Rabu, 02 Desember 2009

SERUAN




widgeo.net



Baca selengkapnya...

Mitra FM; Dari Suara Hati Sampai Aksi Peduli


Radio yang dikelola langsung oleh mayarakat ternyata mampu memberi dampak poitif perubahan yang begitu luas bagi pengembangan kapasitas dan kebersamaan kelompok mayarakat itu sendiri.

Siang cukup panas, debu mengangkasa dari jalan yang sebahagian belum selesai di aspal. Para petani yang sudah selesai mengurus sawah ladangnya kemudian melanjutkan tugas mencari rumput untuk pakan ternak. Tetapi berbeda dengan pak Yatimin yang biasa dipanggil Iwan. Pria berusia 47 tahun ini memacu sepeda motornya menuju sebuah rumah dipinggir jalan. Rumah asri dengan halaman yang cukup luas. Didepannya berdiri Tiang yang cukup tinggi, Tiang Pemancar Radio rupanya.

“Saya mau siaran dulu, nanti sore setelah selesai siaran baru cari rumputnya” ujar Pak Iwan dengan senyumnya yang khas.

Di dusun Tanjung Anom, Desa Tandem Hilir II Kecamatan Hamparan Perak Kabupaten Deli Serdang inilah tempat stasiun radio Mitra didirikan. Sebuah radio komunitas yang telah aktif mengudara semenjak tahun 2006 yang lalu. Radio ini berdiri atas prakarsa masyarakat bersama dengan Yayasan Bitra Indonesia yang melihat komunikasi antar warga yang sebahagian besarnya petani sebagai sebuah media perubahan yang baik sekaligus media efektif penyalur informasi mengenai hal-hal perkembangan dan isu-isu terkini pertanian.

Sarana Pengembangan Diri

Lir ilir tandure wes semilir, Ijo royo royo tak sengguh penganten anyar (lir ilir tanamannya sudah mulai hidup, warnanya hijau menghampar). Lagu Ilir dan Shalawat Badar yang dinyanyikan dalam bahasa jawa langsung mengudara sampai ke radio-radio ketika Pak Iwan dengan piawai memulai aksinya sebagai penyiar. Ia terlihat tidak canggung lagi membawakan acara campur sari yang sudah tiga tahun lebih dibawakannya. Meskipun tidak memiliki latar belakang pendidikan penyiaran, tetapi Pak Iwan dan dua puluh lima orang penyiar aktif lainnya tak kalah piawainya jika dibandingkan dengan penyiar kawakan lainnya. Pengalaman memang guru yang paling baik.

“Tiga bulan setelah radio jalan, saya dipanggil kawan-kawan untuk ikut jadi penyiar di radio ini. Awalnya saya gugup tapi lama kelamaan saya terbiasa dan sangat menyenangi kegiatan ini”

Pak Iwan mengakui sangat bersyukur dengan kehadiran radio ini. Semenjak bergabung, ia merasakan perubahan positif dan kemajuan dalam dirinya. Tetapi yang lebih membuat dirinya mencintai kegiatan sebagai penyiar di radio komunitas ini adalah dirinya bisa ikut terlibat aktif dalam hal menyampaikan informasi-informasi yang berguna bagi petani. Pak Iwan mengaku sering mendengar dan menyampaikan keluhan petani mengenai pupuk yang semakin susah didapat dan harganya yang semakin tinggi lalu menjadikannya sebagai topik pembahasan untuk menemukan solusinya.

Bagi pak Iwan, menjadi penyiar di Radio bukanlah untuk mencari penghasilan tetapi lebih kepada bentuk pengabdiannya bagi perubahan masyarakat.

