Rabu, 02 Desember 2009

Pelatihan Peningkatan Mutu Biji Kakao


Sekitar delapan belas orang perwakilan dari tiap kelomppok petani kakao dampingan Yayasan Bitra Indonesia berkumpul di aula Training Center Sayum Sabah pada tanggal 23 Februrai 2009 yang lalu. Para petani coklat ini mengikuti pelatihan peningkatan mutu biji kakao yang di selenggarakan oleh Yayasan Bitra Indonesia. Pelatihan ini juga di hadiri oleh pengurus Koperasi Pemasaran Bersama Usaha Tani (KPBUT) yang telah beberapa kali melakukan lelang kakao. Kualitas biji kakao merupakan salah satu syarat mutlak yang harus dipenuhi para petani kakao agar hasil produksinya bisa bernilai tinggi. Selain itu, kualitas biji kakao ini pun menentukan posisi tawar petani kakao di dalam persaingan pasar.

“Sering kali petani kakao merasa tidak begitu penting untuk memenuhi standart mutu biji kakao sebab mulai dari standart mutu yang jelek sampai yang bagus, biji kakao tetap laku dipasaran. Padahal dengan memenuhi standart mutu biji kakao maka petani akan memiliki posisi tawar untuk menentukan harga” Ujar Anta, salah seorang staff divisi community development Yayasan Bitra Indonesia.

Pelatihan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada peserta tentang bagaimana tata cara meningkatkan mutu biji kakao. Selain itu peserta juga diberikan pemahaman mengenai bagaimana cara mengetahui biji kakao yang memiliki standard ekspor. Sehingga kedepannya diharapkan para peserta mampu memproduksi biji kakao dengan kualitas ekspor kemudian menjualnya secara bersama agar bisa mendapatkan harga jual yang sesuai dengan standart ekspor internasional.

Mutu biji kakao ini menjadi begitu penting. berdasarkan pengalaman, Koperasi Pemasaran Bersama Usaha Tani pernah mengalami kerugian akibat kualitas biji kakao yang dilelang tidak memenuhi standart mutu ekspor sehingga eksportir membelil biji kakao dibawah harga standard ekspor.

“Kalau kita mau meningkatkan kualitas biji kakao, maka bukan hanya panennya saja yang perlu diperhatikan, tetapi kita harus memberikan perhatian pada manajemen lahan kakao itu sendiri. Yang pertama, kualitas mutu biji kakao ditentukan oleh bahan tanamannya (klon). Setelah itu Pemeliharaannya. Pada pemeliharaan dua hal yang perlu diperhatikan adalah pemangkasan dan pemupukannya. Faktor selanjutnya yang juga menentukan kualitas biji kakao adalah faktor pengendalian hama penyakit. Ketiga faktor inilah yang disebut dengan manajemen lahan kakao itu tadi. selain manajemen lahan, perilaku pada saat panen dan paska panen pun juga menjadi penting guna peningkatan mutu biji kakao”. Ungakp Alam salah pemateri yang membagi pengalaman mengenai tekhnik dan cara peningkatan kualitas mutu biji kakao.

Selain membicarakan mengenai tatacara peningkatan kualitas biji kakao, pada pelatihan ini juga dibahas mengenai pentingnya koperasi untuk meningkatkan kesejahteraan petani kakao. Banyak keuntungan yang akan didapat petani kakao apabaila ia berkelompok kemudian membentuk koperasinya sendiri, selain untuk peningkatan kapaitas diri, koperasi juga merupakan salah satu wadah perjuangan yang efektif bagi petani kakao untuk bisa merebut peluang dan harga yang adil di pasaran. Sehingga harga tidak lagi ditentukan oleh pedagang. Dengan menjual hasil panen secara bersama melalui lelang kakao yang sudah beberapa kali dilakukan oleh SPBUT maka para petani kakao memiliki posisi tawar yang tinggi dalam menentukan harga. Apalagi jika dibarengi dengan kualitas biji kakao yang memenuhi standard ekspor, maka petani kakao pun secara berama-sama akan bisa menembus harga jual yang sesuai dengan standard ekspor pula.(Tedy)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar