dasar kerbau! Kau memanggil aku Cuma untuk pamer kekuatan ya!”
“Heh, Nadrah tenang dulu! Tidak kan ada laki-laki yang sudi sama perempuan sepertimu! Jangan asal menuduh! Aku kan sudah meminta maaf pada omak”
“Lantas, kenapa kau memanggilku, hah”
Erikson menatap Nadrah dengan serius, roman mukanya berubah datar. Nadrah memperhatikannya tanpa kedip, Nadrah menangkap isyarat bahwa pasti sesuatu yang lumayan parah sedang terjadi dan ini berkaitan dengan gerakan BASMI.
“Pakai baju merahmu!”
Dengan datar dan dingin Erikson mengucapkan kata-kata itu, kengerian langsung tergambar di wajah Nadrah. Sekujur tubuhnya bergetar. Warna mukanya putih memucat seperti mayat. Titik-titik air keringat mulai bermunculan di wajahnya yang ayu. “Pakai baju merahmu” adalah kata sandi yang hanya diketahui oleh orang-orang BASMI. Berarti keadaan gawat darurat tingkat satu yang berkaitan dengan hidup matinya gerakan BASMI. Kalimat yang selalu menjadi momok bagi pengurus inti BASMI.
“Dimana Vero?”
“Ia sedang berlibur di malam hari”
Nadrah tak kuasa menahan air matanya. berulang kali ia mengucapkan kata “tidak” yang ditujukan untuk dirinya sendiri. Nadrah terduduk lemas di kusri kantin itu. kakinya tak lagi sanggup menopang berat badannya. Pengunjung yang lain hanya memperhatikan mereka dengan penuh tanda tanya tak mengerti apa yang sedang mereka bicarakan termasuk omak. “berlibur dimalam hari” berarti di culik dan tidak diketahui dimana keberadaannya.
“Sementara waktu, aku mengambil alih. Seragam merahkan barisan satu lainnya. Aku akan pulang menunggu angkot di jalur 2 pukul tujuh malam nanti.”
Erikson berlalu dari kantin setelah berpamitan dengan omak yang kini tak lagi takut padanya. Di serahkannya dua ratus ribu rupiah kepada omak untuk memperbaiki lantai yang baru saja dihancurkannya. Nadrah masih terkulai lemas di kursi, tatapan matanya kosong. Berkali-kali ia menyebutkan kata “tidak”. Dicbanya berulang kali menghubungi Vero tetapi tak bisa.
Pukul tujuh malam, kamar kost Erikson terlihat sepi dari luar. satu jendelanya ditutup dengan kain gorden berwarna merah. Angka dua terpampang dengan jelas di pintu masuknya. Di dalamnya tiga orang duduk membentuk lingkaran. Erikson memandang kaku kearah pintu. Sementara dua orang lainnyaa sibuk memencet-mencet tombol ponsel mereka, mengirim sms rupanya.
“Kita tunggu Nadrah 3 menit lagi”
Erikson memecah kesunyian. Dua temannya hanya mengangguk. Gagang pintu bergerak kebawah, perlahaan pintu terbuka. Wajah ayu Nadrah menyembul dari baliknya.
“Maaf, aku terlambat dua menit”
Nadrah langsung mengambil posisi di lingkaran itu. suaranya serak, ia menunduk menyembunyikan kedua matanya yang sembab. Tapi ia tidak bisa membohongi Erikson yang sudah tahu bahwa pastilah ia menangis seharian. Erikson hanya bergumam kecil “Dasar perempuan”
“Sebaiknya kita tidak membuang-buang waktu lagi. Mari kita bergerak sekarang. Mungkin kawan-kawan yang lain sudah berkumpul!”
Sapta angkat bicara. Lelaki berkulit putih, kekar dan tampan itu merupkan ketua BASMI Simpul Universitas Pembaharuan
“Baiklah kalau begitu, kita berpencar untuk mengalihkan perhatian kalau-kalau ada yang mencoba untuk membuntuti kita. Aku akan melintasi jalan Gatot subroto, kau Erikson dari jalan Karya, kau Nadrah memotong dari sei serapuh. Dan Sapta, kau dari Sei Sikambing. Kawan-kawan yang lain sudah menunggu di lokasi. Kita kumpul di rumah Sapta tepat jam delapan.”
Selesai Garda memberi instruksi, merekapun langsung bergegas pergi lewat pintu belakang. Garda adalah seorang konseptor ulung. Lelaki jangkung besar itu merupakan ketua simpul dari Univeristas Merah Putih