“Saya sehari-harinya bekerja sebagai buruh tani. Jadi untuk memenuhi kebutuhan dasar saya dan keluarga saya ya dari hasil sebagai buruh tani itu. Di radio Mitra ini, saya Cuma dapat pengganti transport saja yang uang nya berasal dari pembelian kupon. Tetapi saya tetap mencintai kegiatan saya sebagai penyiar radio di sini karena di Mitra ini saya dapat lebih mengembangkan diri saya selain saya jadi punya banyak kawan dan saudara serta bisa ikut menyebarkan informasi-informasi yang berguna bagi masyarakat” tutur pak Iwan, roman bahagia terpancar di wajahnya.

hal senada juga di utarakan Arum, salah seorang penyiar wanita yang ada di radio itu. Meskipun baru tiga bulan menjadi penyiar, Arum mengaku sangat senang dan telah merasakan manfaat positif atas kehadiran radio ini.

“Jadi penyiar itu gak ada sedihnya, senang terus. Semenjak jadi penyiar teman saya jadi makin banyak” ujar Arum yang semenjak menjadi penyiar di Mitra langsung di percaya untuk membawakan siaran di radio Pemda Stabat.


Radio Untuk bersama

Sambutan baik akan kehadiran radio ini tidak hanya datang dari penyiar saja, tetapi juga dari masyarakat pendengar. Hal ini terbukti dengan terus bertambahnya jumlah anggota dan fans yang tersebar di tujuh wilayah; langkat, stabat, secanggang, labuhan deli, wampu, hinai dan binjai utara. Saat ini jumlah anggota radio yang disebut dengan foker sudah mencapai tiga ratus orang lebih. Foker ini bukan saja sekedar anggota tetapi juga merupakan pemegang saham radio.

Menjadi anggota foker sekaligus pemegang saham radio ini pun tidak sulit, kita tinggal menggabungkan diri kedalam kelompok-kelompok foker yang sudah ada atau jika belum ada kelompok foker di daerah kita, kita bisa membentuknya lalu mendaftarkannya ke radio. Tabungan saham perbulannya yang menjadi kewajiban anggota foker pun tidak mahal, hanya seribu rupiah setiap bulannya.

Selain menjadi pemegang saham sekaligus pemilik radio, keuntungan lain yang didapat oleh anggota foker adalah pelatihan-pelatihan peningkatan kapasitas diri yang sering diselenggarakan oleh radio maupun Yayasan Bitra Indonesiapun bisa diikuti.

Pertemuan bulanan antara anggota foker dan fans lainnya yang sering disebut dengan kopi darat juga menjadi sebuah momen tersendiri. Pertemuan ini di adakan satu bulan sekali. pada kesempatan inilah antar anggota dan fans yang biasanya bertegur sapa lewat udara bisa bertatap muka langsung. Pada pertemuan ini juga dilakukan muyawarah untuk membahas perkembangan dan perencanaan mengenai radio kedepannya.

Saling Peduli Saling Berbagi

Berpadu dalam kata, bersatu dalam kerja bersama meraih cita. Kalimat yang terpampang di ruang siaran itu menggambarkan bahwa kehadiran radio komunitas ini tidak hanya untuk saling bertegur sapa dan bertukar informasi, tetapi juga untuk meningkatkan solidaritas terhadap persoalan-persoalan sosial di ruang lingkup masyarakat pendengarnya.

“Kita tidak hanya fokus pada penyiaran saja, tetapi kita juga aktif dalam kegiatan-kegiatan sosial. Misalnya, waktu itu ada salah seorang fans kita yang rumahnya terbakar, kita langsung siarkan di radio dan langsung semua pendengar dan anggota foker menggalang bantuan dan datang membantu. Pernah juga ada kejadian angin ribut yang menghancurkan rumah fans, kita juga respon dengan cepat ” ungkap Tohir seorang pengurus radio.

