
Alam telah memberikan yang terbaik bagi manusia, apabila kita menghargai dan menjaga keselarasannya maka hasil panen yang melimpah pun bisa didapatkan.
Udara sejuk pegunungan langsung menyambut kedatangan bila kita memasuki Desa Namo Landur kecamatan Namo Rambe. Desa yang sebahagian besar penduduknya berprofesi sebagai petani ini masih berada dalam wilayah administratifnya Kabupaten Deli Serdang.
Air pegunungan mengalir di parit-parit hingga ke petak-petak sawah, begitu segar-begitu jernihnya. Siapapun yang bertandang ke desa ini pastilah akan mengagumi kesuburan tanahnya.
Orang-orang sudah berkumpul di sawah, tangan mereka begitu cekatan mengayunkan arit di batangan padi yang sarat bulir. Hari ini saat panen tiba. ”Mantap kali panennya, padinya berisi, jadi berat kali rasanya” ujar salah seorang yang sedari tadi hilir mudik mengangkat tumpukan padi yang telah di arit.
Sekitar sepuluh orang yang ikut membantu prosesi panen tampak terheran-heran sebab bulir padi hasil panen kali ini lebih berat dan lebih banyak ketimbang yang lalu-lalu. Pak Aditya, tersenyum puas mendapati hasil panen dari lahan setengah hektarnya. Ia tak menyangka hasil panennya akan melimpah, sebab pada lahan setengah hektar yang baru ditanaminya padi itu, ia sama sekali tidak menggunakan pupuk-pupuk pabrikan layaknya sebahagian petani lainnya. Pak Aditya mengaku kalau lahan setengah hektarnya itu ia jadikan demplot percobaan untuk padi organik. Dari demplot itu kemudian ia merasakan bahwa menerapkan pola pertanian yang selaras dengan alam ternyata lebih murah dan lebih gampang, tidak seperti apa yang dibayangkannya dulu. Di sepanjang bantaran bedengan sawahnya, ia sengaja menanam rumput untuk pakan ternak lembunya. Kemudian dari kotoran lembunya, ia membuat pupuk sendiri untuk memupuk lahan pertaniannya. Untuk pembuatan pupuknya pun cukup sederhana. Pak Aditya mengungkapkan, untuk membuat pupuk bagi setengah hektar lahan pertaniannya itu, ia cukup menggunakan sepuluh kilogram kepala ikan busuk yang harganya sekitar tiga rupiah perkilogramnya kemudian ditambah dengan gula sebnayak enam kilogram, lalu ditambah dengan satu goni besar ukuran lima puluh kilogram kotoran lembu. semua bahan tersebut dimasukkan kedalam drum berukuran dua ratus liter air. Dua minggu kemudian pupuk buatan sendiri itupun siap digunakan.
”Ternyata lebih murah apabila kita menggunakan model pertanian yang selaras dengan alam. Di demplot setengah hektar saya ini, setelah saya hitung-hitung, saya hanya membutuhkan sekitar delapan puluh delapan ribu saja untuk membuat pupuk sendiri”
Pak Aditya kemudian menghitung-hitung jika seandainya ia menggunakan pupuk kimia pabrikan seperti kebanyakan petani lainnya, maka untuk pemupukan setengah hektar lahannya, ia harus menyediakan seratus kilogram pupuk SP 36 yang harganya mencapai tiga ribu rupiah perkilogram, kemudian ia harus pula membeli seratus limapuluh kilogram urea yang saat ini mencapai seribu lima ratus rupiah perbulannya. Selain itu, ia juga harus membeli lima puluh kilogram pupuk KCL yang harganya mencapai dua belas ribu rupiah perkilogramnya. Setelah ditotal maka ia harus mengeluarkan uang sebanyak satu juta seratus dua puluh lima ribu rupiah. Coba dibandingkan dengan membuat pupuk sendiri yang hanya menghabiskan sekitar delapan puluh delapan ribu seperti yang telah dilakukan oleh pak Aditya.
Kembali Pada Kearifan Lokal
Sebelum beralih pada pola pertanian yang selaras dengan alam, Pak Aditya mengaku sering kesusahan untuk mencukupi pasokan pupuk bagi lahan pertaniannya. Ia dan beberapa petani lainnya pernah diminta untuk membuat RDKK (Rencana Defenitif Kebutuhan Kelompok) oleh pemerintah tetapi kemudian jumlah pupuk yang didapatkan juga tidak sesuai dengan jumlah pupuk yang dibutuhkannya. Maka untuk memenuhi kebutuhan pupuknya, ia kemudian harus membeli lagi. Pupuk yang terkadang langka di pasaran dan semakin tingginya harga pupuk membuat petani seperti pak Aditya harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk mengolah lahan pertaniannya.