Pukul delapan. Mereka telah berkumpul di rumah Sapta. Ibunya sapta menyambut mereka dengan hangat. Ibunya tak tahu tentang aktivitas anaknya. Yang ibunya tahu hanyalah Sapta sering pulang malam karena belajar kelompok bersama kawan-kawan kampusnya. Sapta langsung bergegas masuk kedalam kamarnya, mengambil kunci mobil. Setelah mobil dikeluarkan, kawan-kawan lainnya dengan sigap memasukkan sepeda motor mereka kedalam garasi. Sapta berpamitan dengan ibunya. Ia mengatakan akan menghadiri undangan reuni kawan-kawan lamanya. berempat mereka menuju rumah Garda. Di rumah Garda, puluhan mahasiswa dari berbagai universitas sudah kumpul. Sekilas terlihat seperti reuni biasa. Bakar-bakar ayam dan ikan di halaman, bermain gitar sambil bernyanyi bersama, tertawa-tawa riang. Empat orang turun dari mobil kijang. Sontak seluruh mata menuju kearah mereka, beberapa detik keadaan sempat menjadi tegang lalu kembali mencair setelah mengetahui bahwa yang turun adalah Erikson dan kawan-kawan. Mereka langsung di sambut hangat oleh yang lainnya. Rumah Garda berada jauh dari pusat kota. ditengah-tengah perkebunan palawija. Hanya ada sekitar 3 rumah disana, itupun jaraknya cukup berjauhan. Garda tinggal sendiri di rumah itu sebab orangtuanya sudah pindah kekota lain.
“Ya, lanjutkan saja silaturahminya, biar yang pandai-pandai masak ikut kami kedapur!”
Garda memberikan isyarat kepada seluruh ketua simpul untuk segera melakukan diskusi tertutup di dapur. Sementara anggota lainnya tetap melanjutkan acara ramah tamah di luar sebagai pengalih perhatian. Lima orang duduk melingkar. Semuanya berwajah tegang. Tak satupun yang berani angkat bicara terlebih dahulu. Hanya saling melempar pandang penuh tanya. Semuanya terlihat shock karena mendapat kode “pakai baju merahmu” secara tiba-tiba. Belum sempat Erikson angkat bicara, ponsel garda berdering. Harap-harap cemas itu dari Vero, ternyata bukan. Panggilan dari Eko yang menjaga di ruang tengah. Garda mengaktifkan loadspeaker handphonenya hingga semua yang ada di ruangan dapur itu bisa mendengarnya dengan jelas.
“Gar, di depan ada mobil van hitam berhenti. Dua orang bertubuh kekar keluar dari mobil van itu ia menuju ke kerumunan anak-anak!”
semuanya mendengar dengan tegang. Erikson langsung angkat bicara.
“Eko, Semua anak-anak sudah paham kan, kalau ada orang asing yang bertanya tentang apapun jawabannya adalah “tidak tahu”!
“Sudah Son!”
“Kalau begitu persenjatai kawan-kawan yang ada di ruang tamu dan barisan pagar hitam yang berjaga di sekeliling rumah. Kita harus segera mengantisipasi segala kemungkinan terburuk yang bakal terjadi. Segera kabari lagi perkembangannya ok.”
Komunikasi terputus. Semua orang yang ada di dapur itu menegang wajahnya. Detak irama jantung tak teratur lagi. Tengkuk serasa memanas dan bulu-bulu kuduk berdiri. Peralatan yang ada di dapur itu pun seperti ikut menggigil ketakutan, diam tak bergeming sedikitpun di segala sudut yang ada. Hampir semua mahasiswa yang katanya siap mati itu menegang dalam ketakutan masing-masing. Hanya Erikson yang tersenyum santai. Saat-saat seperti ini membuatnya bergairah, naluri kejantanannya bangkit, khayalnya melambung jauh pada kejadian satu tahun lalu, keadaannya persis seperti malam ini, ketika tempat rapat managemen aksi mereka tiba-tiba diserang puluhan orang tak dikenal bersenjata lengkap. Waktu itu Ia dan Vero terpksa dilarikan ke unit gawat darurat sementara putra kelana, sahabat terbaik mereka tak terselamatkan, wafat demi memperjuangkan revolusi yang sudah tiga tahun lalu mereka lakonkan. Kisah Itu kini menjadi legenda bagi generasi penerus Basmi yang hari ini berkumpul di rumah Garda. Erikson dan Vero adalah pelaku sejarah yang tersisa.
Ponsel Garda kembali berdering. Ternyata kembali panggilan dari Eko. Dengan sigap Garda mengaktifkan kembali loudspeaker handphonenya. Kali ini suara Eko lebih gemetar dari yang sebelumnya!
“Son, Gawat. Sepertinya aktivitas kita malam ini sudah ketahuan. Dua orang itu menanyakan tentang Vero dan Kau. Meski anak-anak menjawab tidak tahu tetapi dua orang itu tetap memaksa. Mereka sempat mengancam anak-anak. Suasana di luar sudah menegang Son! Apa yanag harus di lakukan sekarang?”
“Apakah dua orang itu masih di halaman depan sekarang?”
“Tidak mereka sudah pergi, tetapi tidak jauh. Mereka memarkirkan mobil mereka di ujung jalan Son.”
“Ok, kalau begitu segera evakuasi anak-anak baru ketempat yang aman. Bawa mereka kerumah pak Salman, ketua RT. Ingat mereka tidak boleh berpencar!”
“Bagaimana dengan barisan pagar hitam kita yang berjaga di sekeliling rumah son!”
“perintahkan kepada mereka untuk melebarkan jarak jaga, suruh mereka bersembunyi di parit-parit atau di atas pohon. Perintahkan kepada mereka untuk siaga satu. Setelaah itu kunci seluruh pintu. Cukup pintu belakang saja yang terbuka . Oh ya, jangan lupa perintahkan juga pada mereka untuk mengamankan jalur belakang! Tenanglah Ko, tidak akan terjadi apa-apa malam ini. Tuhan bersama orang-orang yang sabar. Terus kabari kalau ada perkembangan yang terjadi”
komunikasi kembaali terputus. Suasana semakin mencekam. Nyanyian burung hantu di samping rumah menambah yakin tentang kengeriaan di malam karam ini. Erikson menarik napasnya dalam-dalam.
“Pertemuan kita malam ini sudah terbongkar. Ini berbahaya, identitas kita sebagai anggota BASMI bisa-bisa bocor! Bagaimana mereka bisa mengetahuinya? Aku sangsi ada diantara kita yang tidak bisa dipercaya.”
Nadrah yang sedari tadi bungkam mulai terisak dan meneteskan air matanya. Erikson menjadi sedikit geram melihat kecengengan Nadrah.
“Nad, bukan saatnya menangis. Kita semua butuh konsentrasi untuk mencari jalan keluarnya”
“Bajingan….., siapa pengkhianat diantara kita, Ayo mengakulah, akan ku adu nyawaku dengan nyawanya!?”
Arman, ketua simpul dari unversitas Arca Merdeka menuding dengan berang. Ia sudah mengetahui kondisi terkini Basmi yang diambang kehancuran. Sebab ia baru saja pulang dari pertemuan simpul jaringan internasional BASMI yang diselenggarakan di Makassar. Vero mengutusnya dua minggu yang lalu. Tak ada yang berani menanggapi tudingan Arman. Semuanya terdiam. Arman berusaha sekuat tenaga menahan emosinya yang meluap-luap. Kembali Erikson menarik nafasanya dalam-dalam. Ia memejamkan matanya untuk beberapa saat kemudian mencoba untuk mengalihkan pembicaraan dari tudingan Arman agar tidak terjadi pertengkaran di ruangan itu.
“Semalam keluarga kita dari kelompok pedagang kaki lima di sepanjang jalan pancing di bongkar paksa. Gubuk tempat belajar anak-anak jalanan yang kita bangun itupun ikut dirubuhkan. kabarnya yang melakukan pengrusakan itu bukanlah petugas. Informasi yang kudengar, oknum tak dikenal yang melakukannya. Semuanya bertato. Mungkin kelompok preman bayaran. Aku yakin kalian sudah membaca beritanya di surat kabar hari ini.”
“Lalu kenapa Vero bisa sampai di culik?”
Sapta menimpali. Sebahagaian besar yang ada di dalam ruangan itu tersentak kaget. Rupanya belum semuanya yang mengetahui perihal hilangnya Vero. Perasaan bingung mereka sedari tadi terjawablah sudah. Lagi-lagi Erikson menarik nafasnya dalam-dalam. Wajahnya berkerut, ekspresi sedih campur bersalah tergambar jelas di mimik wajahnya.
“Aku langsung mendatangi dan memberitahu Vero yang sedang makan siang di kantin omak perihal kabar tersebut. Mendadak Vero mengamuk dan lepas kendali. Ia berlari kesetanan ketempat lokasi pembongkaran. Aku tak berhasil berhasil mengejarnya. Sampai di lokasi pembongkaran aku tak lagi menemukan Vero disana. Kawan-kawan di sana mengatakan, mereka melihat Vero pergi dengan angkutan umum entah kemana. Mereka bilang Vero menggenggam erat balok di tangannya. Sampai saat ini tak terdengar lagi kabar dari Vero.”
Erikson diam. Kepalanya menatap tikar alas duduk mereka yang mulai berkerut cemas. Nadrah tak lagi mampu membendung tangisnya. Wajahnya yang putih kini berubah kemerah-merahan, matanya menjadi semakin sembab dan pipinya yang ranum basah di jilati air mata yang kian deras mengalir. Api menyala-nyala di mata Arman, tangannya mulai terkepal erat. Urat-urat di kepalanya menonjol. Giginya bergetar. Tak mampu lagi ia membendung amarahnya yang teramat sangat.
“Bangsat……….., siapa pengkhianatnya? Pastilah anjing biadab itu ada di antara kita. ayo mengaku saja sebelum kubunuh kalian semua!”
“Arman, Tenang! cukup sudah kita kehilangan Vero. Aku yakin Vero pasti tak ingin kehilangan kita meskipun ada seorang pengkhianat diantara kita. lagipula setiap kita tertuduh termasuk aku, termasuk kau!”
Erikson meninggikan suaranya. Tak pernah ia berkata setegas dan sedatar ini. Arman kontan terdiam. Wajahnya memerah malu meski tangannya kian terkepal.
“Ber…hen..tilah untuk sa..ling menyalahkan…., kita harus ber..pikir bagai..mana mene..mukan Vero..”
susah payah Nadrah mencoba untuk berbicara, karena sesengguk tangisnya belum juga berhenti. Aini yang sedari tadi bungkam menjadi emosi karena ia menjadi semakin tidak mengerti tentang duduk persoalan yang sebenarnya. Maklumlah, baru dua hari yang lalu Ia dinyatakan lulus menjadi barisan inti BASMI.
“Diam kalian semua! Jangan bertingkah seperti Monyet! Aku semakain tidak mengerti apa kaitan antara pembongkaran biadab itu kemudian hilangnya Vero dengan tuduhan pengkhianatan yang kalian lontarkan di barisan inti BASMI. Kumohon, ceritakan dari awal biar kita sama-sama mengerti, itupun kalau kalian benar-benar sudah menganggap aku sebagai pengurus inti BASMI yang tidak khianat!”
tak sedikitpun suara terdengar selepas Aini berbicara. Kata-katanya memukul telak keegoan pengurus inti basmi lainnya.
“Yah, aku pikir benar apa yang dikatakan Aini, kita harus benar-benar paham tentang runut persoalannya, biar akupun bisa menjelaskan kepada kawan-kawan di universitas satu nusa. Aku pikir yang paling berhak menjelaskaannya adalah Erikson sebagai wakil ketua pusat simpul BASMI.”
Bhairawa mempertegas kehendak Aini. Tak ada satupun yang membantah keinginan itu. banyak dari mereka yang sedari tadi hanya bungkam dan menganggukkan kepala saja. Erikson menegakkan badannya. Disapunya satu-satu wajah yang ada di dalam ruangan itu dengan matanya yang terhunus seperti pedang.
“Baiklah kalau begitu, kita hilangkan rasa saling curiga kita! kalian semua mungkin sudah tahu perihal rencana besar kita di tahun ini! Dua hari lagi kita akan mengadakan aksi besar-besaran yang akan dihadiri oleh seluruh simpul yang ada di indonesia. Untuk itulah Vero mengirim Arman Ke pertemuan jaringan internasional di Makassar untuk mematangkan rencana. Beberapa simpul di luar negeri juga akan menggelar aksi massal dengan tuntutan yang sama di kedubes Indonesia di masing-masing negara. Kita juga telah mendapat dukungan dari media internasional untuk memblow up issu yang kita angkat hingga kita bisa mengglobalkan tuntutan lokal. Jadi mau tidak mau pemerintah akan mengabulkaan tuntutaan kita. Targetannya adalah layanan kesehatan gratis, pendidikan gratis bagi rakyat miskin, hak tempat tinggal bagi rakyat yang tidak memiliki surat tanah tetapi sudah menetap bertahun-tahun sehingga mereka tidak lagi terancam penggusuran paksa serta hak berjualan secara aman bagi pedagang kaki lima dan banyak lagi lainnya. Intinya adalah penyamarataan hak setiap warga negara tanpa harus lagi di kastakan oleh kekayaan harta. kalau pemerintah menolak, maka rencana selanjutnya adalah kudeta. Merebut kantor-kantor pusat pemerintahan di setiap kota. Hidup atau mati. Dua hari lagi adalah titik tolak dari revolusi yang sudah direncanakan tiga tahun yang lalu.”
“Ya, pastilah pengurus inti BASMI sudah benar-benar mengetahui tentang rencana itu, lalu apa hubungannya dengan kehilangan Vero dan pengkhianatan?”
Aini memburu Erikson dengan tidak sabar. Semua mata menatap kearah Aini. Mereka merasa terganggu dengan pertanyaan Aini yang menyela cerita Erikson. Aini tertunduk rikuh. Ia menyadari ketidak sabarannya mengganggu yang lain.
Erikson menatap kosong kearah tembok kusam didepannya yang berdiri sekaku mayat. Ia menghela nafasnya. Tak ada lagi ekspresi selain kekecewaan yang mendalam. Kemudian ia mengeluarkan beban pikirannya dengan menyambung ceritanya yang tertunda.
“Yah, kau benar Aini, pengurus inti BASMI sudah mengetahui rencana akbar itu. tetapi ternyata tidak semua pengurus inti yang benar-benar siap mati untuk itu. hingga kita lengah. Akhirnya kita tidak sadar rencana yang sudah di persiapkan tiga tahun yang lalu di rusak oleh penyusup. Semua ketua kelompok dari tiap sektor masyarakat marginal di culik semalam. Hampir semua kelompok dampingan kita menyatakan mundur! Kekuatan massa rakyat yang tersisa adalah dari kelompok pedagang kaki lima dan anak jalanan yang di porak-porandakan semalam dan akhirnya mereka juga menyerah. Kini kekuatan kita dari massa rakyat sudah tiada. Sementara basis massa dari kelompok-kelompok studi mahasiswa juga berpaling. Hal ini tidak hanya terjadi pada kita. kawan-kawan simpul di kota lain juga mengalami hal yang sama. Mungkin nanti Arman bisa menyampaikan keadaan basmi secara nasional berdasarkan hasil pertemuan di makassar. Aku yakin kawan-kawan masih ingat pertemuan kita sebulan yang lalu, Vero dalam kapasitasnya sebagai ketua sudah mengingatkan tentang kemungkinan yang terjadi hari ini. Namun kawan-kawan lupa menindak lanjutinya hingga keadaannya menjadi genting seperti ini. Jujur, pastilah Vero merasa sangat kecewa dengan kita. namun pertanyaannya adalah ; bagaimana rencana kita bisa sampai terbongkar? Dan bagaimana kelompok orang tak dikenal itu bisa mengetahui seluruh data-data rahasia beserta strategi pergerakan kita? pastilah ada salah seseorang yang membeberkannya! Aku yakin itu. Inilah yang menyebabkan Vero kehilangan kepercayaan pada kita sehingga ia cenderung melakukan segala sesuatunya sendirian saja. Ini jugalah yang menyebabkannya frustasi hingga kehilangan akal setelah mendengar kabar kekuatan kita yang terakhir di porak-porandakan oleh oknum tak dikenal.”
Erikson terdiam, ia mengatur nafasnya. Tak sanggup lagi ia bercerita. Kini giliran Arman yang menyampaikan beban pikirannya. Kelihatannya ia sudah sangat tidak sabar untuk segera memberitahukan kondisi terkini BASMI secara nasional. Arman mulai mengatur nafasnya, yang lain menanti dengan tegang. Perlahan bulir-bulir air mata mengalir dari sela-sela mata arman. Akhirnya arman, yang dikenal sangat pemberani, lelaki tanpa air mata luruh juga jiwanya di malam suram.
“aku ucapkan selamat bagi pengkhianat itu, entah siapapun dia diantara kita atas keberhasilannya menghancurkan basmi hanya dalam waktu tiga hari. Laporan terkini dari pertemuan di Makassar adalah semua jaringan yang ada di indonesia maupun yang diluar indonesia mendapat serangan anarkis bertubi-tubi dari kelompok orang tak di kenal selama tiga hari ini. Motif penyerangannya juga sama ; teror, penculikan, penyuapan sampai kepada pembunuhan. Simpulan sementara, melihat dari aksinya kelompok orang tak dikenal ini merupakan gabungan antara preman dan pembunuh bayaran dan semuanya profesional. Target mereka adalah membumi hanguskan BASMI sampai ke akar-akarnya. Masih belum bisa di pastikan siapa sebenarnya di belakang mereka. Tetapi kami sepakat bahwa orang yang berkuasalah yang sanggup memfasilitasi gerakan brutal seperti itu tanpa terlihat oleh hukum. Gerakannya bawah tanah, memiliki simpul jaringan nasional dan Internasional. Sistem kerahasiaan orgaanisasinya juga ketat dan kader-kadernya benar-benar siap mati. Sudah ada salah seorang pelaksana lapangan mereka yang tertangkap dan kita interogasi, namun dia benar-benar tidak mengetahui siapa sebenarnya pemimpin gerakan tersebut. Pernah juga tertangkap seseorang yang kita curigai sebagai pengurus inti gerakan itu, namun ia tak mau bicara dan akhirnya memilih bunuh diri. Dari semua data-data yang dihimpun, organisasi kelompok orang tak dikenal itu sangat mirip bentuknya dengan kita. dapat disimpulkan bahwa gerakan kelompok orang tak dikenal itu adalah duplikasi dari gerakan kita cuma bentuk anarkisme gerakannya saja yang berbeda. Yang membahayakan adalah seluruh data personil sampai data jaringan dampingan kita sudah diketahui oleh mereka. Ini terbukti dari seluruh anggota Basmi mendapat teror bertubi-tubi kecuali di simpul kita. Pengurus inti basmi di simpul kota lain ada yang sudah di culik, aniaya dan……… beberapa dari mereka di mutilasi. Hal yang sama juga terjadi pada simpul luar negeri. Data rahasia kita sudah bocor. Kawan-kawan harus lebih berhati-hati lagi sekarang. Setelah di analisis, berdasarkan data dan bukti yang dihimpun di lapangan, ternyata pengkhianat itu…….. berada di simpul kita. maka untuk mencegah hal-hal yang tidak di inginkan, rencana kita untuk menggelar aksi massal dua hari kedepan tidak disetujui dan tidak di dukung oleh kawan-kawan disana. Jadi hasil keputusan pertemuan kemarin adalah : BASMI secara keseluruhan untuk sementara waktu di non aktifkan sampai batas waktu yang tidak di tentukan. Dan di harapkan kepada setiap simpul untuk membumi hanguskan semua data-data tentang gerakan lalu setiap simpul bertanggung jawab untuk segera mengevakuasi dan menyelamatkan kader-kader BASMI. Dengan kata lain kita mati untuk beberapa waktu.”
Arman tertunduk lesu, tetapi kedua matanya masih menyala garang. Tangannyaa semakin terkepal dan akhirnya ia melampiaskan tinjunya pada lantai. “BUK!”. Menetes darah segar dari tangannya. Lantai remuk. Tetapi tidak sedikitpun dia merasa sakit, air matanya mulai menetes, satu-satu. Berulang-ulang ia menggumamkan “keparat” entah di tujukannya pada siapa. Aini yang sedari tadi sudah ingin menyela pembicaraan akhirnya angkat bicara.
“Kita dimatikan oleh saudara sendiri. Dulu aku menganggap setiap kita adalah satu darah, ternyata……… akh…., penghianat itu sekarang berada di antara kita dan mendengar kesedihan kita. apakah dia masih manusia? Ayo mengakulah, biarkanlah kami mati dengan tenang. Aku ikhlas dibunuh asal mengetahui siapa sebenarnya pengkhianat itu.”
“Bisa saja pengkhianat itu adalah kau Aini! Orang yang bersalah akan mencoba membela dirinya dengan kata-kata atau tindakan agar ia terlihat suci”
Erikson membentak Aini dengan lantang, semua terkejut dan langsung memandang Aini dengan tatapan serigala. Tubuh Aini bergetar, ketakutan menjalar di sekujur tubuhnya. Air mata mengalir sederas-derasnya. Untung saja Aini bisa mengendalikan emosinya. kalau tidak pastilah dia sudah bangkit dari duduknya lalu menerjang pintu dan lari ke suatu tempat dimana tak seorang pun yang mengenalnya”.
“Kau benar Erikson, aku memang berpotensi untuk menjadi sang pengkhianat, namun sayang, aku tak memiliki akses untuk mengetahui seluruh data rahasia Basmi. Sangat disayangkan aku bukanlah tergolong dewan pengabdi yang mengetahui gerakan Basmi sampai ke jaringan internasionalnya. Sayangnya aku bukanlah Kau ataupun Vero!”
Aini menjawab secara diplomatis dan sangat yakin dengan argumentasinya. Erikson menjadi tersudut karenanya. Yang lain mulai berkerut keningnya memandang Erikson. Suasana semakin memanas di ruangan itu.
“Hentikan! Cukup sudah perkelahian. meskipun pengkhianat itu ada diantara kita, tetapi malam ini kita harus bersatu. Kumohon, untuk malam ini saja. Karena kita belum aman dari ancaman penyerngan. Kalian harus ingat itu!”
Garda yang sedari tadi bungkam mencoba untuk menenangkan suasana. Tetapi sayang Arman terlanjur emosi, Arman dengan tibaa-tiba bangkit menerjang Erikson yang langsung jatuh tersungkur. dua kali tinju keras Arman mengenai pipi Erikson, suasana menjadi ricuh. Yang lain mencoba untuk melerai namun beberapa dari mereka terpental ke tembok akibat tendangan nyasar dari Erikson yang mencoba melepaskan diri dari pitingan Arman. Pukulan telak bersarang di bibir Arman hingga darah segar menyembur. Arman merintih keskitan, lalu ia meraih kursi kayu kecil yang ada didekatnya dan dengan Susah payah mencoba untuk menghantamkannya ke wajah Erikson, untungnya dengan sigap Erikson mengelak. tak tinggal diam Erikson mengambil balok yang ada disampingnya. Yang lainnya dengan sekuat tenaga memegangi Erikson dan Arman yang meronta sambil melancarkan tatapan pembunuh. Nadrah berlari kearah kompor dan mengambil botol botol berisi minyak lampu dan bensin kemudian menyiramkannya ketubuh seluruh orang-orang yang ada disitu termasuk dirinya, lalu meraih sebuah pemantik dan siap untuk menyalakannya. Keseriusan tergambaar jelas di wajah Nadrah.
“Oke, kalau kalian semua sudah merindukan mati sebagai pecundang, biar aku yang mengambil kehormatan itu untuk melakukannya.”
Aini menjerit histeris, lengkingan suaranya menembus keheningan malam jahanam, mereka semua terdiam, Aini pingsan. Keadaan kembali hening dan tenang. Eko bersama beberapa orang yang sedari tadi berjaga di ruang tamu terkejut mendengar suara lengkingan Aini, namun tak berani untuk menerobos masuk ke dapur karena mereka hanya diperintahkan untuk mengawasi keadaan dari ruang tamu. Ponsel Arman tiba-tiba berdering. Panggilan dari ayahnya. Arman mengangkatnya.
“Apa???? Tidaaaaaaaaak!”
Kini giliran Arman yang menjerit histeris, kemudian terduduk lemas. Yang lain memandang Armaan dengan cemas. Garda mencoba menenangkan Arman!
“Aku harus pulang sekarang. Rumahku hangus terbakar, Ayahku dirumah sakit. Luka bakarnya cukup serius, yang barusan menelpon adalah pamanku. Aku harus pulang sekarang!”
Belum sempat Arman melangkahkan kakinya, peluit tanda bahaya di bunyikan oleh barisan pagar hitam yang sedari tadi berjaga di sekeliling rumah. Tak lama kemudian suara tembakan terdengar beberapa kali disambut dengan bunyi letupan bom molotop. Eko bersama sepuluh orang lainnya menerobos masuk ke dapur dengan wajah pucat pasi!
“Kita diserang dari depan dan samping. Mereka bersenjata lengkap. Dua orang barisan pagar hitam kita roboh. Mereka terlalau banyak, kita tak sanggup melawan.”
“kalau begitu foukskan pertahanan barisan pagar hitam di jalur belakang kemudian buat pengalihan perhatian di depan rumah!”
Kali ini Garda yang memberi komando. Tanpa membuang waktu. Eko bersama kawan-kawannya bergerak. Sembilan orang lari secepat kilat kearah pintu depan kemudian terdengarlah bertubi-tubi suara letupan bom molotop, disambut teriakan “serang…., serbu”. Sementara satu orang berlari lewat pintu belakang menembus kegelapan malam dan tak lama kemudian terdengarlah suara kokok ayam jantan, isyarat kepada barisan pagar hitam untuk memfokuskan pertahanan radius 500 meter dari sumber suara. Sepertinya rencana mereka berhasil, kini penyerangan kelompok orang tak dikenal itu terfokus pada daeraah depan rumah. Eko bersama enam orang kawannya kembali kedapur dengan lumuran darah dibaju.