Kini, Radio Komunitas Mitra telah memiliki program dompet peduli yang aktif untuk ikut terlibat dalam kegiatan-kegiatan sosial. Penggalangan dompet peduli ini dilakukan setiap satu bulan sekali saat pertemuan bulanan seluruh masyarakat pendengar dilakukan. Dompet peduli ini kemudian dibagi kedalam lima peruntukan yaitu; bencana alam, sumbangan anak yatim, pembangunan rumah ibadah, tabungan kas dan untuk membantu swadaya pertemuan yang dikeluarkan oleh tuan rumah penyelenggara pertemuan. Tetapi biasanya menurut Tohir, Tuan rumah penyelenggara mengembalikan kembali uang itu untuk ditabung di kas, guna sumbangan sosial apabila ada anggota yang mendapat kemalangan, sakit maupun melahirkan.

Tidak hanya berhenti pada kegiatan-kegiatan sosial yang sudah rutin dilakukan, anggota kelompok radio ini juga aktif dalam kegiatan-kegiatan yang menitik beratkan pada perubahan pola pikir untuk ikut mencintai dan menjaga lingkungan. Berbekal pengalaman dan ilmu yang didapat dari pelatihan-pelatihan yang sering diadakan oleh Pengurus Radio maupun Yayasan Bitra Indonesia, anggota kelompok juga aktif dalam melakukan kampanye pengolahan lahan pertanian yang selaras dengan alam dan kesehatan alternatif yang menggunakan ramuan-ramuan tanaman obat tradisional.

Dalam waktu dekat ini, pengurus radio juga merencanaklan akan melakukan aksi penghijauan dengan menanam dua puluh ribu pohon mahoni dan tanaman obat. Untuk itu seluruh anggota dan masyarakat pendengar yang ikut berpartiipasi sudah mulai melakukan pembibitan yang kemudian akan disumbangkan untuk acara penghijauan nantinya.

Berpadu dalam kata, bersatu dalam kerja bersama meraih cita. semangat untuk menuju perubahan kearah yang lebih baik dari segala sisi menjadi deru nafas aktivitas radio yang dikelola langsung oleh kelompok mayarakat ini. Pengalaman memberikan mereka keahlian tersendiri untuk bisa mengembangkan sebuah radio sehingga bisa menghasilkan perubahan positif yang nyata. Tak hanya di desa Tandem Hilir II ini saja Yayasan Bitra Indonesia terlibat aktif dalam memberikan ruang dan kesempatan bagi kelompok masyarakat untuk bisa mengembangkan radio komunitas. Di beberapa desa lainpun Yayasan Bitra Indonesia telah berhasil menciptakan hal serupa.

Sore menjelang, Pak Iwan keluar dari ruang siaran. Dengan senyum bahagia ia langsung menuju sepeda motornya; “Saya mau ngarit rumput untuk pakan ternak dulu” ujarnya, suka cita tergambar jelas di raut wajahnya. Tak ada waktu yang terbuang sia-sia. Lantunan lagu masih terdengar dari dalam ruang siaran, mbak Arum melanjutkan siaran sambil membacakan pesan-pean yang masuk lewat kertas kupon dan isi pesan di ponselnya. Lir ilir tandure wes semilir, Ijo royo royo tak sengguh penganten anyar (lir ilir tanamannya sudah mulai hidup, warnanya hijau menghampar) lagu lir Ilir dan shalawat badar kembali mengudara di sore yang cerah itu. (Tedy)

Baca selengkapnya...

Pendidikan dan Pelatihan Resolusi Konflik


Pasca reformasi tahun 1998, perjalanan kehidupan bernegara dan bermasyarakat di Indonesia memasuki tahapan baru yaitu tidak pernah terlepasnya warga negara dari carut marut konflik sosial. Melihat catatan perjalanan bangsa ini, Indonesia bisa dikatakan sebagai negara yang sarat dengan konflik sosial

Segala Bentuk benturan sosial yang berlangsung akibat dari konflik sosial, akan selalu berdampak sama yaitu; kekalahan masyarakat lemah yang berimplikasi pada stress sosial, kepedihan dan kehancuran asset-aset material dan non material yang ditandai dengan hilangnya kepercayaan diantara pihak yang bertikai, rusaknya hubungan jaringan sosial dan hilangnya kepatuhan pada tata aturan norma dan tatanan sosial yang berlaku.