Melihat persoalan itu, kemudian pak Aditya berpikir keras untuk menemukan cara bagaimana ia bisa mengolah lahan pertaniannya tanpa harus mengeluarkan biaya yang tinggi. Kemudian berbekal pengalaman dan pelatihan yang didapatkannya dari Yayasan Bitra Indonesia, pak Aditya kemudian memutuskan untuk kembali pada kearifan lokal yang memang telah disediakan oleh alam
”Orang tua saya petani dan saya semenjak kelas satu sekolah dasar sudah ikut orang tua saya bertani, memang ketersediaan pupuk sering menjadi masalah utama bagi petani sekarang ini, makanya saya mencoba untuk membuat pupuk saya sendiri. Selain jauh lebih murah, bahan-bahan pembuatannya pun tersedia di alam ini.”
Dengan menggunakan pola pertanian selaras alam ini, selain bisa melepaskan pak Aditya dari jeratan pupuk kimia pabrikan yang hanya membuat petani merugi, ia juga bisa meningkatkan hasil jual panennya. Sebab harga beli padi organik selaras alam lebih tinggi ketimbang harga padi yang menggunakan pupuk kimia pabrikan. Dari lahan setengah hektarnya, pak Aditya berhasil memperoleh hasil panen 3 ton 478 kg yang kemudian dijualnya dengan harga Rp. 3500 perkilogramnya. Sementara, berdasarkan pengalamannya ketika masih menggunakan pupuk kimia, dengan hasil panen yang tidak jauh berbeda, ia hanya mampu menjual hasil panennya dengan harga Rp. 2700 perkilogramnya. Selain Pak Aditya, Pak Mardi, petani di Sudirejopun telah merasakan manfaat dari model pertanian selaras alam ini. Dengan menggunakan pupuk buatan sendiri, ia berhasil memperoleh hasil panen sebesar 3 ton 700 kg dari lahan yang juga setengah hektar.
Tidak hanya di Namo landur, kelompok petani di Desa Lubuk Bayas Dusun II kecamatan Perbaungan Kabupaten Serdang Bedagaipun telah beralih ke model pertanian selaras alam. Selain karena biaya produksi yang lebih murah, petani di desa ini mulai menyadari pentingnya faktor kesehatan dalam bertani dan hasil produksi pertanian mereka. Residu kimia dari pupuk dan racun yang mereka semprotkan tiap harinya menyebabkan kesehatan mereka terancam. Itulah kemudian yang membuat kelompok petani di Dusun II Lubuk Bayas ini lebih memilih model pertanian yang tidak menggunakan pupuk dan racun kimia pabrikan.
”Kami sudah tidak lagi menggunakan pupuk dan racun kimia, soalnya tidak baik bagi kesehatan kami dan orang-orang yang mengkonsumsi padi kami nantinya. Lagipula kami bisa buat sendiri pupuk dan racun yang bahan-bahannya bia didapatkan di alam ini” ungakp Susi, salah seorang petani di Dusun II Lubuk Bayas. Untuk membuat pupuk, kelompok petani di dusun II lubuk bayas ini memanfaatkan kotoran lembu. Lembu yang dipunyai kelompok ini mencapai 800 ekor. Untuk hama jeni ulat gulung, mereka menggunakan abu kayu bakaran batu. Sedangkan untuk ulat penggerek daun, kelompok petani di Lubuk Bayas ini menggunakan ramuan tembakau dan daun sirih yang direndam dengan dua liter air selama dua kali dua puluh empat jam lalu di semprotkan ke tanaman.
Model pertanian selaras alam yang diterapkan oleh kelompok-kelompok dampingan Bitra telah mampu membebaskan petani dari jeratan kapitalisme global yang memperdaya petani lewat praktek instan pupuk yang harganya semakin membuat petani jauh dari kesejahteraan dan keberdayaan. Pertanian selaras alam ini lebih menitik beratkan pada upaya bagaimana petani bisa menyelesaikan persoalan pertaniannya dengan menggunakan kearifan dan potensi lokal yang ada dengan tetap menjaga keseimbangan dan kelestarian alam guna peningkatan ketahanan pangan dimasa mendatang. (Teddy)
Tampilkan postingan dengan label alam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label alam. Tampilkan semua postingan
Jumat, 13 November 2009
Selaras Dengan Alam di Namo Landur
Langganan:
Komentar (Atom)