“Dua orang kita roboh di depan! Kita Cuma punya waktu 15 menit untuk meninggalkan tempat ini”
Tanpa menunggu komando mereka bergegas meninggalkan rumah garda lewat jalur belakang. Ketakutan yang teramat sangat menjajah keberanian mereka, hanya Erikson yang terlihat sedikit tenang. Mereka terus berlari tanpa arah menembus belukar dan pepohonan hingga tubuh mereka di telan kegelapan malam.
Sesaat langkah mereka dihentikan suara dentuman keras dari arah rumah Garda. Dari kejauhan mereka melihat api menyala jalang menjilati rumah Garda dengan rakusnya. Barulah mereka tersadar kalau Aini tak ada bersama mereka, ia masih tergeletak pingsan di rumah itu. Bhairawa masih berlari di belakang mereka kemudian “DOR”, Dada Bhairawa merah basah ditembus peluru. Mereka menjadi semakin panik, tak lama berselang, beberapa ledakan kecil terdengar dari radius 100 meter di depan mereka. Asap tebal berhamburan memencar kesegala arah menghalangi pandangan. Sepuluh orang berpakaian hitam-hitam dengan tutup muka hitam transparan menuju kearah mereka.
“Saatnya berpencar!”
Ketua barisan pagar hitam memberi komando. Rupanya letupan kecil tadi adalah bom asap yang sengaja diledakkan untuk menutupi pelarian. Kelompok barisan pagar hitam berlari dengan cepat dan menghilang di kegelapan malam.
Barisan pagar hitam adalah pasukan elite Basmi. Bagian dari BASMI yang memiliki keistimewaan tersendiri, otonomi khusus namun masih di bawah garis instruksi dewan pengabdi. Memiliki struktur dan kepemimpinan tersendiri. Tak ada seorangpun yang mengetahui identitas anggota Basmi kecuali dewan pengabdi seperti Vero dan Erikson. Mereka terus berlari kemudian berpencar menjadi dua kelompok setelah mencapai jalan besar. Eko bersama enam orang kawaannya, mengganti baju yang berlumuran darah lalu membuang tas mereka di semak-semak, menyetop bus jurusan stasiuin kereta api lalu menghilang. Sementara Garda memimpin pelarian Erikson, Nadrah dan Sapta. Arman memilih jalannya sendiri. Dia benar-benar sedang kalut, yang ada di benaknya adalah segera tiba dan melihaat kondisi rumahnya.
Malam itu, Garda bersama yang lainnya bersembunyi di sebuah gubuk di pinggiran hutan yang jaraknya cukup jauh dari lokasi pembantaian. Dalam kepekataan malam tanpa cahaya, tubuh-tubuh letih dibalut rasa takut dan frustasi itu bisu mematung. Masing-masing tenggelam dalam khayalnya. Sementara awan hitam dilangit hitam mulai tindih menindih, bergemuruh hitam. Menebar angin dingin menusuk sumsum. Sesekali kilat mengabadikan malam karam itu dengan cahaya singkatnya. Tak jarang mereka tersentak kaget oleh jeritan amuk alam. Tetes-tetes air mata langit perlahan jatuh memburu bumi, kemudian deras lalu menjadi air bah yang tak tertampung lagi. Tubuh-tubuh yang kini kosong jiwa itu meringkuk basah, menggigil kedinginan. Nadrah merasakaan kepalanya berat dan nyeri. Perutnya sangat mual. Berkali-kali ia muntah. Ia merasa seperti ada badai dahsyat yang sedang mengamuk di lambungnya. Barulah ia sadar bahwa belum sebutir nasipun yang masuk semenjak siang tadi. Sementara dengan tenang dan hati-hati Sapta mencoba untuk mengeluarkan beban kepalanya yang semenjak tadi terpendam.
“Maaf Son, Bukan mencoba untuk merusak ketenangan. Tapi ku mohon kau mau menjawab kegelisahanku tanpa emosi. Aku yakin malam kita semua sudah penat dengan pertengkaran!”
“Sap, kau juga memiliki hak untuk mengetahui yang sebenarnya!” Erikson menjawab tanpa ekspresi, lalu melanjutkan diamnya.
“Son, kalau benar pengkhianatnya ada di antara kita, dan pengkhianat itu mengetahui seluruh data rahasia tentang gerakan kita, maka……”
Sapta tak melanjutkan pertanyaannya. Beberapa menit berlalu dengan bungkam. Nadrah dan Garda terlalu lelah untuk menimpali pembicaraan mereka. Jadi mereka lebih memilih untuk mendengaarkannya saja. Erikson merubah posisi duduknya untuk menghindari tempias hujan yanag sudah cukup membuat bajunya basah, sekarang ia duduk tepat disamping Nadrah. Ia lalu menarik nafas dalam-dalam.
“Aku mengerti maksudmu Sap. Pastilah pengkhianat itu salah seorang dari Dewan Pengabdi. Karena hanya dewan pengabdi yang memiliki seluruh data dan informasi tentang gerakan Basmi. Tersangka utama pengkhianatan ini adalah antara aku dan Vero, tak mungkin yang lainnya.”
“Bagaimana kalau kalian berdua bersekongkol?” Sapta melanjutkan pertanyaannya.
Erikson hanya bisa tersenyum getir, namun kegelapan malam menyembunyikannya.
“Bisa saja! Tetapi kalau seandainya kami berdua bersekongkol maka dampaknya akan lebih parah dari hari ini. Dan jikalau kami bersekongkol maka pasukan pagar hitam takkan melindungi kita dengan ekstra semenjak satu minggu ini. Itulah kenapa, simpul kita masih bisa dikatakan lebih selamat dari simpul lainnya. Itu semua karena penjagaan ketat dari pasukan pagar hitam yang sudah ku peringati sebelumnya. Kalau seandainya kami bersekongkol, maka kami tidak akan menghncurkan kekuatan sendiri. Kami cukup merubah arah gerakan saja lalu memanfaatkan kekuatan kita yang sangat besar untuk mencapai tujuan.”
Sapta terdiam, lalu dengan gugup dia melanjutkan pertanyaannya
“ka…kalau, memang……. Salah seorang diantara kalian, jadi….”
Erikson tidak langsung menjawab pertanyaan itu. ia menyembunyikaan tangannya di sela-sela bajunya untuk menepis dingin yang telah membuat sekujur tubuhnya membeku. Kemudian dengan suara yang agak tinggi ia mulai menegaskan pada Sapta.
“Hah…, Aku tak berani menuduh. Tetapi aku bisa meyakinkan diriku untuk tetap setia pada cita-cita perjuangan. Mungkin kalaulah aku pengkhianatnya maka aku takkan disini mempertaruhkan nyawa bersama kalian!”
“Jadi, secara tak langsung kau menduga bahwa Vero adalah pengkhianatnya!”
Sapta berusaha tetap tenang, meskipun hasratnya telah membuncah di ubun-ubun untuk segera mengetahui siapa sebenarnya yang telah tega berkhianat. Nadrah dan Garda yang sedari tadi memutuskan untuk tidak mencampuri pembicaraan itu, kini menegang roman mukanya. Bibir mereka bergetar siap melontarkan ribuan pertanyaan. Perasaan mereka bercampur aduk : murka, kecewa, sedih, tak percaya, semuanya menyatu menjadi gelombang amuk di dada hingga tak normal lagi jantung mereka berdegup.
“Awalnya, aku tidak ingin mencurigainya. tetapi aku tidak bisa memungkiri fakta yang ditemukan di lapangan. Mulai dari keengganaannya untuk menghadiri pertemuan Internasional di Makassar hingga ia mengutus Arman untuk menggantikannya. Padahal dia harus datang dan tidak boleh digantikan. Dia tahu pertemuan itu pastilah membahas tentang pengkhianatan ini, dan pastilah dia juga sudah menduga kalau hasil analisis akan menunjukkan bahwa penghianatnya ada pada simpul kita. lalu yang akan menjadi tersangka utamanya adalah dia sebagai dewan pengabdi sekaligus pendiri BASMI. Sebenarnya hanya dua orang saja dari sepuluh dewan pengabdi yang benar-benar mengetahui perihal strategi gerakan kedepan yang sebenarnya, karena mereka berdualah sang maestro dari gerakan ini. Untuk penanggung jawab jaringan Internasional adalah Banyu Kalalo, ia melakukan aksi bom bunuh diri kemarin sebab seluruh anggotanya telah dimusnahkan, dan untuk wilayah Indonesia sendiri di tanggung jawabi oleh Vero. Data yang hari ini jatuh ke tangan kelompok tak dikenal itu adalah data yang dimiliki Vero. Aku sebenarnya sudah mengetahui perihal ini sejak awal, tetapi aku pikir ini adalah strategi Vero untuk mensukseskan aksi massal kita. Aku tidak pernah menyangka Vero akan sekejam ini, jadi aku tidak berusaha mencegahnya, itulah kenapa Arman sangat membenciku dan menyerangku dengan tiba-tiba di pertemuan tadi. Aku telah dikalahkan oleh perasaaan hormat, sayang dan kagumku pada Vero hingga tak sedikitpun aku mencurigai gerakan yang dibangunnya diam-diam, jadi jangan heran kalau kelompok orang tak dikenal itu sangat mirip dengan gerakan Basmi karena sang maestronya adalah Vero sendiri. Bukti lainnya adalah rapat kita malam ini di rumah Garda. Bagaimana mungkin bisa bocor? Kita sudah yakin kalau tidak ada yang membuntuti kita. dan kita sudah mengkaburkan perjalanan kita, tetapi kenapa kelompok orang tak dikenal itu tiba-tiba menyerbu kita? mungkin Garda yang menerima SMS dari Vero bisa sedikit memberi jalan terang pada kebenaran yang sesungguhnya!”
Sapta menjadi semakin tidak sabar begitu juga dengan Nadrah, denyut kepalanya semakin menjadi-jadi, ia tidak ingin mempercayai cerita ini tetapi argumen-argumen Erikson telah membuatnya berpikir lain. Garda menrik nafas dalam-dalam.
“Bangsat, Tak kusangka…… orang yang begitu aku kagumi dan hormati. Satu-satunya idealisme yang masih tersisa di muka bumi ini. Ternyata, cuih!!! Yah, Vero mengirim sms “Pakai baju merahmu”. Ia memerintahkan untuk membuat pertemuan darurat di rumahku hari ini. Siaga satu katanya.
“Hah… Vero mungkin sudah kehilangan akal sehatnya! Tetapi yang jelas yang menyusun pertemuan malam ini adalah dia dan dia tidak ada bersama kita. awalnya aku pikir dia diculik tetapi tidak mungkin seorang Vero mau menghantarkan dirinya ke mulut buaya. Pastilah ia merencanakan kehilangannya agar kita menyangka dia benar-benar diculik. Alibi yang sempurna.”
Erikson menegaskan penjelasannya. Yang lain mengepalkan tangan sekuat-kuatnya. Garda melayangkaan tinjunya bertubi-tubi pada papan lapuk yang sedang didudukinya. Kekecewaan yang mendalam menghujam di jantungnya. Amuknya membara. Dalam hati ia bersumpah akan menghabisi Vero dengnan tangannya sendiri. Hanya Nadrah yang belum mempercayai tudingan itu sepenuhnya. Dia tidak akan percaya sebelum mendengar langsung dari Vero.
“Erikson Tutup Mulut Busukmu!. Tega-teganya kau menghakimi Vero! Dasar Pecundang, Kau memang selalu pecundang. Bagaimana dengan kau. Kau juga tersangka utama, kau juga dewan pengabdi dan pendiri. Tak ada bedanya kau dan Vero. Kau memiliki peluang yang sama besar dengan Vero untuk melakukan pengkhianatan ini. Bedanya Vero tidak pernah menuding kau sebagai pengkhianat atau mengarahkan kami untuk berpikir bahwa kau adalah pengkhianatnya. Bedanya Vero tidak pernah mengkambing hitamkan kau! Sementara hari ini kau sedang cuci tangan di hadapan kami. Jangan-jangan kau lah pengkhianat yang sesungguhnya dan semua ini adalah rekayasa cerita busukmu!”
Nadrah membentak Erikson, belum pernah dia semarah ini. Kepalanya terasa semakin sakit. Pandangannya menjadi kabur. Tetapi tetap dia berusaha sadar dan tegar. Erikson merasa di pojokkan. Hampir-hampir saja ia melayangkan tinjunya ke wajah Nadrah, namun perasaan cinta membuat hatinya luluh. Tak mungkin ia menyakiti perempuan yang sudah dipujanya semenjak sekolah dasar dulu. sebenarnya Vero, Erikson dan Nadrah adalah sahabat karib semenjak kecil. SD, SMP, SMA hingga Universitas mereka selalu saja bersama.