Di Sumatera Utara sendiri, konflik yang cukup tinggi intensitasnya adalah konflik agraria dan konflik industri yang merupakan gambaran konflik antar ruang. Bisa konflik antar komunitas dengan pemerintah, Pihak Swasta atau Badan Usaha yang berorientasi profit. Contohnya konflik agraria yang terjadi di Desa Pergulaan, Bangun Purba dan konflik lainnya di daerah Tapanuli Selatan, Madina, Paluta serta daerah lainnya. Melihat tingginya intensitas konflik agraria di sumatera utara ini, selama tiga hari mulai dari tanggal 08 hingga 10 Agustus 2009 yang lalu, Yayasan Bitra Indonesia menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan reolusi konflik. Peserta yang hadir didalam pelatihan ini berasal dari kelompok petani dampingan Bitra yang tengah mengalami konflik agrarian dan yang memiliki potensi akan mengalami konflik agrarian di lahan pertaniannya.

“Kita harapkan peserta dapat melakukan identifikasi terhadap gejala konflik kemudian mampu melakukan manajemen konflik sehingga dampak negatif dari konflik bisa dihindari dan kelompok-kelompok rakyat kedepannya bisa menyusun strategi untuk bisa menangani kasus-kasus ketidak adilan khususnya yang berkaitan dengan sektor agraria ”ungkap Hawari, staff divisi Advokasi Yayasan Bitra Indonesia.

Pendidikan dan pelatihan yang diadakan selama tiga hari ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman peserta mengenai resolusi konflik sehingga kedepannya peserta akan mampu memahami tahapan dalam proses penyelesaian konflik yang dihadapi serta mampu menyusun strategi penyelesaian konflik berdasarkan analisis kasuistik yang pada akhirnya akan menumbuhkan kemampuan kelompok rakyat untuk melakukan penyelesaian konflik secara mandiri. (Tedy)

Baca selengkapnya...

Pelatihan Peningkatan Mutu Biji Kakao


Sekitar delapan belas orang perwakilan dari tiap kelomppok petani kakao dampingan Yayasan Bitra Indonesia berkumpul di aula Training Center Sayum Sabah pada tanggal 23 Februrai 2009 yang lalu. Para petani coklat ini mengikuti pelatihan peningkatan mutu biji kakao yang di selenggarakan oleh Yayasan Bitra Indonesia. Pelatihan ini juga di hadiri oleh pengurus Koperasi Pemasaran Bersama Usaha Tani (KPBUT) yang telah beberapa kali melakukan lelang kakao. Kualitas biji kakao merupakan salah satu syarat mutlak yang harus dipenuhi para petani kakao agar hasil produksinya bisa bernilai tinggi. Selain itu, kualitas biji kakao ini pun menentukan posisi tawar petani kakao di dalam persaingan pasar.

“Sering kali petani kakao merasa tidak begitu penting untuk memenuhi standart mutu biji kakao sebab mulai dari standart mutu yang jelek sampai yang bagus, biji kakao tetap laku dipasaran. Padahal dengan memenuhi standart mutu biji kakao maka petani akan memiliki posisi tawar untuk menentukan harga” Ujar Anta, salah seorang staff divisi community development Yayasan Bitra Indonesia.

Pelatihan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada peserta tentang bagaimana tata cara meningkatkan mutu biji kakao. Selain itu peserta juga diberikan pemahaman mengenai bagaimana cara mengetahui biji kakao yang memiliki standard ekspor. Sehingga kedepannya diharapkan para peserta mampu memproduksi biji kakao dengan kualitas ekspor kemudian menjualnya secara bersama agar bisa mendapatkan harga jual yang sesuai dengan standart ekspor internasional.

Mutu biji kakao ini menjadi begitu penting. berdasarkan pengalaman, Koperasi Pemasaran Bersama Usaha Tani pernah mengalami kerugian akibat kualitas biji kakao yang dilelang tidak memenuhi standart mutu ekspor sehingga eksportir membelil biji kakao dibawah harga standard ekspor.

“Kalau kita mau meningkatkan kualitas biji kakao, maka bukan hanya panennya saja yang perlu diperhatikan, tetapi kita harus memberikan perhatian pada manajemen lahan kakao itu sendiri. Yang pertama, kualitas mutu biji kakao ditentukan oleh bahan tanamannya (klon). Setelah itu Pemeliharaannya. Pada pemeliharaan dua hal yang perlu diperhatikan adalah pemangkasan dan pemupukannya. Faktor selanjutnya yang juga menentukan kualitas biji kakao adalah faktor pengendalian hama penyakit. Ketiga faktor inilah yang disebut dengan manajemen lahan kakao itu tadi. selain manajemen lahan, perilaku pada saat panen dan paska panen pun juga menjadi penting guna peningkatan mutu biji kakao”. Ungakp Alam salah pemateri yang membagi pengalaman mengenai tekhnik dan cara peningkatan kualitas mutu biji kakao.

Selain membicarakan mengenai tatacara peningkatan kualitas biji kakao, pada pelatihan ini juga dibahas mengenai pentingnya koperasi untuk meningkatkan kesejahteraan petani kakao. Banyak keuntungan yang akan didapat petani kakao apabaila ia berkelompok kemudian membentuk koperasinya sendiri, selain untuk peningkatan kapaitas diri, koperasi juga merupakan salah satu wadah perjuangan yang efektif bagi petani kakao untuk bisa merebut peluang dan harga yang adil di pasaran. Sehingga harga tidak lagi ditentukan oleh pedagang. Dengan menjual hasil panen secara bersama melalui lelang kakao yang sudah beberapa kali dilakukan oleh SPBUT maka para petani kakao memiliki posisi tawar yang tinggi dalam menentukan harga. Apalagi jika dibarengi dengan kualitas biji kakao yang memenuhi standard ekspor, maka petani kakao pun secara berama-sama akan bisa menembus harga jual yang sesuai dengan standard ekspor pula.(Tedy)

Baca selengkapnya...

Polikultur; jalan menuju perbaikan ekonomi yang ekologis


Krisis pangan yang melanda dunia paska perang dunia kedua ternyata berdampak pada kenaikan harga pangan yang diperkirakan akan terus berlangsung sampai tahun 2015 . kenaikan harga pangan tersebut menyebabkan lebih dari 100 juta manusia dari setiap benua mengalami kelaparan. Peristiwa yang kemudian dikenal dengan silent Tsunami ini telah membawa perubahan besar pada pola pertanian di dunia termasuk Indonesia.

Perubahan pola pertanian ini kemudian dikampanyekan lewat gerakan revolusi hijau, sebuah gerakan percepatan produksi pertanian dengan menggunakan banyak senyawa kimia untuk merangsang tanaman. Untuk hasil jangka pendek gerakan revolusi hijau mungkin dinilai mampu mengurangi krisis pangan tersebut, tetapi dampaknya sangat negatif bagi ketahanan pangan dimasa mendatang sebab senyawa kimia yang dipakai akan tinggal ditanah dan membunuh biodiversity dalam tanah sehingga kesuburan tanah akan hilang dan tanah menjadi keras sehingga tanaman tidak dapat bertahan hidup. Revolusi hijau tidak hanya menyebabkan petani menjadi ketergantungan terhadap pemakaian bahan-bahan kimia tetapi juga telah menggerus kearifan lokal turun temurun petani mengenai pola tanam para petani Indonesia yang menghargai ekosistem, kesehatan, kelestarian alam dan keanekaragaman hayati.