“Nadrah, hentikan imajinasi liarmu, belajarlah untuk menerima kenyataan! Aku tidak sedang mencuci tanganku tetapi aku mengungkapkaan yang sebenarnya. Aku sama kecewanya dengan kau! Jangan hanya karena mencintainya lalu kau membelanya mati-matian. Aku yakin kau pasti benar-benar mengenal Vero. Takkan ada seorangpun yang sanggup mengorek informasai tentang gerakan kita darinya kalau tidak dia sendiri yang membeberkannya. Benar kau kata, aku juga dewan pengabdi dan pendiri, tetapi juga benar kalau semua data ada di tangan Vero selaku Koordinator Dewan Pengabdi untuk Indonesia, bukan di tangganku. Camkan itu!”
Suasana menghening, berkali-kali Nadrah menggumamkan kalimat “Tidak……, Tidak mungkin”. Tak sanggup ia mempercayai apa yang sedang terjadi. Baginya, Kebenaran begitu tipis bedanya dengan kebohongan. Nadrah merasakan kepalanya menjadi semakin berat, pandangannya kian nanar, semua terlihat berbayang dan berputar-putar. Perutnya mual, mual dan mual. Berkali-kali ia muntah sampai akhirnya jatuh tak bergerak. Erikson secepat kilat meraih tubuh Nadrah yang terkulai layu. Seperti kesetanan, ia mengguncang-guncangkan tubuh itu, roman mukanya berubah pucat. Tanpa disadarinya, ia meneteskan air mata. Sapta dan Garda menjadi panik, untungnya Cuma sebentar saja. Dengan cepat mereka menyadarkan Erikson dari ketakutannya yang berlebihan. Erikson kembali tenang, kemudian Ia mengambil posisi duduk di kaki Nadrah lalu memijitinya dengan hati-hati dan penuh perasaan cinta. Mulutnya bungkam tetapi hatinya melantunkan seribu puisi cinta dan tembang-tembang rindu. Erikson, ahli pijat refleksi, cinta mati pada Nadrah.
Sapta dan Garda membaringkan tubuh mereka yang terasa remuk redam, mencoba untuk mengusir sedikit penat yang kini sudah mengakar dikepala. Perlahan mata mereka tertutup tetapi telinga tetap terjaga was-was, mencoba untuk menanagkap sekecil apapun suara di sekeliling mereka. Rupanya belum yakin betul kalau mereka sudah terlepas dari pengejaran kelompok orang tak dikenal.
Dengkuran menghiasi gulita malam, sapta dan garda benar-benar terlelap. Nadrah tertidur pulas nan nyaman. Baju Erikson menyelimuti tubuh mungilnya, dedaunan kering yang dibungkus dengan singlet menjadi alas kepala. Erikson menyandarkan tubuhnya pada dinding gubuk renta. Ia menggigil kedinginan sebab telanjang dada. Namun tak henti-hentinya Erikson memandang dari kejauhan wajah ayu perempuan yang sangat dipujanya!
“Jika kau izinkan, akan kurangkai semua kata cinta yang ada di dunia ini jadi seikat kembang dan akan ku persembahkan hanya untuk mu. Nad, kalau kau bisa merasakan apa yang ku resahkan, mungkin kau kan menangis. Bila kau tahu apa yang kurasakan, Pastilah kau kan tahu bahwa cerita cinta Taj Mahal atau Romeo dan Juliet takkan sanggup menandingi ceritaku tentang kau. Kenapa kau lebih memilih Vero yang tak pernah perdulikan kau! Aku benci dia karena itu! Kau adalah bulan bagiku! Terlihat indah, tetapi takkan pernah bisa ku rengkuh sebab mentari adalah sinarmu. Sementara aku hanyalah angin di sisimu! Tak pernah bisa terlihat tetapi selalu hadir dalam pelukmu! Aku rindu! Aku Pungguk!.”
Erikson menarik nafasnya dalam-dalam, pipinya basah. Hatinya luka. Nadrah menggeliat, perlahan matanya terbuka. Samar-samar ia melihat Erikson di depannya. Ia tersentak kaget menyaksikan Erikson bertelanjang dada. Refleks, ia menendang ulu hati Erikson sekuat tenaga. Erikson terpental kebelakang. Nyeri menghujam ulu hati membuatnya susah bernafas. Erikson muntah. Belum sempat ia bangkit, tinju melayang kearah hidungnya. Darah segar menetes, kembali ia mencoba bangkit tetapi sayang tumit kaki Nadrah sudah bersarang di matanya. Erikson terpental kebelakang, jatuh dari gubuk terjerembab di lumpur. Erikson mengerang, matanya terasa panas dan nyeri. Darah kental mengalir dari sela-selanya. Dingin lumpur menyerang sumsum, berkali-kali ia mencoba bernafas tetapi gagal sebab ulu hatinya membiru. Erikson Pingsan.
“Dasar Lelaki Iblis. Manusia biadab, Anak haram! Mampus Kau!”
Nadrah memaki kasar, meludahi tubuh Erikson yanag tak lagi bergerak. Emosinya mencapai titik orgasme. Ia menyangka Erikson hendak menggagahinya, padahal tidak. Terpikir pun tidak, sebab cinta Erikson bukanlah nafsu melainkaan sebuah kesucian. Sapta dan Garda tersentak bangun mendengar keributan itu. Panik, mereka langsung loncat keluar gubuk dari arah samping lalu bersembunyi takut. Mereka menyangka kalau kelompok orang tak dikenal kembali menyerang. Mereka terkejut ketika mendapati tubuh Erikson yang terbujur kaku berlumuran darah di genangan lumpur dihadapan mereka. Dengan cepat mereka mengangkatnya lalau memeriksa nadinya. masih berdenyut. Mereka membaringkannya di sudut gubuk. Nadrah terduduk bisu, pandangannya menatap kosong kedepan, berkali-kali mulutnya menggumamkan kata “keparat”. Jiwanya kelihatan begitu terguncang. Nadrah menderita depresi berat. Sapta mendekati Nadrah, mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tiba-tiba Nadrah menyerang Sapta dengan membabi buta. Sapta jatuh terjungkal. Dengan sebongkah batu ditangan Nadrah rakus memburu sapta. Garda yang menyaksikan itu, dengan sigap menangkap Nadrah. Nadrah menjadi lebih gila lagi. Ia menjerit histeris. Akhirnya dengan terpaksa Garda memukul tengkuk Nadrah hingga pingsan. Semuanya menjadi sangat kacau. Garda terduduk lemas. Jiwanya pun ikut terganggu. Ia tertawa keras lalu menangis. Erikson perlahan sadar. Sakit masih menggerayangi sekujur tubuhnya. Ia melihat garda yang berbicara sendiri sementara Sapta dan Nadrah tergeletak pingsan di depannya. Tak perduli dengan Garda, Erikson memburu Nadrah, diangkatnya kepala gadis itu lalu diurutnya dengan penuh perasaan. Perlahan Nadrah kembali membuka matanya. mulutnya terbuka ingin menjerit tetapi dengan cepat Erikson membekapnya. Susah payah Erikson menenangkan Nadrah, akhirnya ia berhasil. Nadrah menjadi lebih tenang sekarang.
“Nad! Tahan Emosi mu. Tak sedikitpun aku menyakitimu. Aku hanya menyelimuti tubuhmu yang menggigil dengan bajuku dan membuatkan bantal dari daun dengan singletku, salahkah itu? Jangan terlalu banyak berpikiran buruk tentangku. Aku bukan lelaki murahan seperti itu. Percayalah!”
Nadrah memandangi sekujur tubuhnya. Barulah disadarinya, tak terjadi apa-apa pada dirinya.
“Maafkanku son! Aku terlalu depresi hari ini untuk bisa berpikir waras, dan terlalu depresi untuk bisa mempercayai seseorang, lagi pula..”
Erikson tiba-tiba membekap mulut Nadrah. Keadaan menjadi lengang. Ia mentiarapkan tubuhnya. Berkali-kali ia memberi isyarat kepada Garda agar menunduk, namun Garda hanya terdiam dengan tatapan kosong. Perlahan Nadrah mendengar suara langkah kaki mendekati gubuk. langkah-langkah itu kian mendekat. Mereka bersembunyi dalam bisu. Jantung mereka berdegup dengan kencangnya. Tiba-tiba Garda bangkit, ia meraih bongkahan batu yang tadi di genggam Nadrah. Ia berlari keluar gubuk menuju suara langkah kaki itu, Erikson tak sempat mencegahnya. Selang beberapa saat, terdengaar suara Garda yang menjerit lantang menantang.
“Keparat Kalian….”
“DOR” suara tembakan melengking. Sesaat menjadi hening. Derap langkah kaki memburu kearah gubuk.
“Mereka digubuk, habisi! Jangan sampai ada yang tersisa!”
Teriakan parau membahana di keheningan malam. Sepertinya suara itu tak asing lagi di telinga Nadrah, tetapi ia tak punya banyak waktu menerka-nerka siapa pemilik suara itu. Erikson menarik tangan Nadrah yang tak kunjung berhasil menyadarkan sapta.
“Tak ada waktu lagi. Kita harus lari!”
Erikson menyeret Nadrah. Mereka lari lewat belakang menembus kegelapan hutan. Mereka berlari tanpa arah. Suara tembakan terdengar dari arah gubuk. Nyawa Sapta melayang!
Erikson dan Nadrah bersembunyi di semak semak di balik pepohonan, mereka masih diburu kelompok orang tak dikenal. Dua orang bersenjata lengkap berjalan mengendap-endap kearah persembunyian mereka. Erikson mendekatkan mulutnya ketelinga Nadrah, kemudian berbisik
“Nad, mereka tahu kita ada disini. Aku akan mengalihkan perhatian mereka, Kau larilah secepat mungkin ke tengah hutan. Kau harus tetap hidup!”
“Tapi Erikson…….”
“Ini Perintah!”
‘Tidak Son, Aku…”
Erikson menutup mulut Nadrah dengan tangannya. Pandangan mereka bertemu. Nadrah melihat air menetes dari mata Erikson. Beberapa detik keadaan menjadi beku, Erikson membelai rambut Nadrah dengan tangan kanannya, kemudian ia tersenyum.
“Cintaku, tetaplah hidup!”
Erikson melompat dari persembunyian, memburu garang kearah dua orang bersenjata lengkap. Pergumulan terjadi. Nadrah terperangah. Ia terkejut mendengar kata-kata Erikson yang kini tengah mempertaruhkan nyawa demi menyelamatkannya. Nadrah tak ingin menyia-nyiakan pengorbanan Erikson, secepat kilat ia berlari ketengah hutan. Berlari sekencang mungkin, tubuhnya habis tersayat duri tetapi pilu hatinya terasa lebih nyeri. Pipinya tak berhenti basah di banjiri air mata.
“DOR…DOR…DOR! AAAAAAKHHHHH.”
Lengkingan suara Erikson membahana bersama dentuman senjata. Lalu hutan kembali sepi.
Nadrah menghentikan kakinya ditengah hutan. Ia menyandarkan tubuhnya pada sebatang pohon. Pikirannya benar-benar kacau. Tak lagi dihiraukannya luka disekujur tubuhnya. Ia seperti orang linglung, sama sekali tak mampu berpikir. Ia mendongakkan kepalanya menatap lekat bulan yang bersinar di angkasa. Kata-kata terakhir Erikson terus terngiang di telinganya. Perlahan ia mengalihkan pandangannya ke pohon randu yang berdiri kokoh didepannya, tatapannya terpaku pada seekor pungguk di salah satu dahan. Pungguk itu berdiri kaku memandang rindu pada rembulan. Sesekali terdengar nyanyian rindu pungguk memanggil bulan. Ia teringat pada Vero yang selalu menceritakan tentang seekor pungguk dan selalu bertanya “Nad, Apakah bulan tahu kalau pungguk merindukannya? Aku seperti pungguk, yang mencintai tetapi tak sanggup mengungkapkannya, sebab bulan dimiliki langit!” sampai saat ini ia tak mengerti maksud Vero. Lalu Ia teringat pada Erikson yang kini mungkin telah terkapar bersimbah darah.
“Benarkah Vero pengkhianatnya? Dimanakah ia sekarang? Son, kau selalu baik padaku. Tetapi aku terlalu mencintai Vero hingga aku buta pada kebaikan lelaki lain. Maafkan aku son!”
Nadrah berbicara pada dirinya sendiri. Khayalannya melambung jauh pada masa-masa kecil mereka yang damai. Di saat Nadrah, Vero dan Erikson menunggang kerbau bersama di pematang sawah, mandi di sungai berjam-jam, bermain meriam bambu bersama atau ketika mereka dikejar-kejar angsa dan kalkun. Masa kecil yang dilalui dengan kepolosan. Nadrah terus tenggelam dalam ingatan masa lalunya hingga ia tak menyadari seorang lelaki telah berdiri dibelakangnya. Tubuh lelaki itu kekar namun kepalanya tak terlihat tersembunyi bayang-bayang dedaunan. Tangannya yang dipenuhi bulu-bulu halus perlahan mendekat menjamah tengkuk Nadrah. “Buk!” pukulan keras bersarang di kepala, Nadrah jatuh tersungkur. Tak sanggup ia bangkit. Lelaki itu secepat kilat menindih tubuh Nadrah dengan buasnya. Ujung lidahnya yang runcing menyapu lembut leher Nadrah. Nadrah mencoba berontak, namun bekapan lelaki itu semakin kuat, kali ini bibir lelaki itu dengan rakus menggigit halus telinga Nadrah. Darah Nadrah berdesir hebat, tetapi Ia mencoba untuk tetap waras, tak henti-hentinya ia berontak. Lelaki itu menghempaskan kepala Nadrah ke tanah. Semuanya kini menjadi hitam, hitam, Nadrah terkulai lemah. Lelaki itu dengan leluasa menyatukan tubuhnya berulang kali dengan tubuh Nadrah yang kini hanya bisa mendesah dimalam karam, haram!