Demi peningkatan produktivitas jangka pendek, banyak petani kemudian menerapkan pola tanam monokultur yang pada akhirnya membuat petani kehilangan posisi tawar di pasaran, sebab jika musim panen tiba maka petani akan menghasilkan produk yang sama sehingga hasil panen yang sama akan membanjiri pasaran, jika sudah demikian maka harga jualnyapun menjadi anjlok. Model Monokultur pada pertanian sebenarnya telah menghilangkan keanekaragaman hayati dilahan pertanian dan menggantikannya pada satu jenis tanaman saja. Tentu saja hal ini akan berakibat pada hilangnya keaneka ragaman hayati yang di miliki Indonesia di tahun-tahun kemudian. Selain itu model pertanian monokultur juga pada akhirnya akan memberi beban lebih pada para petani ditiap musim tanamnya sebab model pertanian monokultur ini dalam pengelolaannya sangat bergantung sekali pada input dari luar seperti pupupk dan racun kimi sintetik, permukaan lahan pertanian monokultur yang harus selalu datar, menyebabkan pola pertanian ini juga angat bergantung pada mesin-mesin pertanian. Semua ketergantungan terhadap barang luar tersebut pada akhirnya menyebabkan petani terbebani biaya besar selama proses tanamnya dan harus urut dada sebab ketika panen tiba kemungkinan besar harga jualnya akan anjlok dikarenakan hasil panen yang sama membanjiri pasaran. Dengan segala ketergantungan di dalam model pertanian monokultur tentunya akan menjauhkan petani dari kesejahteraan meskipun harga beli pangan di konsumen terus saja naik. Petani kini harus bisa berpikir bijak untuk menata kesejahteraannya dengan memilih model pertanian yang bisa selaras dengan alam dan berkelanjutan di masa mendatangnya.


Menata masa depan dengan Polikultur

Polikultur berasal dari kata poli yang artinya banyak dan kultur artinya budaya, dalam konteks pertanian polikultur dapat diartikan sebagai pola pertanian dengan banyak jenis tanaman pada satu bidang lahan. polikultur bukan berarti pola pertanian gado-gado yang tidak terencana. Tetapi melainkan pola pertanian yang terusun dan terencana dengan menerapkan aspek lingkungan yang lebih baik. Keanekaragaman di dalam polikultur tidak hanya semata dari jenis tanaman (hayati) tetapi keanekaragaman polikultur juga mengkaitkan hewan ternak sebagai satu bagian rantai kehidupan did alam pertanian. Pola pertanian polikultur ini tidaklah sama dengan pola pertanian tumpang sari. Tumpang sari hanya menggunakan tanaman semusim. Sedangkan polikultur dalam hal ini lebih sebagai kombinasi antara tanaman semusim dan tanaman tahunan untuk jangka panjangnya. Pertanian polikultur yang berhasil akan mampu memperbaiki kondisi ekosistem lingkungan. Tanaman yang dikembangkan mempunyai hubungan simbiosis dan sinergis sehingga dapat membangun ekosistem yang sempurna dan stabil. Oleh karena itu sistem pertanian polikultur dapat pula didefinisikan sebagai sebuah metode pertanian yang memadukan lebih dari empat jenis tanaman lokal bernilai ekonomis pada sebuah ekosistem lahan secara terpadu. sebuah upaya pemadatan areal dengan berbagai tanaman untuk perbaikan kondisi tanah (konservasi) sekaligus menciptakan nilai tambah ekonomi. Hal ini menjadi mungkin dalam pola pertanian polikultur karena dalam pertanian polikultur, segala asupan dari luar seperti pupuk pabrikan dan racun kimia bukan menjadi hal penentu keberhasilan pertanian sehingga pola pertanian polikultur dapat menekan biaya yang harus dikeluarkan petani untuk mengelola lahannya. Bentuk perawatan seperti pemupukan dan pengurangan serangan hama dalam pola pertanian polikultur menggunakan potensi lokal yang ada dengan cara membentuk siklus kehidupan dan rantai makanan alami. Untuk Pupuk misalnya, maka petani yang menerapkan pola pertanian polikultur akan menggunakan potensi dari olahan kotoran ternak yang merupakan bagian dari pertanian polikulturnya. Kemudian untuk pengurangan tingkat serangan hama petani akan menciptakan sebuah siklus rantai makanan yang didalamnya terdapat musuh alami dari hama tersebut selain menggunakan ramuan alami. Sehingga reduksi racun kimia yang dapat menghancurkan kesuburan tanah dapat dihindari. Pertanian polikultur juga memberi peluang yang cukup signifikan bagi peningkatan ekonomi petani lewat usaha tambahan yang sinergis dengan siklus kehidupan di lahan pertanian polikultur semisal budidaya ternak, penggemukan sapi, dll. Jadi dengan menerapkan model pertanian polikultur, selain bisa menekan besaran angka biaya produksi dan menambah pendapatan dengan keragaman hasil panen yang bisa dipasarkan ditambah lagi dengan budidaya ternak, model polikutur juga menjamin kesuburan lahan pertanian sehingga hasil panen yang baik akan tetap bisa dirasakan kedepannya. Dengan demikian persoalan peningkatan ekonomi dan krisis pangan akan bisa diatasi tanpa harus memeras dan menyiksa bumi dengan segala bentuk racun sintetis dan penghilangan keanekaragaman hayati yang telah dilahirkannya.(Tedy)

Baca selengkapnya...

Selasa, 01 Desember 2009

Festival Film Anak Medan 2009 Penganugerahan Film Karya Partisipasi Anak dan Insan Perfilman Berpersfektif Anak Meriah


Medan - Penganugerahan terhadap 30 film dan insan perfilman yang berkompetisi dalam Festival Film Anak (FFA) 2009 yang diselenggarakan Pusat Kajian dan Perlindungan Anak (PKPA) berkolaborasi dengan komunitas film Sumatera Utara berlangsung meriah.

Ketua Panitia Pengarah Ahmad Sofian mengatakan, Festival Film Anak (FFA) Medan 2009 merupakan ajang kreatifitas yang bertujuan mendorong anak-anak untuk berkreasi dalam rangka implementasi hak partisipasi anak, termasuk di dalamnya mengemukakan pendapat, berkumpul dan berekspresi.

“Ini merupakan FFA tahun kedua dengan menghadirkan 30 film karya partisipasi anak dari Sumatera Utara, Jawa Timur, Jawa Tengah dan Nanggro Aceh Darussalam (NAD), tingkat partisipasi anak meningkat lebih dari seratus persen dibanding FFA 2008 yang menghadirkan 17 film dari Sumatera Utara, NAD, Jawa Barat dan Jawa Timur,” kata Sofian kepada wartawan Senin Malam (30/11) di Medan.

Selain dihadiri oleh aktor kawakan Didi Petet dan aktifis perlindungan anak Arist Merdeka Sirait sebagai Dewan Juri, malam penganugerahan FFA Medan 2009 juga dihadiri tamu istimewa Seto Mulyadi atau yang akrabnya disapa Kak Seto.

Turut hadir, Wakil Gubernur Sumatera Utara Gatot Pujonugroho, ST, wakil Bupati Serdang Bedagai Ir. H. Soekirman dan Puteri Sumut Fatimah Syahnur Lubis.

Didi Petet dalam sambutannya mengatakan, FFA adalah festival film anak pertama di Indonesia yang diharapkan dapat memajukan dunia perfilman nasional.

“Medan harus mampu menjadi kiblat perfilman anak, dan pemerintah harus melihat ini sebagai aset budaya, semua pihak harus mendukung sehingga gaung FFA tidak saja secara nasional tetapi bisa internasional,” cetus Didi.

Ketua KOMNAS Perlindungan Anak, Seto Mulyadi dalam sambutannya mengatakan, pada dasarnya anak adalah kreatif, lingkungan dan sistem pendidikan yang membuat kreatifitas anak menjadi mati.

“Melalui media FFA ini kami harapkan dapat memicu semangat anak-anak untuk berkreasi,” kata Kak Seto.

Wakil Gubernur Sumatera Utara Gatot Pujonugroho menerangkan, pemerintah Sumatera Utara menyambut baik dilaksanakannya Festival Film Anak sebagai kegiatan tahunan yang mampu memajukan kebudayaan dan pariwisata di Sumut.

“Potensi anak-anak Sumatera Utara beberapa propinsi di Indonesia yang luar biasa ini harus untuk didukung oleh semua pihak sehingga dapat menjadi aset pembangunan di masa depan,” katanya.

Selain memutar trailer 30 film peserta FFA 2009, hiburan di malam penganugerahan yang dihadiri 800 pasang mata ini juga menampilkan seniman anak dari pertukaran pelajar Jepang-Indonesia dan Flowrens Band binaan SKA PKPA.

Dalam pembacaan penganugerahan yang dibacakan sponsor, komunitas film, dewan juri dan panitia, diumumkan pemenang film kategori fiksi dan dokumenter, serta insan perfilman anak kategori fiksi dan dokumenter.

Film pemenang untuk kategori dokumenter adalah Juara 1 Kami Kelas 2 A, produksi Lapas Anak Medan, Sumut; Juara 2 Peluh Sang Iwan produksi SMA Sri Mersing Tanjung Pura Langkat Sumut, Juara III Info Sekolah Produksi SMA 4 Lhokseumawe NAD, juara favorit Ari Electric produksi SMK Telkom Sandhy Putra Medan.

Sedangkan untuk produksi film fiksi pemenangnya adalah Juara I Baju Buat Kakek produksi Sawah Artha Film/ SMP Satu Atap Karangmoncol Purbalingga Jatim; Juara II Melompat Sejauh Mimpi produksi Inside production, Malang; Juara III Tetap Semangat produksi Abah Production Medan, Sumut, juara Favorit Hadiah Terindah produksi Q-can production Gunungsitoli, Nias Sumut.

Untuk insan perfilman berpersfektif anak penghargaan terbaik untuk kategori dokumenter diberikan kepada Ardi Syahputra sebagai Sutradara terbaik dalam film Kami Kelas II A, Danu sebagai editor terbaik dalam film Info Sekolah, Wandi sebagai ide cerita terbaik dalam film Peluh Sang Iwan dan Berty Nainggolan sebagai narator terbaik dalam film Annai Velangkali.

Insan perfilman berpersfektif anak penghargaan terbaik untuk kategori fiksi diberikan kepada Andhika Thelambanua dalam film Impian Anakku, aktris terbaik Narti dalam film Baju Buat Kakek, editor terbaik M Taufik Pradana dalam film Gulungan Uang, Rizkan Jania MN sebagai ide cerita terbaik dalam film Hadiah Terindah, Jenthro sebagai penata suara terbaik dalam film Melompat Sejauh Mimpi, dan Fachri Anziar sebagai setter/ artistik terbaik dalam film Aku Nak Merantau.

Film-film dan sineas muda terbaik ini diperoleh berdasarkan hasil sidang penjurian yang berlangsung di Royal Perintis Hotel, Jalan Parintis Kemerdekaan Medan, Minggu (29/11) dengan Dewan juri terdiri dari Didi Widiatmoko (Didi Petet/ aktor), Arist Merdeka Sirait (Sekjen Komnas PA), Onny Kresnawan (Sutradara), Marhamah (Biro PP Anak dan KB Sekdaprovsu) dan Siti Fatima Syahnur Lubis (Putri Sumut). (Jufri Bulian Ababil)

Baca selengkapnya...