Berawal Dari Akhir
Rindu Diharibaan Belantara Pungguk

Menjadi biasa, bagi perempuan berwajah ayu dengan tubuh mungilnya menghabiskan hari dengan duduk berdiam diri di atas karang memandang lepas kearah biru lautan. Menyaksikan atraksi gelombang mempermainkan kapal-kapal nelayan jantan. Tak ada lain, selain mencari ketenangan dan melupakan tragedi suram delapan tahun yang lalu. Di tangannya tergenggam sebuah catatan harian kusam bertuliskan “Revolusi Humanis!” dengan tulisan bersambung indah di sudut kanan bawah tercantum sebuah nama “Vero”.
Sudah beribu kali mungkin perempuan itu membaca penuh makna pada lembaran-lembaran akhirnya.
………..“Revolusi humanis adalah tujuan!” Tetapi kenyataannya “Mendidik manusia menjadi manusia” adalah hal yang sering dikaburkan! Hingga gerakan cenderung anarkis! Mungkin ada pengkhianatan! Tetapi tak sanggup kulontarkan tuduhan pada rekan seperjuangan! Apakah gerakan ini sudah dijadikan alat perebut kekuaasaan? Aku tegaskan untuk tidak ikut didalamnya, tetapi lelaki itu mengatakan kekuasaan adalah sebuah keharusan. Memperbaiki sistem dari dalam sistem katanya! Mungkinkah membawa perubahan jika berkendara ambisi? Ia malah mengancam akan menghabisiku jika menghalanginya. Aku benar-benar harus menghentikannya! Seringkali mahasiswa mengkhianati perjuangannya hingga aku enggan menjadi mahasiswa! Mereka adalah perusak negara sebab tiada mungkin menjamah kursi tanpa titel!

Mengembalikan kekuasaan sepenuhnya ketangan rakyat adalah konsepsi pemberontakan dan itu perewujudan cinta! Namun ada cinta dalam pemberontakan yang tak terkonsepsikan. Seperti hari ini ketika aku tak sanggup memikirkan bagaimana ku hanya bisa menjadi pungguk dihadapannya, bisu meski rindu! Rindu pungguk! Yang hanya bisa mencintai diam-diam dari kejauhan. Nadrah, bagaimana ku bisa membuatmu tahu kalau seluruh hidup ini adalah rangkaian cinta untukmu? Tak mungkin kukatakan karena ku tahu Erikson Juga cinta mendalam padamu! Aku tak ingin ada kekecewaan diantara kita bertiga! Ku ingin seperti dulu, tanpa cemburu bercanda di pundak kerbau! Telah kutulis sebuah puisi untukmu! Tapi aku hanya bisa bermimpi kau membacanya satu hari nanti! Jika terwujud, kuingin kau datang padaku dengan kata cintamu”

Rindu Pungguk
Bahkan,
Masih ku ingat setiap bening tatapanmu meski hidup dirindu mati
Saat kata dirampas bisu!

Bahkan,
Senyum dari bibir tipis menjelma titian
Saat asa jadi jurang sebab cinta ditimpa cinta

Masih dengan kata bahkan
Aku tulis puisi perlambang kepengecutan
Saat mata bertemu mata
Namun rindu dikunci bibir!

Perempuan sayang,
Lekuk wajahmu menjelma bulan
Dan kakiku mencengkram dahan randu hingga kaku beku
Bahkan saat awan malam memisahkan
Aku tetap menjadi pungguk dengan bulu rindu

Bahkan
Seandainya kau tak dilahirkan
Untukmu cinta tetap kupersembahkan

Perempuan itu kembali melabuhkan pandangannya pada tarian laut pasang yang mulai menjilati kakinya. Dipasrahkanya mata pada biru laut, digenggamnya erat catatan harian kusam yang kemudian ia persembahkan pada gelombang.
Bocah kecil berusia delapan tahun berlari kearahnya
“Ibu…., Ibu….., Ayo pulang!”
Perempuan itu memandang lekat bocah dihadapannya, ia terkenang tragedi yang dialaminya delapan tahun yang lalu, dimalam karam, haram! Amarah membakar ubun-ubunnya! Masih terngiang ditelinga cerita menjijikkan dari mulut lelaki haram itu!
“Vero lemah karena mencintaimu, disaat itulah kubuai dia dengan alkohol hingga aku bisa mendupliksikan seluruh data tanpa disadarinya! Aku juga tahu Erikson cinta mati padamu, hingga dengan mudah kubakar api cemburunya lalu jadilah ia memusuhi Vero dan membantu rencana pengkhianatanku, hanya dengan iming-iming dia akan mendapatkan kau setelah Vero mampus dan BASMI tiada. Pembumi hangusan pedagang kaki lima dan anak-anak jalanan itu adalah strategi brilliant untuk memancing gejolak emosi Vero. Aku tahu pasti ia akan membabi buta memburuku dikantor setelah mendengar berita itu, Ia mengancamku lewat smsnya sebelum datang, lalu ku hadiahkan rencana pembunuhan baginya. Massa yang sudah kupersiapkan mengeroyoknya hingga mati dengan tuduhan dia adalah orang gila yang mengamuk. Aku beritahukan padanya saat ajal sudah dilehernya, bahwa yang mengkhianatinya adalah KAU bersamaa ERIKSON. Untungnya Erikson ada sisiku ketika itu, jadi ia percaya, tergambar dari raut jelek wajahnya yang kecewa berat. Hahahahahaha. Aku yang merencanakan semua pembantaian! Termsuk pembantaian di malam ini. Ditengah jalan Arman beserta Rombongan Eko telah dihabisi pasukan pagar hitam palsu yang pura-pura menolong kita. anak-anak baru itu, sudah kuracun dengan ikan dan ayam yang mereka santap. Di gubuk tadi, aku pura-pura depresi menunggu kelompok orang tak dikenal yang merupakan kumpulan dari anak-anak BASMI seluruh jaringan yang berpihak padaku. Aku pura-pura menyerang mereka dengan batu, lalu “DOR” aku menembkkan pistolku keudara, pastilah kau mengira aku telah mati! sebenarnya Aku memutuskan berkianat karena Vero tolol, dia tidak berambisi untuk merebut kekuasaan tetapi kami mau! Erikson lebih tolol lagi, dia juga berambisi untuk mendapatkan kekuasaan tetapi ia tidak sadar kalau aku hanya memanfaatkannya saja! Didalam hutan ketika aku masih memburu kalian, barulah ia menyadari akan hal itu! dengan ketololannya lagi, dia bersikap sok pahlawan! Keluar dari persembunyian untuk menyelamatkan kau! aku telah membenamkan tiga butir peluru di jantungnya, ia mati dengan wajah bodohnya. Kini aku yang menikmati tubuhmu. Mereka pasti sengsara di alam sana! HAAHAHAHA, Aku takkan membunuhmu dengan tanganku. Biarkan binatang buas di hutan ini yang memakanmu atau kalaupun selamat kau pasti akan menjadi gila hahahahaahahaaaa…”

Perempuan bernama Nadrah yang dipanggil ibu oleh bocah itu menuruni batu karang, menuju keharibaan laut. Sebisa mungkin ia menghindari wajah bocah itu. Ia benci, sebab bocah itu berwajah GARDA. Ia melarikan pandangannya keangkasa biru sebiru laut biar tak lagi ia memandang bocah itu. Ia mengkaramkan telinganya pada nyanyian ombak yang pecah dikarang biar cerita menjijikkan itu tak lagi terdengar. Di hamparan langit biru Nadrah seperti melihat seekor pungguk yang merentangkan kedua sayapnya terbang menuju bulan yang menanti dengan senyum disamping mentari.
Nadrah memejamkan matanya merentangkan kedua tangannya..
“Aku mencintaimu Vero!”
Gelombang pasang menerjang, Nadrah hilang.

Bocah kecil berwajah Garda, melangkah pulang dengan tertatih. Mulutnya sesenggukan menyebut-nyebut “Ibu…, Aku sayang ibu” pipinya dibasahkan airmata pilu. Bocah kecil tak kenal sejarah berwajah Garda sebatang kara, berjalan tertatih kebawah jembatan besar tempat ia hidup bersama mendiang ibu dulu. Bocah lugu berwajah Garda tanpa salah, sebatang kara kehilangan ibu melintasi ramai orang membicarakan pejabat pilihan mereka berwajah Garda. Dipuja-puja karena konsep revolusi humanisnya.

Bocah kecil berwajah Garda, dipungut seorang lelaki cacat dan diangkat anak meski ia tak mau memanggilnya “Ayah”. Tiada lagi kesedihan tercipta sebab Ayah angkatnya sangat menyayanginya, begitu juga bocah kecil itu yang kini diberi nama “Banyu Kelana”.

Dan, menjadi kebiasaan bagi Banyu kelana untuk membuatkan secangkir kopi pahit kental bagi Ayah angkatnya itu yang berjalan dengan dua tongkat sebab kaki kanannya diamputasi dan kaki kirinya lemah!
“Paman Nulis Apa?”
“Tentang hidup paman dan ibumu!”
“Paman kenal Ibu?”
“Kami dulu saling mencintai! tapi sayangnya paman dipisahkan dari ibumu, tepat disaat tragedi laknat itu terjadi! Paman dikeroyok massa dan di tuduh gila hingga akhirnya di buang ke rumah sakit jiwa di daerah terpencil di luar pulau ini! Baru sekaranglah paman berhasil kabur! Sayang, paman terlambat sehari saja menemui ibumu! Seandainya kemarin, mungkin..”
“Ibu sudah jadi gila!”
“Psssstttt, Ibumu tidak GILA! Ia adalah seorang pejuang sejati! Pahlawan, meski tiada sesiapapun yang mengenangnya! Paman akan menuntut balas atas pengkhianatan yang terjadi! Kelak ketika dewasa kau akan mengerti!”
“Aku juga mau jadi pahlawan!”
“Pasti! Sebab hidup adalah perjuangan! Kau adalah revolusioner selanjutnya! Dan kelak kuharap kau akan merangkum cerita pahit ini biar dunia tahu tentang kita! Tentang pengkhianatan yang dilakukan hingga keadilan sosial tidak pernah tercipta! ”
Lelaki cacat itu meninggalkan banyu kelana termenung di dalam kamar, ia kembali berkumpul di lingkaran diskusi di dalam rumah yang semuanya tertutup tanpa cela!
“Kita adalah orang-orang tersisa! Kita adalah saksi sejarah yang di khianati! Maka kita harus melanjutkan perjuangan ini! setidaknya kita bisa menjamin tidak akan ada lagi pengkhianat diantara kita!”
Yang lain mendengarkan dengan kemantapan yang membara! Setidaknya mereka benar-benar siap mati kali ini!
“Esok akan ada aksi bom bunuh diri! Pertanda bangkitnya gerakan kita! biar kawan-kawan yang masih tersisa bisa mempersiapkan kekuatan! Tidak ada tawar-menawar lagi, dendam harus terbalaskan!”
Api semangat berkobar, menyala garang di mata pemberontak yang tersisa, tidak ada beda antara hidup dan mati bagi mereka. Lelaki cacat itu memandang bayangan wajahnya di permukaan kopi pahit kentalnya. Hatinya menggumam
“Kini pungguk takkan lagi bernyanyi kecil! Ia kan berteriak lantang menyentakkan bulan dari lamunannya! Biar sadar sudah terlalu lama ia memonopoli hak bersinar itu! Nadrah, aku akan segera menyusulmu, Biarlah cinta kita menyatu di surga!”

Fajar menjelang, lelaki cacat itu mengenakan jas rapi hingga ia terlihat seperti kaum borjuis, di badannya melekat bom rakitan siap ledak. Senyum kemenangan tergambar di wajahnya. Ia pergi di iringi air mata perjuangan kawan-kawannya.

Di gedung berlantai sepuluh itulah seminar “Privatisasi ; Upaya meningkatkan Pertumbuhan Ekonomi menuju era Globalisasi” yang merupakan kedok bagi penandatanganan penjualan aset rakyat pada investor asing akan dilakukan.
“Rakyatku akan terus-terusan menjadi budak di tanah tumpah darahnya sendiri!”
Lelaki cacat yang kini telah mengambil posisi duduk di sudut kiri pojok paling belakang menggumamkan kalimat itu berkali-kali. Perlahan ruangan itu menjadi penuh oleh pengusaha-pengusaha pro kapitalis serta pendukung neolib! Tak lama kemudian seorang lelaki dengan seragam mahalnya mengambil posisi di meja pembicara, lalu lelaki bernama Garda itu memulai pidatonya!
“Selamat datang di abad baru, dimana pasar akan terbuka tanpa hambatan! Kesejahteraan akan menjadi milik kita bersama, maka sudah sewajarnya kita…”
“Tutup Mulutmu Lintah Bangsa!”
Lelaki cacat itu berdiri, ia menghunus Garda dengan tatapan tajamnya. Wajah Garda berubah pucat bibirnya bergetar.
“V….V…Ve…. VERO!!”
“Selamat Mati Pengkhianat!!!”
Vero membuka jasnya lalu menekan tombol detonator di dadanya. Jerit ketakutan menggema namun segera diredam oleh ledakan keras!
”Dhuarrrrr”
api membakar wajah mereka, Vero menjadi puing. Gedung itu runtuh, tak seorangpun yang selamat! Sejarah kini di redam api !

Akhirnya Pungguk itu tak lagi bersenandung pelan, ia telah berani meneriakkan amuk jiwanya, maka dimulailah estafet perjuangan itu tanpa mengenal kata “Akhir” hingga semua bisa bersinar!

Tujuh Belas Tahun Kemudian,
”Satukan Barisan...., Jangan ada yang terpancing untuk berbuat anarkis, Kita berjuang dengan damai untuk menuntut keadilan. Ini tanah tumpah darah kita! Jangan biarkan sekolompok orang yang mengatasnamakan ”Negara” merampasnya dari kita. Negara punya rakyat, kedaulatan ada ditangan rakyat dan Kita adalah bagian dari rakyat, jadi kita berhak atas tanah ini sebab moyang kita dari dulu sudah tinggal disini!”
Ratusan orang berkumpul di pemukiman kumuh. Tangan-tangan mereka bertautan bagai rantai baja yang tak mungkin lagi terlepas. Memagari kampung tercinta yang akan segera digusur paksa dengan dalih ”Tanah ini Milik Negara”.
Dihadapan mereka bertengger kokoh monster-monster besi berwarna kuning yang siap melahap rumah, kehidupan dan masa depan mereka yang dianggap ”merusak estetika keindahan kota”.
Ratusan orang berseragam lengkap dengan pentungan besi dan senjata peluru karet resah menahan gejolak hasrat ”melaksanakan tugas negara” namun jauh di dalam lubuk hati mereka ada teriakan pemberontakan ”mereka juga Rakyat Indonesia, mereka juga saudara-saudaraku, mereka juga anak Cucu Adam!” tetapi sayang perintah atasan lebih kuat ketimbang suara nurani di Indonesia dan keindahan estetika kota lebih penting dari estetika kemanusiaan, padahal dulu moyang mereka ikut mengangkat bambu runcing dan melemparkannya ke tank-tank belanda hingga tubuhnya terlindas, mengering lalu menjadi abu yang tak pernah dikenang sebab mereka bukan jenderal atau ”orang atasan”.
Akhirnya, langkah tegap serdadu maju mengangkat senjata memburu dengan derai air mata, memukul apa saja yang menghalangi. Deru mesin monster kuning meraung-raung tanpa perasaan mengahncurkan bangunan-bangunan kumuh itu tanpa sungkawa. Anak-anak guncang jiwanya. Tetesan tetesan darah melayang bersama debu.
Dua jam pergulatan benci dendam sesama anak bangsa telah menciptakan neraka baru di bumi Indonesia. Kini hilang derai tawa sederhana ala rakyat, yang tinggal hanya puing-puing reruntuhan dan keluarga-keluarga yang tak tahu harus tinggal dimana. Jejak tegap langkah serdadu membekas dibumi runtuh. Mengukir jalur kerumahnya masing-masing. Bertemu keluarga, mencium anak dan istrinya lalu menceritakan kisah kerjanya yang berhasil dengan baik hari ini dengan harapan dipuji atasan lalu naik jabatan dan bertambahlah pendapatan, padahal jauh dilubuk hatinya ia menangis dan terganggulah tidurnya sebab resah. orang-orang tergusur itupun terganggu tidurnya sebab bingung hendak berlindung dimana, dimalam dingin dan masih saja tak mempercayai hidupnya yang telah dimusnahkan saudara sebangsanya. Sementara di dalam gedung-gedung dan rumah-rumah mewah ”orang-orang atasan” hanya tersenyum pias melihat berita penggusuran tadi siang, tangan kanannya menggenggam setangkai anggur dan mulutnya sibuk mengunyah keju dan orang-orang Indonesia lainnya diseluruh penjuru hanya bisa menjadi cicak kala mereka menyaksikan derita saudaranya lewat kaca berita.
”Ck....ck......ck......”

Di balik jeruji bengis, dua orang pemuda duduk bersila. Baru tadi sore mereka di jebloskan ke penjara dengan tuduhan ”provokator”
”Ternyata keadilan itu belum memiliki matanya sendiri. Jasadnyapun hanya berbentuk susunan huruf! keadilan belum memiliki nyawanya sendiri! Kita harus berbuat untuk me-nyawa-kan keadilan itu meski nyawa kita persembahannya.”
”Bah, Aku takut nanti hukuman kita bertambah berat! Nanti kita malah dituduh yang tidak-tidak! Bisa dibilang Laten kita!”
”Jhonson saudaraku, kebenaran itu berharga mahal tetapi yakinlah kita bisa membelinya sebab ia tak dihargai dengan uang tetapi dengan tekad dan keberanian. Hidup itu hanya untuk dua hal; mati meski hidup atau tetap hidup meski mati! Tuhan pasti tahu apa yang kita cita-citakan, Garuda pasti akan tersenyum bangga pada kita, sebab kita berani menyuarakan butir ke lima dari sila nya. Sekarang atau tidak sama sekali!”
”Macam mana caranya?”
”Son, Kita butuh sebuah revolusi! Revolusi Humanis! Pemberdayaan akar rumput hingga rakyat tidak akan lagi bisa di intervensi oleh kebijakan yang tidak berpihak”
”Iya, tapi mana mungkin bisa?”
”Dimana ada kemauan disitu pasti ada jalan”
”Ah, Terserah kaulah yang penting kita berjuang bersama!”
Jhonson merebahkan badannya, ia lelap dan bermain dengan mimpi-mimpinya dimana ia bebas menentukan hidupnya. Seorang lagi masih menatap lurus kehadapan. Tangannya menggenggam pena dan sebuah diary usang bertuliskan ”Revolusi Humanis”
Hati kecil berikrar yakin,
”Ayah, Ibu akan kuteruskan perjuangan suci itu! Akan kudepak penjajahan bentuk baru ini dari bumi Indonesia. Aku akan tetap menjadi air yang akan selalu berkelana memberi sebentuk cermin pada wajah-wajah bimbang dan secercah harapan pada ranah tandus”

Pagi yang cerah, ratusan orang menduduki gedung dewan, mereka menuntut keadilan atas tanah yang di rampas. Atas saudara yang diatahan
”Kembalikan rumah dan kehidupan kami”
”Bebaskan saudara kami!”
”Bebaskan Jhonson!”
”Bebaskan BANYU KELANA”

Akhirnya Pungguk itu tak lagi bersenandung pelan, ia telah berani meneriakkan amuk jiwanya, maka dimulailah estafet perjuangan itu tanpa mengenal kata “Akhir” hingga semua bisa bersinar!

(Kesedihan sejati adalah kala kita tak lagi mampu membedakan mana salah mana benar)

Puisi menjelang hilang
Kupersembahkan buat Gadis Bulanku

Malam di Jogja

Malam di Jogja
Bulan di atas ubun-ubun, kunamakan kau

Perempuan bayang bayang malam
Di pucuk-pucuk rumput
Terpecah-pecah di air kolam
Aku bersandar pada tepiannya
Memandang luruh pada kekosongan

Bayang-bayang malam menjelma perempuan
Dalam khayalan kunamakan kau
Bulan bersandar pada tepiannya
Dipandang luruh oleh kekosongan

Malam dalam bayang-bayang
Bulan di atas ubun-ubun
Aku di tepian kolam dalam khayal jelmakan perempuan
Kunamakan kau

Kolam dangkal kosong ikan, airnya memecah wajah malam
Bulan bersandar di pucuk-pucuk rumput menjelma perempuan
Kunamakan kau
Aku bayang-bayang malam di atas ubun-ubun membelakangimu menyusun wajah pecah-pecah hingga tenggelam pada kolam dangkal kosong ikan
Kunamakan kau bersandar pada tepiannya
Memandang luruh kosong kedalam kolam dangkal kosong ikan dengan bulan tergeletak di dasarnya

Malam dalam khayalan
Kau di tepian memandang bulan di dasar kolam kau namakan ku
Aku di dasar kolam, memandang bulan di tepian menjelma perempuan kunamakan kau
Kita memandang luruh kekosongan pada wajah pecah-pecah

Ku di Jogja memandang langit, malam
Kau di Medan memandang langit, malam
Kita memandang bulan!


Tedy

1 komentar: